Enam Kali ditolak Beasiswa dan 6 X tes IELTS membawa saya ke Belanda

JpegMimpi itu bernama : Beasiswa

Jakarta, 11 Oktober 2013

Dear all,

Berikut cerita-cerita mengenai beasiswa ke Belanda. Semoga sukses.

—–

Demikian email yang dikirim salah seorang anggota milis beasiswa sore itu. Iseng, sambil menunggu kereta menuju Depok, saya mengunduh dan membaca lampiran file buku berjudul ‘Laskar Beasiswa’, Sebuah buku perjalanan beasiswa yang digarap oleh PPI Belanda. Menarik, itu kesan pertama saya setelah membaca bebebrapa cerita dalam buku itu. Ditambah lagi, ada beberapa senior saya di UI yang menjadi kontributor tulisan di buku itu. Jadilah buku itu menemani perjalanan commuter saya ke Depok.

Kuliah di Belanda? Sempat terpikir untuk kuliah di negara ini. Terutama saat beberapa dosen saya di Departemen Gizi UI mendapat beasiswa Shortcourse di Wageningen University, salah satu universitas dengan riset Gizi dan makanan terbaik di dunia. Tapi, entahlah. Semenjak tingkat 3, saya sudah bertekad untuk pindah jalur ke departemen Kebijakan Kesehatan dan mengikuti jejak ‘Bapak Ideologis’ saya, untuk kuliah di sebuah kampus ternama di Kota Boston, USA.

16 Mei 2014

Nama – nama pelamar USAID PRESTASI yang dinyatakan lolos seleksi wawancara tahun ini sudah dapat dilihat di …….

Segera saya menuju laman pengumuman seleksi administratif beasiswa Prestasi USAID. Harap-harap cemas sampai akhirnya saya tak menemukan nama saya disana. Sedih? Pasti. Pasalnya, ini adalah beasiswa pertama yang saya ikuti pasca lulus S1. Untuk menyiapkan persyaratannya pun diperlukan waktu hampir 1 tahun, mulai dari belajar TOEFL IBT, sampai rela merogoh kocek jutaan rupiah untuk membeli buku Graduate Record Examination (GRE). Walaupun Beasiswa Prestasi tidak mensyaratkan nilai TOEFL IBT atau GRE, saya berusaha semaksimal mungkin mempersiapkan sekolah ke Amerika. Hari itu, satu kesempatan telah hilang. Namun, setidaknya saya masih punya harapan, saya masih harap-harap cemas menunggu hasil seleksi administratif beasiswa Fulbright yang aplikasinya telah saya kirimkan 15 Maret lalu.

Berbicara tentang aplikasi beasiswa, belajar dari beberapa teman, saya sangat mempersiapkan aplikasi-aplikasi ini dengan matang. Paling lambat sebulan sebelum deadline pengumpulan beasiswa, saya sudah mulai ‘nyicil’ menyelesaikan aplikasi. Prinsipnya adalah ‘zero mistake’ jangan sampai gegara kebodohan atau kesalahan pengisian formulir, aplikasi gagal. Pun dalam tahap draftingnya, saya biasanya konsultasi dengan para penerima beasiswa dan kadang minta mereka mereview aplikasi saya. Tahap terakhir adalah mengecek tata bahasa, biasanya saya meminta teman lulusan Sastra Inggris untuk mereview tata bahasa aplikasi beasiswa sebelum dikirim. Tak jarang saya menginap di kantor demi menyelesaikan aplikasi beasiswa. “ Lagi ngisi formulir beasiswa ya, Mba?” Mbak Yem, Penjaga kantor hapal betul, kalau menjelang deadline, saya biasanya menginap dikantor untuk finalisasi aplikasi atau menyelesaikan administrasi formulir sebelum batas waktu akhir pengumpulan.

Satu bulan kemudian, hasil seleksi administratif Fulbright diumumkan. Berita ini saya ketahui dari beberapa kakak kelas yang juga mendaftar fulbright dan mendapat notifikasi email kelulusan. Saya mulai galau, “Kok dari tadi gak ada email masuk dari Fulbright ya?” akhirnya saya berinisiatif menelpon kantor AMINEF dan menanyakan hasil seleksi beasiswsaya.

“ Maaf Mba, kami hanya memberikan notifikasi email untuk selected candidate, Kalo Mba gak di email, berarti Mba gak lulus tahap ini”. Jlebb, rasanya ingin garuk garuk tanah. Untuk kedua kalinya, saya gagal dalam proses administratif. Padahal, saya sudah berusaha mati-matian untuk beasiswa ini.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba jalur lain, mendaftar di kampusnya dulu, baru mencari beasiswa. Namun,ini terkendala nilai TOEFL IBT saya yang mentok di angka 80 (setara 550), padahal, standar minimal English Requirementnya Harvard atau Johns Hopkins adalah 100 untuk TOEFL IBT atau 7 untuk IELTS.

Mulailah saya gila-gilaan belajar TOEFL IBT. Sampai akhir tahun 2014, saya telah 2 kali mengikuti kursus TOEFL IBT (di English First dan LBI UI Salemba), 1 kali Practice online test ITP seharga 70 USD dan 3 kali test TOEFL IBT. Entah berapa buku TOEFL IBT yang saya beli, mulai dari Cliff, Longman sampai Barron. Entah berapa yang telah saya keluarkan demi memenuhi english requirement. Yang saya ingat, di akhir tahun, gaji saya ludes dan tabungan saya habis terpakai untuk membiayai mimpi kuliah di universitas Avant garde Amerika.

Saya akhirnya pindah jalur. Mentok dengan hasil IBT di angka 85, saya memutuskan belajar IELTS. Mulailah hari-hari saya dipenuhi oleh soal-soal cambridge edisi 1-9, playlist saya berubah menjadi tontonan TedX dan segala macam film ber-aksen british. Juli 2014, di pertengahan Ramadhan, saya mengambil cuti kerja 3 minggu untuk kursus intensif IELTS. Aktivitas saya di 10 hari terakhir Ramadhan, Pagi sampai jam 5 les IELTS sampai kepala keliyengan dan jari pegel latihan writting, malamnya, ke Masjid untuk itikaf, mohon ditunjukkan jalan untuk kuliah di tempat terbaik dan merajut masa depan.

Di akhir tahun 2014, terhitung sudah 2 kali ikut tes IELTS dan nilainya mentok di 6,5. Belum cukup untuk masuk Harvard. Ibu saya pun bahkan mengira saya akan mengambil jurusan Bahasa Inggris, saking bosennya ngeliat saya cas cis cus praktik Speaking di depan kaca dan mondar mandir ikut les English di beberapa tempat. .

“sebab kita tak tahu, bagian yang mana dari ikhtiar kita yang menjadi rezeki kita.. Keep going!”

Pertengahan Juli 2014, saya mencoba peruntungan dengan mendaftar beasiswa Australia Award Scholarship (AAS). Masih setia dengan jurusan Health policy, saya berniat mengambil master by coursework on Health Policy di University Sydney, salah satu universitas yang memiliki hubungan erat dengan tempat kerja saya. Sambil menunggu pengumuman tahap wawancara AAS, saya rajin mengikuti pameran pendidikan Australia dan mensubmit aplikasi ke beberapa kampus di Australia.

November 2014, saat rapat saya menerima email dari AAS. Harap-harap cemas, saya baca email itu,

Dear Zakiyah,

I am writing to inform you that your application was not successful in the 2014/2015 round of the Australia Awards Scholarships.  As you know there are 440 scholarships available in the 2014/15 application round, however this year the competition for shortlisted places was again highly competitive with 3,904 applications received…

Lemas rasanya. Ya Allah, saya bingung harus kuliah dimana. Di US, buat masuk universitas ternama, TOEFL ga memenuhi, di Australia, gagal beasiswa AAS. Apalagi dengan beberapa kabar bahagia dari teman-teman seangkatan dan adik kelas yang sudah berangkat sekolah untuk periode September. Sepertinya, Hidup saya rasanya nelangsa banged saat itu.

Di tengah kegundahan, saya tetap mengusahakan yang terbaik, tetap setia belajar IELTS, dan submit dokumen ke beberapa universitas di Australia serta setia menyimak cerita suka duka penerima beasiswa. Sampai akhirnya, saya kembali membuka kembali buku laskar beasiswa…

Titik cerah dari Buku Laskar Beasiswa PPI Belanda

Mungkin Tuhan menitipkan jawaban kegalauan saya di buku Laskar Beasiswa. “Kenapa Saya gak coba beasiswa di belanda ajah? Toh disana banyak kampus bagus, banyak beasiswa juga. Ada Wageningen University, kampus yang sering disebut-sebut dosen saya karena kualitas riset dan inovasi di bidang Food and Nutrition”

Mulailah saya berburu informasi mengenai beasiswa Belanda, tentang NFP, STUNED, Orange Tulip Scholarship, dll. Pertengahan Desember 2014 saya mendaftar Wageningen University dan mendapat notifikasi saya diterima dan mendapat LoA Unconditional di akhir Januari 2015. Satu titik cerah mucul.

Perlahan, mulai banyak jawaban dari beberapa kampus di Australia. Maret 2015, saya mendapat LoA dari Adelaide, Quensland dan Sydney University. Alhamdulillah, saya semakin semangat. Pertengahan Maret 2015, saya mendaftar beasiswa NFP dan STUNED. Pertengahan April, saya mendapat email notifikasi dari NFP:

Dear candidate,

 You have submitted an application for an NFP fellowship. Unfortunately you were not nominated by Wageningen University for an NFP fellowship.

Lagi-lagi penolakan. Ternyata, saya belum sepenuhnya menghabiskan jatah gagal saya. Beberapa hari setelah mendapatkan pengumuman NFP, saya mendaftar Beasiswa LPDP berbekal LoA wageningen dan beberapa kampus di Australia. Akhirnya, 11 Mei 2015 saya sampai pada tahap seleksi wawancara dan LGD LPDP. Harap-harap cemas, menanti pengumuman LPDP.

Beasiswa STUNED? Selepas gagal mendapatkan NFP, saya tidak berharap banyak dari STUNED. Seleksi yang sangat ketat ditambah pendaftar yang membludak dan rumor yang beredar bahwa beassiwa ini lebih memprioritaskan PNS membuat saya pasrah dan tidak terlalu berharap banyak. Pun saat itu, saya sedang mengerjakan project konferensi tentang Tobacco Control.

12 Mei 2015

Selepas Dhuha di kantor, saya mengecek pesan masuk, ternyata ada satu pesan dari Nuffic Nesso :

Dear Zakiyah,

 Thank you for your application for a StuNed Scholarship 2015. Herewith we would like to inform you that you have been selected to receive the scholarship.

Rasanya tak percaya, saya sampai membaca email itu 3 kali dan memastikan bahwa email itu menyatakan saya lolos seleksi beasiswa STUNED 2015. Setelah 6 kali mendaftar beasiswa, 4 kali ikut tes persiapan bahasa, 6 kali ikut TOEFL dan IELTS, akhirnya kabar menyenangkan itu datang juga..Alhamdulillah

“Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani),yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit”
-Ali bin Abi Thalib-

24 September 2015, Schipol Airport

Pagi itu, sesampainya di Schipol, saya membuka Sebuah pesan masuk dari sahabat saya:

Finally, welcome in Netherlands, Dear eke

The land where your dreams will grow up, The land which Allah set as the best place to take master degree”

Saya menangis. Ternyata Belanda adalah jawaban dari penantian penuh harap 3 tahun ini.

There will be a time, you smile when you remember those things and feel how’s Allah love you with all the stories happened.

Wageningen City, Menjelang Shubuh, 28 September 2015

Acknowledgment:

Cerita ini dipersembahkan untuk PPI Belanda, organisasi yang secara tidak langsung, menumbuhkan harapan saya untuk kuliah di Belanda, juga untuk dr.Adang Bachtiar, ScD, seorang Bapak, yang tak pernah lelah memberikan  rekomendasi untuk meraih beasiswa, meneruskan sekolah ke luar negeri.

 

Ditulis oleh Zakiyah Eke, Wageningen University

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: