Hari Jantung Sedunia: Indonesia dan Pengidap PJK

Sejak 1992, penyakit jantung koroner (PJK) menjadi penyebab kematian pertama di Indonesia. Bahkan, semakin lama penderitanya pun semakin muda. Hal itu diungkapkan oleh spesialis jantung RSUD dr. Soetomo Prof. Dr. dr. Rochmad Romdoni, Sp.PD. Sp.JP(K). dalam rangka Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September.

Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut menerangkan bahwa setiap harinya selalu ada pasien baru yang didiagnosis terkena penyakit jantung koroner (PJK) di RSUD dr. Soetomo. “Setiap hari bisa ada hingga 20 pasien baru, dan ini bukanlah berita baik,” ujar dokter yang akrab disapa Romdoni tersebut.

PJK memang menjadi momok ditengah-tengah gaya hidup masyarakat kita yang buruk. Sayangnya, berita yang tak baik ini masih menjadi kabar yang biasa. “Coba ingat, apa biasa mendengar kabar seseorang meninggal karena serangan jantung? Seharusnya, hal itu dapat menjadi peringatan supaya kita berhati-hati menjaga kesehatan jantung,” ujarnya.

“Padahal,” lanjut Romdoni, “PJK mempunyai faktor resiko yang lebih banyak dapat dirubah daripada faktor resiko yang tidak bisa dirubah. Faktor resiko yang dapat dirubah dan dicegah diantaranya adalah merokok, kolestrol, kontrol tekanan dan kadar gula darah, stres, faktor psikososial, dan obesitas. Semua faktor resiko di atas sejatinya dapat dikendalikan. Misalnya, dengan tidak merokok, menghindari stres, dan mengkonsumsi makanan yang sehat.”

Sedangkan risks factor (faktor resiko) yang tidak dapat dirubah hanyalah riwayat keturunan, usia, ras, dan gender. Semakin tua usia memang semakin tinggi faktor resiko mengidap suatu penyakit. Sedangkan gender, Romdoni tidak menampik laki-laki lebih beresiko mengidap PJK. Hal ini berkaitan dengan hormon estrogen yang dimiliki perempuan. “Jadi, ketika perempuan memasuki menopause faktor resikonya akan sama dengan laki-laki, karena sudah tidak memproduksi hormon estrogen lagi,” tegasnya.

Kerusakan otot jantung merupakan faktor diidap PJK. Hal ini disebabkan oleh terhentinya pasokan darah akibat satu atau lebih pembuluh darah koroner tersumbat dengan gumpalan darah. “Yang perlu diketahui, serangan jantung sering terjadi pada pukul 04.00 sampai 10.00 wib,” ujar mantan direktur RSU Haji tersebut. Penyebabnya, karena di pagi hari jumlah adrenalin yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal akan lebih tinggi. Itu dapat memicu pecahnya lesi aterosklrosis atau plak yang menyumbat.

Romdoni sangat menganjurkan semua orang untuk aware terhadap kondisinya. Khususnya, apabila telah merasakan sakit di bagian dada harus segera melakukan deteksi dini. Bila penyumbatannya masih 50 persen, masih dapat diberi obat-obatan. Namun, bila penyumbatannya mencapai 70 persen harus melakukan pemasangan ring jantung.

Naasnya, usia pasien penderita PJK semakin muda. Pasien termuda yang pernah ditangani Romdoni berusia 22 tahun. “Rupanya pasien saya itu adalah perokok berat. Jadi, tidak peduli muda atau tua harus menjauhi faktor resiko yang dapat dicegah,” ucapnya. (DLA/AA)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Anugrah Abiyyu

Buat sejarah atau jadi sejarah! LC2019

Leave a Reply

%d bloggers like this: