Hari Tani : Jumlah Petani di Indonesia Terus Menurun

Ari Aji Cahyono

Newcastle Uni, UK, Sustainable Agriculture and Food Security

Tanggal 24 September setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Tani Nasional di Indonesia. Selain sebagai pengingat mengenai vitalnya pertanian bagi kedaulatan bangsa, Hari Tani Nasional pun dapat dijadikan pelecut dalam pengembangan teknologi pertanian di tanah air.

Di dunia internasional sendiri, wacana mengenai sustainable agriculture atau pertanian berkelanjutan sedang gencar-gencarnya dikampanyekan. Secara umum, di dalam pertanian terdapat tiga aspek utama, yaitu aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Pertanian berkelanjutan sendiri merupakan pengelolaan pertanian yang menghasilkan profit tinggi namun dengan dampak kerusakan lingkungan yang seminimal mungkin, sehingga ketiga aspek dapat berjalan seimbang. Selain itu, dengan adanya sistem ini diharapkan dapat menghasilkan pangan yang cukup memenuhi kebutuhan dunia dan juga dapat mentransformasi pertanian konvensional yang kurang ramah lingkungan menuju pertanian yang eco-friendly.

Kita patut bersyukur karena negeri kita tercinta dikaruniai alam yang sangat mendukung pertanian. Suhu udara yang hangat, stabil dan tidak pernah menyentuh angka nol atau minus, sinar matahari yang bersinar terang, kelembaban yang mendukung, serta tanah yang super subur menjadikan Indonesia dapat memproduksi berbagai hasil pertanian dalam skala besar. Sebagai contoh, kita masuk dalam sepuluh besar produsen padi dan kakao terbesar dunia. Hal ini juga dapat dikatakan sebagai salah satu prestasi Indonesia dalam bidang pertanian yang patut kita banggakan.

Salah satu problem utama Indonesia dalam bidang pertanian adalah pada sumber daya manusianya. Berdasarkan sensus pertanian, jumlah petani di Indonesia cenderung mengalami penurunan, padahal petani sangat dibutuhkan dalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Masalah lain adalah pada sarana produksi pertanian. Alat dan mesin pertanian di Indonesia masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan negara-negara maju, khususnya bagi para petani gurem yang memiliki lahan kecil atau dibawah setengah hektar.

Dukungan pemerintah sangat diperlukan oleh para petani lokal, terutama dalam memproduksi komoditas pangan pokok seperti sayur, padi, dan buah yang menyediakan pangan bagi masyarakat. Sebenarnya, Saat ini pun presiden sedang menggalakkan program untuk meningkatkan lahan pertanian. Namun hal ini perlu disinkronisasi dengan lingkungan. Jangan sampai pembukaan lahan baru malah merusak ekosistem, seperti dengan menebang hutan secara masif untuk dijadikan tempat bercocok tanam. Tidak hanya dari pemerintah, kita pun dapat turut berperan serta melalui gerakan cinta tani. Melalui gerakan ini, kita harus memberi semangat dan motivasi kepada generasi muda agar tertarik pada kegiatan bercocok tanam. Saya ingat dulu waktu kecil saya sering bermain di sawah dan di kebun-kebun, tetapi hal itu sangat jarang dilakukan oleh generasi muda sekarang. Jadi mulia sekarang kita bisa mengajak anak-anak atau remaja untuk bersama-sama melakukan praktik bercocok tanam di sawah. Melalui kegiatan sederhana ini mereka mungkin akan terinspirasi atau lebih mencintai bidang pertanian.

Mari kita wujudkan ketahanan pangan melalui pertanian berkelanjutan.

 

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: