Hasil Diskusi International Day of Charity bersama RRI

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan International Day of Charity atau Hari Amal Internasional untuk diperingati pada tanggal 5 September setiap tahunnya sejak tahun 2012. Tujuan utama dirayakannya Hari Amal Internasional adalah untuk meningkatkan minat dan kesadaran sesama dalam kontribusi kembali ke komunitas.

Di dunia telah berdiri berbagai organisasi nirlaba yang bergerak di bidang amal. Manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pihak pertama yang langsung menerima kontribusi, tetapi juga meningkatkan citra sosial suatu negara.

Indonesia memiliki satu program unggulan merangkul seluruh masyarakat dalam kegiatan yang dinamakan gotong royong. Gotong royong juga menjadi salah satu bentuk kegiatan kontribusi kembali ke masyarakat. Untuk lebih baik lagi, Indonesia bisa meningkatkan kegiatan amal dalam skala yang lebih besar.

Nadi Guna Khairi, berkesempatan berdiskusi dengan Radio Republik Indonesia (RRI) dalam siaran radio Youth Forum dengan topik International Day of Charity pada tanggal 5 September 2016 lalu. Mahasiswa yang sedang kuliah jurusan bisnis di Universitas Redland, California, Amerika Serikat ini memaparkan mengenai strategi Amerika Serikat dalam meningkatkan amal dari perusahaan dengan mengandalkan sistem perpajakan. “Organisasi laba yang memberikan kontribusi material ke organisasi nirlaba dapat menggunakan sertifikat tanda amal untuk meringankan pajak tertanggung,” jelas Nadi.

Menurut Nadi, kegiatan beramal tidak hanya dalam bentuk material, juga dapat dalam bentuk waktu dan jasa. Sebagai seorang pelajar, banyak yang dapat dilakukan seperti menjadi sukarelawan atau sesederhana menulis hashtag “International Charity Day”di media sosial. Seperti yang digelutinya sekarang, kontribusi Nadi adalah sebagai Sekretaris Jendral Permias (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Amerika) dan Presiden Permias Los Angeles.

Ketika pihak RRI bertanya mengenai kontribusi Nadi setelah menyelesaikan pendidikan, ia menjawab bahwa akan berkontribusi dalam mengembangkan teknik informatika di Indonesia, terutama untuk kalangan yang belum mengerti sama sekali mengenai cara mengoperasikan komputer, internet, dengan titik berat pada daerah terisolasi atau terpencil. “Harapannya masyarakat dapat tetap terhubung dengan komunitas luar dan secara luas tanpa terkendala lokasi sehingga dapat mendukung perkembangan ekonomi digital di Indonesia,” jelas Nadi.
(Red, citra / Ed, pw)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: