Hasil Diskusi International Day of Non-violence bersama RRI Voice of Indonesia

“Anti kekerasan tidak sesederhana lawan kata dari kekerasan. Anti kekerasan memiliki makna lebih, yaitu bagaimana cara agar semua manusia hidup dalam kedamaian, menghindari konflik, atau mampu mengatasi konflik tanpa melakukan sesuatu yang dapat membahayakan maupun merugikan orang lain,” sebuah ujaran serentak disuarakan dari dua mahasiswa Indonesia dalam tema diskusi International Day of Non-violence bersama RRI Voice of Indonesia pada hari Senin (03/10/16) pukul 10.30 dan 11.30 WIB.

Hari International Day of Non-Violence ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2007 untuk diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Berbicara tentang sejarah singkat, hari International Day of Non-Violence sebenarnya diambil dari hari ulang tahun Mahatma Gandhi yang telah secara sukses mengantarkan India menuju hari kemerdekaannya dengan menjunjung tinggi nilai damai, toleransi, dan anti kekerasan.

Shirin Ebadi, wanita asal Iran yang juga sebagai aktivis HAM, mengajukan agar diperingatinya hari anti kekerasan. Respon ini menarik perhatian dari Partai Kongres di India (Ahimsa) dan menginspirasi PBB untuk menetapkan hari International Day of Non-Violence pada tanggal 2 Oktober. Tujuan dari peringatan hari tersebut adalah sebagai pengingat yang sangat penting dalam anti kekerasan terutama dalam bidang politik dengan tidak melupakan aspek kehidupan lainnya.

Dalam siaran Youth Forum bersama RRI Voice of Indonesia, Citra Aryanti berkata , “Budaya anti kekerasan bukan hanya untuk menciptakan dunia yang bebas perang, tetapi memiliki makna lebih komprehensif seperti menumbuhkan rasa kemanusiaan, kebersamaan, dan menghormati martabat sesama manusia. Dengan hal ini, dunia tanpa kekerasan akan membuat makna baru bagi kehidupan seluruh manusia.”

“Seluruh masyarakat harus paham bahwa kehidupan manusia tidak dibagi menjadi politik, sosial, agama, tetapi semua aspek itu harus dipandang secara komprehensif untuk menumbuhkan semangat saling menghormati satu sama lain. Kata ‘terima kasih’ adalah esensi dasar untuk menumbuhkan nilai-nilai anti kekerasan lainnya,” lanjut mahasiswi yang sedang mempersiapkan ujian penyetaraan kedokteran di Amerika Serikat tersebut.

Citra menambahkan, ”Untuk mencapai skala global dari anti kekerasan, nilai-nilai anti kekerasan harus mulai diterapkan dari diri sendiri. Seseorang dapat mencapai nilai tersebut dengan beberapa hal, misal, lebih banyak mendengar daripada berbicara, membudayakan minta maaf dan memaafkan, dan kontrol emosi yang baik dengan menghindari ekspresi kemarahan. Selain itu, saya senang tema hari anti kekerasan tahun ini yang menempatkan fokus pada lingkungan di mana manusia harus memperlakukan lingkungan sebagaimana mestinya.”

Masih bersama RRI Voice of Indonesia dengan program siaran lain bertajuk KaMU, Adam Dwi Baskoru pun ikut ambil bicara soal hari International Day of Non-Violence ini. “Dalam Agama Islam, diajarkan untuk sebisa mungkin menghindari kekerasan. Konflik adalah sumber dari perilaku kekerasan. Bila ada suatu masalah, janganlah menggunakan emosi untuk menyelesaikannya. Cobalah untuk mengatasi konflik dengan kepala dingin atau tanpa tindak kekerasan,” terangnya. Perilaku anti kekerasan pemuda tidak hanya diaplikasikan dalam hari ini saja, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa yang sedang menggeluti bidang Islamic Law di Universitas Al-Azhar Mesir itu menyerukan bahwa, “Mahatma Gandhi berhasil menyatukan masyarakat India dengan tanpa kekerasan. Ia bahkan tidak pernah marah saat dicela orang lain. Pemuda harus meniru apa yang telah dilakukan oleh Mahatma Gandhi, bisa juga dengan mencurahkan dalam bentuk tulisan atau media lainnya. Dengan ini, pemuda dapat menjadi tulang punggung suatu negara maupun dunia dalam menciptakan suasana anti kekerasan.“

Kedua narasumber diatas memiliki pandangan yang sama bahwa kekerasan bersumber dari konflik. Konflik dapat menjadi suatu perilaku yang membuat seseorang acting out dalam bentuk ekspresi kemarahan atau lebih ekstrimnya lagi melakukan tindak kekerasan fisik. Kondisi ini dapat mempengaruhi bahkan sampai skala global. Edukasi dapat menjadi kiat untuk kontrol diri, manajemen konflik dalam ruang lingkup anti kekerasan.

Menuju Indonesia yang lebih damai dan tanpa kekerasan secara berkelanjutan, sudah barang tentu menjadi harapan seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali oleh Adam dan Citra. Indonesia dapat menciptakan lebih banyak wadah bagi aktivis non kekerasan dalam satu hati, dan satu hari pada satu waktu dalam visi dan misi sama dalam menciptakan budaya anti kekerasan. Selain itu, program kesehatan hendaknya tidak hanya terfokus pada satu aspek seperti perawatan penyakit, tetapi perlu memperhatikan aspek psikologis karena aspek itulah yang mendalangi semua perilaku baik kekerasan maupun anti kekerasan. Kemudian, ciptakan perang terhadap narkoba karena ini menjadi suatu ketidakamanan yang sudah mengglobal.

“Sosial media dapat dijadikan wadah gerakan sosial dan revolusi di seluruh dunia. Banyak aktivis yang memanfaatkan media sosial untuk merangkul aktivis lain dalam tujuan meningkatkan pesan anti kekerasan dalam isu-isu kontroversial yang kemudian tidak disangka dapat mempengaruhi politik dan kehidupan sosial,” terang kedua mahasiswa tersebut mengakhiri sesi diskusi dengan RRI Voice of Indonesia. (Red CA, Ed AASN)

 

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: