Hasil Diskusi “World Food Day” bersama RRI Voice of Indonesia

Hari Pangan Dunia: Teknologi dan pendidikan pangan

Hari Pangan Dunia atau World Food Day dirayakan setiap tahunnya pada 16 Oktober, bertepatan dengan tanggal berdirinya Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Hari tersebut dirayakan serentak oleh banyak organisasi yang terkait dengan ketahanan pangan. Hari Pangan Dunia tahun ini datang dengan tema “Iklim berubah, begitu juga harusnya makanan dan pertanian.”

Pada hari Senin (17/10/16), PPI Dunia menghadirkan dua mahasiswa Indonesia masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai World Food Day. Dalam program KAMU (KAmi yang Muda), Rajiansyah mahasiswa S2 Jurusan Computer Science and Management di Wroclaw University of Technology Polandia,menjadi narasumber kita. Sedangkan dalam program Youth Forum, Renzky Kurniawan, mahasiswa S1 Jurusan Culinary Management Majoring in Italian Cuisine di KDU University College dan ALMA La Scuola Internazionale,Cucina Italiana, juga bergabung menjadi narasumber kali ini.

Dalam program KaMU, Raji memaparkan bahwa hari Pangan Sedunia adalah simbolis kepedulian dan penyetaraan untuk menciptakan kondisi ketersediaan pangan yang cukup tanpa adanya kelaparan. “Seperti tema yang diusung tahun ini, makanan dan agrikultur harus beradaptasi dan tetap berkembang seperti adanya perubahan iklim,”terang Rajiansyah

“Indonesia sebenarnya adalah surga pangan. Iklim tropis membuat seluruh tanaman dan buah dapat tumbuh dengan baik. Masalah yang ada hanya pada sistem pengelolaan dan teknologi pangan. Selain itu, masyarakat harus cukup cermat dalam memilih bahan pangan untuk mencegah kondisi kekurangan pangan. Misal, bagi warga Indonesia masih menganggap bawha jika tidak makan nasi berarti ‘tidak makan.’ Padahal sumber karbohidrat bisa ditukar dengan kentang, roti, dan sebagainya. Seperti di Polandia, sumber karbohidrat bisa berbeda-beda dari gandum untuk sarapan, kentang untuk makan siang, dan roti untuk makan malam,”papar mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Polandia.

Dalam Youth Forum, Renzky menyatakan bahwa pangan tentunya dalam bentuk makanan adalah salah satu bidang yang tidak dapat terpisah dari kehidupan manusia. “Mempelajari bidang kuliner tidak hanya belajar memasak, tetapi juga mempelajari gastronomi dari makanan itu sendiri. Saya memiliki ketertarikan dalam mempelajari kuliner Italia untuk memperkaya pengetahuan selain kuliner Indonesia. Makanan Indonesia memiliki lebih banyak bumbu dan rempah yang lebih banyak dibandingkan makanan dari Italia,” terang mahasiswa tingkat akhir di bidang kuliner tersebut.

“Dalam pengembangan kuliner di Indonesia, perlu adanya kursus atau pendidikan khusus mengenai kuliner Indonesia. Walaupun begitu, masalah utama dalam pengembangan kuliner Indonesia adalah tidak seluruh kaum muda menyukai kultur, lebih spesifik lagi ke kuliner Indonesia. Padahal, kuliner Indonesia sudah cukup dikenal di dunia luas,”ungkap Renzky yang juga menjabat sebagai Chief Deputy of Education Indonesian Chef Association Kalimantan Timur. “ Seperti kuliner dari Kalimantan Timur, rasa atau bumbu unik makanannya dapat menjadi sesuatu yang dapat dikenalkan di tingkat dunia. Misal, nasi kuning dan gami bawis (ikan gabus yang dimasak dengan saus manis pedas).”

Baik Rajiansyah dan Renzky menyatakan bahwa pangan atau kuliner Indonesia masih harus tetap dikembangkan. Perlu pengembangan pendidikan dan teknologi pangan atau kuliner yang lebih lanjut untuk mendukung sistem ketahanan pangan dan tentunya membawa kuliner Indonesia lebih dikenal lagi di dunia internasional.

(CA/AASN )

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: