Hasil Siaran Diskusi Kampung Halaman: “Sapa dari Australia” bersama RRI Pro3

Macet,” salah satu kata yang diungkapkan Rifa Fatharani menjawab pertanyaan salah satu penanya mengenai apa yang dikenal masyarakat Australia dari Indonesia.

Program siaran Kampung Halaman “Sapa Dari Negeri Koala” yang telah on-air di RRI Pro3 88.8 FM pukul 21.20 WIB pada Minggu, 9 Oktober 2016 ini banyak menceritakan pengalaman menarik dari narasumber asal PPI Australia tersebut, Rifa Fatharani.

Selain kata macet yang dikenal warga negeri koala ini, mereka juga mengenal bahwa Indonesia adalah negara yang hebat dan unik. “Kata mereka (warga Australia) Indonesia memiliki populasi muslim terbanyak. Juga ada penegak hukum Syariah. Dan uniknya kok di sini (Indonesia) ada yang pakai jilbab, ada juga yang tidak pakai jilbab. Kemudian kok ada yang berkultur Cina malah,” papar mahasiswi Master of International Relations, Australian National University ini.

Juga warga Indonesia memiliki sikap yang baik terhadap warga Australia. “Mereka terkenal ramahnya. Orang Indonesia benar-benar sangat ramah,” tambahnya.

Tapi di mata warga negeri kangguru ini pasti mengenal Indonesia dari kata Bali saja. Padahal aslinya Indonesia itu luas. “Pasti Bali yang mereka kenal. Makanya itu, orang Indonesia selalu mempromosikan negaranya seperti batik biar tidak hanya tahu Bali saja,” pintas wanita asal Jakarta tersebut.

Berada di negeri tetangga memang memiliki korelasi pemahaman antarnegara yang baik. Di antaranya ia lebih mengetahui perbandingan antarnegaranya. “Mereka di sana individualis. Juga circle pertemanan mereka tidak se-komunal Indonesia. Dan di Canberra emang sepi paling hanya dari  pemerintahan juga pelajar. Berbeda dengan Sydney yang pas untuk para turis,” jelas wanita yang sedang mukim di Canberra, Australia ini.

Selain itu Luna selaku host juga menanyakan apa yang Rifa lakukan dikala sedang jenuh di sana. “Kalau lagi bete, bisa hiking dan ketemu kangguru di atas.”

Dan yang tak kalah menariknya, September lalu tanggal empat telah diadakan sebuah festival yang memperkenalkan Indonesia di Canberra. Merupakan kerjasama cabang dan ranting PPI Australia dengan organisasi mahasiswa kampus Australian National University (ANU) bernamakan “Pasar Rakyat (Indonesian Festival)”. Dengan menghadirkan beberapa hal yang khas dari Indonesia seperti kuliner, tarian daerah, dan akustik.

“Kemarin aku dan kawan-kawan Indonesia masak bakso, batagor, dan indomie kornet yang mudah dimasak serta dibagikan gratis. Juga kita menampilkan tarian daerah. Aku kemarin menari Narojeng (tari Betawi). Selain itu, tari poco-poco juga ada,” kenang Rifa yang ikut berkontribusi.

Tujuan dari acara ini tentu saja untuk mengakrabkan antarsesama di Australia. “Acara di Canberra lumayan ramai padahal sepi di sana. Sampai kehabisan makanan malah. Dan Gara-gara ada acara ini, orang-orang Australia tidak memandang Indonesia dari satu sisi aja, misal Bali. Aslinya Indonesia luas,” tambahnya.

Nama acara ini awalnya tidak langsung “Pesta Rakyat (Indonesian Festival)” melainkan “Pasar Senggol”. “Biar lucu pas bahasa Inggrisnya; The Dumping Market. Kemudian diganti menjadi ‘Indonesian Festival‘ biar lebih merakyat,” kata Rifa sambil tersenyum yang diiringi tawa kecil Luna.

(Red:Adam/ed:F)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

%d bloggers like this: