Hasil Siaran “Hari Hak Asasi Manusia” bersama RRI Voice of Indonesia

Hari Hak Asasi Manusia: Hargailah perbedaan pendapat

Hari Hak Asasi Manusia (HAM) diperingati setiap tanggal 12 Desember sebagai bentuk penghormatan terhadap proklamasi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948 oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di Indonesia, pengaduan paling banyak adalah mengenai hak atas kesejahteraan, seperti sengketa kepemilikan tanah dan kepegawaian.

Pada hari Senin (12/12/16), PPI Dunia menghadirkan dua pelajar Indonesia masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai Hari Hak Asasi Manusia. Dua mahasiswa tersebut adalah Leroy Christian Purnama, mahasiswa International Business di Universitas Haaga-Helia, Finlandia, dalam program Youth Forum dan Patricia Iriana, mahasiswi Political & Social Cooperation and Development di Universitas Della Calabria, Italia dalam program KAMU (KAmi yang Muda).

“Edukasi adalah sesuatu kesempatan yang sangat berharga yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Tidak ada alasan untuk meninggalkan sekolah apalagi karena bully atau perkara lainnya. Bullying di sekolah sudah merupakan pepatah lama yang termasuk kasus pelanggaran HAM. Peran guru sangat penting dalam meminimalisir hal ini untuk menciptkan lingkungan sekolah yang nyaman dan kondusif,” terang Leroy,mahasiswa yang sedang melanjutkan studinya di Finlandia tersebut.

“Sebagai seorang pemuda, kita harus paham mengenai makna dan cara menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Pertama kita harus tahu bagaimana cara menghargai diri sendiri dan kemudian yang paling mendasar adalah menghargai orang lain, misalnya menghargai teman yang memiliki pendapat berbeda  dalam suatu hal,” tegas Leroy dalam program Youth Forum.

“Perbedaan sistem penghormatan pemerintah terhadap Hak Asasi Manusia memang lebih baik di Italia dalam konteks lebih memberikan kesempatan untuk aktualisasi diri,” lanjut  Patricia, mahasiswi yang sedang melanjutkan studinya di Italia tersebut.

“Hendaknya seorang harus selalu memperhatikan toleransi terhadap hak orang lain ketika mengutarakan pendapat. Teruslah membangun dari pribadi sendiri untuk membentuk karakter yang lebih baik dan positif. Dalam bentuk pendapat berupa demonstrasi, itu lazim tetapi harus tetap didasari dengan rasa tanggung jawab dengan tidak melanggar hak asasi orang lain, dan tetap dalam satu rasa persatuan NKRI,” terang Patricia dalam program Kami yang Muda.

Baik Leroy maupun Patricia menyatakan bahwa, perkembangan dunia maya tidak terbendung dalam memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap hal positif dan negatif dalam cara HAM. Solusi yang paling tepat adalah edukasi agar seseorang secara individual tidak terpengaruh dengan hal-hal negatif yang disodorkan. Peran keluarga juga penting dalam menanamkan hal-hal positif dan cara menyikapi sesuatu.

Dengan ini, akan membentuk masyarakat yang bersikap cerdas dalam beropini di dunia maya.

(CA/AASN)

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: