Hasil Siaran RRI Hari Bela Negara: Perspektif Sejarah untuk Membangun Negara

Tanggal 19 Desember setiap tahunnya diperingati sebagai salah satu hari yang bersejarah, yaitu Hari Bela Negara. Tepat pada tanggal yang sama di tahun 1948, Indonesia berjuang lagi dengan membentuk Pemerintahan Darurat untuk melawan ancaman dari penjajah. Pada tahun ini, tugas berat yang harus diatasi bukanlah dari berperang melawan penjajah, tetapi berperang mengatasi kemiskinan. Sayangnya, hingga saat ini peringatan Hari Bela Negara tidak terlalu populer seperti hari-hari besar lainnya. Pemerintah diharapkan dapat berperan lebih dalam mempromosikan hari bersejarah ini, khususnya kepada pelajar sejak dari bangku sekolah dasar.

Pada hari Senin (19/12/16), PPI Dunia menghadirkan dua pelajar Indonesia dalam dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai Hari Bela Negara. Egtheasilva (Tessa) Artella (Master of Work, Organization, and Personnel Psychology di Universidad de Valencia, Spanyol) menjadi narasumber dalam program Youth Forum sedangkan Gustika Jusuf-Hatta (B.A. War Studies di King’s College London, UK) menjadi pembicara dalam program KAMU (KAmi yang Muda).

“Hari Bela Negara adalah suatu hari yang sangat penting untuk diperingati dan diaplikasikan dalam kehidupan sekarang. Makna bela negara tidak hanya berbicara mengenai militer, tetapi lebih daripada itu, khususnya bagi pemuda, dapat berkontribusi dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki,” terang Tessa, mahasiswi yang melanjutkan studinya di Spanyol tersebut.

whatsapp-image-2016-10-02-at-22-52-14

“Sebagai pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri, partisipasi terhadap penyelenggaran acara kultural Indonesia juga merupakan bentuk pertahanan negara. Begitu juga partisipasi sebagai mentor atau motivator dalam organisasi seperti PPI atau Sahabat Beasiswa. Selain itu, pengembangan aplikasi kuis mengenai pahlawan dan sejarah dapat menjadi salah satu bentuk unik dalam menyediakan pengetahuan terhadap generasi muda,” lanjut Tessa.

Sementara itu dalam program Kami yang Muda, Gustika memaparkan, “perjuangan di Hari Bela Negara memiliki nilai memorial yang sangat sakral bagi bangsa Indonesia. Tidak benar bahwa tidak ada semangat bela negara dalam hati setiap pemuda Indonesia, hanya saja perlu lebih digali lagi.”

Bela negara tidak hanya dapat dilakukan dengan berada di Indonesia. Walaupun menempuh studi di luar negeri, dengan menjadi representatif Indonesia di organisasi dunia juga merupakan suatu hal yang bernilai tinggi,” tambah mahasiswi yang sedang berkuliah di Inggris ini.

“Pemberlakuan wajib militer tentunya memiliki banyak sisi positif. Selain memberikan pengetahuan yang lebih mengenai sistem militer. Sistem ini lebih baik diberlakukan dengan sistem sukarela, bukan dalam konteks wajib. Diharapkan juga sukarela militer ini diperkenalkan secara dini sehingga maknanya dapat lebih dipahami,” lanjutnya.

Baik Tessa maupun Gustika menyatakan bahwa semangat bela negara dan nasionalisme harus dimulai dari diri sendiri. Sejarah dapat menjadi ilmu dalam mengembangkan Indonesia dari berbagai sisi ke arah yang lebih baik lagi.

(CA/Ed )

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: