Hilangkan Stigma Negatif Terhadap Penyakit Kusta

Pada hari Senin (23/1/17), PPI Dunia menghadirkan dua mahasiswa Indonesia masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai Hari Kusta Sedunia. Dua mahasiswa tersebut adalah I Putu Yuda Hananta (Ph.D Dermatovenereology di University of Amsterdam) dalam program Youth Forum dan Christian Angkasa (Dermatovenereology di Chongqing University) dalam program KAMU (KAmi yang Muda).

“Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium lepra pada kulit dan saraf tepi. Penyakit ini tampaknya dalam tahap “terlupakan” akibat kurangnya ekspos terhadap eksistensi penyakit ini. Padahal, kasus kusta di Indonesia masih cukup tinggi,” terang Yuda dalam Youth Forum.

“Memang kusta tidak atau sangatlah jarang menyebabkan kematian, tetapi penyakit ini menyebabkan kecacatan. Penderita kusta akan kehilangan kesempatan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya bahkan butuh pertolongan,” terang mahasiswa yang juga tergabung dalam PPI Belanda tersebut. “Terlepas dari hal tersebut, kusta dapat dicegah kelanjutannya dengan kombinasi antibiotik dalam 6-12 bulan walaupun tidak 100% reversibel. Perlu tidaknya isolasi penderita kusta masih kontroversial, di mana diketahui bahwa bakteri M. lepra kebanyakan menular melaui droplet pernafasan, yang dapat dicegah dengan pemakaian masker,” lanjut Yuda.

“Dengan terapi yang baik tentunya juga angka penularan penyakit kusta sangat rendah. Penderita kusta memiliki hak untuk hidup layaknya manusia biasa, jauh dari diskriminasi yang ada. Kaum muda harus menumbuhkan kesadaran sosial masyarakat mengenai hal ini sehingga stigma negatif terhadap kusta teratasi,” ungkap Christian dalam siaran Kami Yang Muda.

“Terapi kusta sendiri dapat diakses mulai dari sistem pelayanan kesehatan primer, seperti puskesmas. Kendala menggunakan fasilitas terapi ini sebenarnya dibentengi akibat masyarakat enggan memeriksakan dirinya. Hal in dapat diefektifkan dengan edukasi yang lebih baik mengenai kusta kepada masyarakat awam. Selain itu, penyederhanaan sistem administrasi asuransi kesehatan akan lebih meningkatkan masyarakat yang datang ke pusat pelayanan kesehatan,” jelas Christian.

Baik Yuda dan Christian menyatakan bahwa pencegahan dan diagnosis dini adalah kunci dalam eradikasi penyakit kusta. Bila sudah dalam tahap lanjut, terapi antibiotik tidak bisa secara total mengembalikan fungsi saraf yang telah rusak. Selain itu, perlu program rehabilitasi yang lebih baik untuk penderita kusta. Mereka sudah mengalami kecacatan dan perlu dukungan moral yang lebih untuk terus bangkit dalam kehidupan. Mereka berharap bahwa pemerintah dapat menemukan solusi mengenai hal ini. Kusta bukan penyakit yang untuk ditakuti dan dihindari tetapi harus diatasi.

 

(CA/F )

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: