Master di tanah Britania: membuka mata, membuka wawasan, demi negeri

Tanah Britania, sejak April 2014 menjadi tujuan saya sebagai rumah kedua. Saya menyebut kuliah di Inggris itu paket lengkap. Lengkap dari segi kualitas pendidikan, pilihan jurusan, fasilitas, dan hiburannya. Perguruan tinggi tertua di dunia banyak didominasi oleh negara ini. Dipastikan saya ingin menimba ilmu langsung dari sumurnya atau sumbernya. Ketika itu, saya menemukan kesulitan mencari program studi yang sesuai dengan spesifik minat saya, namun untungnya saya menemukan di salah satu Universitas di Inggris yang memiliki profesor di bidang minat tersebut. Itulah alasan paling utama saya bersedia tidak pulang 1 tahun dan membiayai kuliah dari kantong sendiri. Pelajar setelah tahun 2012 memang jauh lebih beruntung dengan adanya beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang memberikan kesempatan lebih untuk teman-teman. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi kepada teman-teman yang sudah memiliki rencana namun belum ada bayangan mengenai pengalaman hidup, pengalaman studi, serta pengalaman lainnya selama berada di sana. Mudah-mudahan dapat memberikan gambaran.

Saya menikmati banyaknya komunitas orang Indonesia di Inggris. Awalnya saya hanya tahu satu orang teman SMA yang sedang berkuliah di Manchester saat saya masih menyiapkan keberangkatan. Melalui dia saya mendapat banyak sekali informasi. Selain itu keberadaan PPI UK sangat membantu proses belajar. Di minggu awal saya sampai di Manchester sangat jarang berpapasan dengan orang Indonesia sewaktu itu. Akan tetapi setelah mengikuti acara yang diselenggarakan PPI Greater Manchester (GM), perasaan kangen seketika berkurang. Ternyata orang Indonesia di kota Manchester tidaklah sedikit. Disambut dengan ‘bahasa rumah’ (Bahasa Indonesia), kehangatan wajah Indonesia, dan makanan khas Indonesia pada pertemuan PPI GM sangat mengobati homesick.

Setelah sebulan proses adaptasi sudah terlewati dan melewati fase homesick awal, saya mulai penasaran untuk lebih banyak bermain dengan teman-teman lokal dan internasional. Pertama dengan teman satu flat yang terdiri atas multi bangsa, Cina, Inggris dan Jamaika. Meskipun dikarenakan kesibukan masing-masing yang mengharuskan kami hanya bisa mengobrol saat bertemu di dapur, saya sempatkan untuk mengobrol dan belajar masak dari masing-masing sesuai menu negara asal mereka. Saya pun mengusulkan agar kita saling berbagi informasi mengenai diri masing-masing agar bisa lebih mengenal, dari hal yang ditakuti sampai kesukaan sehingga suasana mulai cair dan bisa saling bertoleransi. Kami pun saling bekerja sama dalam membersihkan dapur sehingga saya banyak belajar dengan teman yang sangat higienis dalam bersih-bersih. Terbiasa dalam kultur rumah tangga Indonesia yang memiliki asisten rumah tangga saya kagum dengan Romana (anak lokal) yang sudah cekatan mengerjakan pekerjaan rumah. Dengan biaya asisten rumah tangga yang sangat mahal, anak lokal sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah termasuk memasak.

Selain itu, didorong oleh rasa kangen dengan masakan Indonesia, kebanyakan pelajar memang mendadak jadi koki. Mulai berani mencoba beragam resep nusantara lalu menjadikan teman satu flat sebagai tester. Oleh karenanya, selain menjadi tambah mandiri mengatur diri sendiri, bekal yang saya dapat setelah sekolah ke luar negeri adalah mendadak bisa masak lho, percaya deh 😉
Di samping kaya akan pengalaman tinggal sendiri yang berwarna-warni, saya merasakan pengalaman belajar yang seru dan menantang. Standar kualitas fasilitas pendidikan yang modern, saya merasakan fasilitas perpustakaan dan ruang belajar yang nyaman, khas arsitektur Inggris. Pengajar pun professional dan terlatih mengajar mahasiswa internasional. Kesempatan kerja kelompok dengan teman dari negara yang berbeda memberikan tantangan tersendiri. Hasil kesimpulan saya setelah mencoba dengan teman dari kultur berbeda, kultur negara terkadang mempengaruhi perilaku seseorang. Tetapi secara keseluruhan perilaku seseorang ditentukan oleh watak orang tersebut sendiri. Memang kita terkadang bisa menggunakan stereotype bahwa teman dari Jerman lebih tepat waktu dari teman negara lain, tetapi semaunya tergantung orangnya. Ada teman yang rajin dan tidak sedikit yang kurang rajin. Ada yang enak buat kerjasama kelompok ada yang kurang. Semua tergantung motivasi masing-masing.

Selain soal tinggal mandiri dan belajar, ada hal yang paling jadi incaran pelajar internasioanal di Inggris yaitu jalan-jalan dan nonton bola. Waktu jalan-jalan memang harus diatur dengan sangat cepat dan bijak. Baru sehari di sana, saya dari Manchester langsung ke London untuk jalan-jalan dan mengurus surat lapor di keduataan. Kemudian ke Liverpool dan yang jelas stadium di Manchester sendiri. Kebetulan saya suka bola.

Setelah itu, kita bisa menjadwalkan liburan setiap akhir pekan. Dengan adanya libur panjang satu bulan di bulan Desember untuk Natal dan Paskah di akhir bulan April hingga Mei, pelajar di Inggris bisa lebih lega jadwal jalan-jalannya dibanding pelajar di Eropa daratan lainnya. Saya menyempatkan untuk ‘menyeberang’ ke Eropa Daratan yakni Belanda, Jerman, dan Berlin menemui teman lama yang sedang sekolah di sana. Kebetulan perjalanan saya adalah single trip. Saya terbang sendirian dari Manchester ke Amsterdam dan dijemput teman di sana. Saya sekali-kali ingin merasakan serunya jalan-jalan sendiri mumpung masih single. Setelah selesai pengumpulan disertasi saya memanfaatkan waktu untuk ke utara Inggris ke Scotlandia dan jalan-jalan hingga ujung utara. Dikarenakan sudah homesick berat saya memutuskan pulang dan membatalkan beberapa perjalanan ke Eropa daratan dengan teman-teman. Saran saya jika ingin jalan-jalan ke suatu tempat segera lakukan, karena terkadang kita bisa tidak sempat lagi. Tapi saat itu tempat-tempat prioritas yang ingin saya kunjungi sudah terpenuhi semua 

Di ujung perjalanan, saat kuliah keluar kita dengan mudah akrab dengan teman-teman baru. Dikarenakan sama-sama merantau dan jauh dari keluarga, saya merasakan sangat sedih ketika harus berpisah dengan teman satu flat dan teman seprogram studi. Satu tahun terkadang terasa lambat saat kita terjangkit homesick, sebaliknya terasa sangat cepat ketika sudah tiba-tiba farewell dengan teman-teman di sana. Kami saling berpelukan dan berharap bisa bertemu lagi di belahan dunia lain. Saling mengajak satu sama lain datang ke negara masing-masing dan siap menjadi pemandu wisata.

Saya menyempatkan pulang sebentar pasca pengumpulan disertasi (tesis S2) di akhir September 2013, kemudian kembali lagi untuk menghadiri wisuda di bulan Desember 2013. Setelah menyelesaikan seluruh agenda, saya pulang kembali ke Indonesia dengan sebuah harapan. Ilmu yang telah saya dapatkan dapat bermanfaat untuk teman-teman sekitar dan bangsa nantinya. Saya berharap semakin banyak teman-teman yang berkesempatan merasakan pendidikan yang lebih tinggi dan pengalaman hidup yang lebih berwarna serta merasakan indahnya ciptaan Tuhan YME di belahan dunia lain. Kelebihan dari bersekolah di luar negeri memang membuka wawasan seluas-luasnya dengan menjadikan kita mandiri, lebih dewasa, lebih berani, dan lebih toleransi terhadap budaya atau kepercayaan lain. Kita jauh lebih paham budaya negara lain secara global. Berkunjung ke negara lain membuat saya bisa membandingkan negeri sendiri dengan negara maju lain. Saya semakin sadar potensi negara kita, baik dari segi potensi alam dan budaya. Kita tidak kalah, dan saya yakin dengan bertambahnya pelajar kita per tahun menuntut ilmu ke luar semakin banyak lulusan master dan doktor. Semakin banyak transfer ilmu ke pelajar Indonesia yang dapat meningkatkan kompetensi pemuda kita sehingga mudah-mudahan bangsa kita bisa semakin maju dan semakin besar, demi Indonesia Raya…

Larastri Kumaralalita
Master of Science (Msc) in Management and Information Systems,
Institute for Development Policy and Management (IDPM)
University of Manchester, Manchester, UK

sumber : http://ppiuk.org/master-di-tanah-britania-membuka-mata-membuka-wawasan-demi-negeri/

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: