Ridwan Kamil Bangkitkan Semangat Kebangsaan PPI Auckland

Liputan Selandia Baru, Ridwan Kamil sedang asyik diskusi dengan beberapa rekan PPI Auckland di sebuah restoran di bilangan Aotearoa, Auckland. Beberapa hari sebelumnya (Selasa, 4/4/2016) Ridwan Kamil baru saja menerima penghargaan Prime Minister Fellowship dari PM John Key sebagai pemimpin inovatif di negara-negara ASEAN, menambah panjang daftar penghargaan internasional yang sudah ia terima sebagai Walikota Bandung ini.

Selain agenda pertemuannya dengan John Key saat itu, Walikota Bandung yang akrab dipanggil Kang Emil juga menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa kota di North dan South Island untuk bertemu pengusaha-pengusaha dan Walikota setempat. Auckland adalah tujuan terakhir sebelum ia bertolak pulang ke Tanah Air Jumat tengah malam (8/4/2016).

Sore itu pengurus PPI Auckland bersama dengan beberapa perwakilan Komunitas Indonesia Auckland (KIA) berkesempatan untuk ngobrol santai dengan Kang Emil tentang banyak hal, termasuk cerita bagaimana ia memulai karirnya di dunia politik.

“Saya terjun ke dunia politik setelah saya cukup mandiri, Saya membangun karir dulu, setelah cukup mandiri saya mulai terjun ke kegiatan sosial, baru kemudian mulai meniti karir politik. Kalau tidak, bisa susah nanti, kita jadi terlalu bergantung pada karir politik. Kalau saya, misalnya nantinya masih dipercaya untuk melanjutkan ya alhamdulilllah, kalau tidak, saya bisa kembali menekuni dunia professional,” ungkap Kang Emil menjelaskan perjalanan karirnya di Politik.

Sebelum terpilih menjadi Walikota, Kang Emil lebih dikenal sebagai arsitek. Sosoknya sebagai seorang pemimpin muda mulai mendapatkan sorotan secara luas oleh masyarakat setelah ia menginisiasi gerakan Indonesia Berkebun. Saat ini akun Twitter gerakan ini, @IDBerkebun, sudah diikuti oleh lebih dari 149.000 followers, sementara kegiatan offline-nya sudah tersebar di sekitar 20 kota.

Saat ini Kang Emil menjadi sosok pemimpin muda yang cukup menonjol di Indonesia. Bahkan beberapa pihak mulai menggadang-gadang pria yang akrab di berbagai media sosial ini sebagai salah satu kandidat pemimpin nasional di masa depan.

“Generasi saya adalah perintis perubahan, generasi kalian lah yang nanti bertanggung jawab melanjutkan,” kata Kang Emil dengan raut muka serius namun spontan membakar semangat pelajar yang menyimak diskusi tersebut.

Lantas, bagaimana visi Kang Emil tentang Indonesia? Apa saja hambatan terbesar kita saat ini? Dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut petikan obrolan singkat PPI Auckland dengan Kang Emil.

DPP-1970

Dalam kesempatan tersebut redaksi PPI Auckland menyempatkan diri untuk menanyakan beberapa pertanyaan terkait pandangan Kang Emil akan semangat kebangsaan.

Menurut Kang Emil, apa sih modal terbesar Indonesia untuk maju?

Kalau menurut saya semangat gotong royong-nya, di samping kekayaan sumber daya alam. Coba kalian perhatikan, kalau di luar negeri ketemu sesama dengan Indonesia rasanya cepat sekali akrabnya. Kita juga mudah untuk saling membantu dan bekerjasama. Ini saya buktikan sendiri waktu penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 2014 lalu. Saat itu saya mengajak warga Bandung untuk menjadi relawan demi untuk menyukseskan acara ini. Ternyata responnya luar biasa, bahkan tak terbatas hanya warga Bandung saja. Banyak relawan yang datang dari luar kota seperti Jakarta, Bekasi, bahkan luar Jawa. Menurut saya ini modal yang penting sekali.

Lalu, apa sih masalah terbesar yang dihadapi oleh Indonesia saat ini?

Dari pengalaman saya selama 2 tahun menjadi Walikota, menurut saya masalah terbesar kita ada di mindset. Contohnya saja di Bandung. Mereka yang suka melakukan kejahatan bukan hanya orang-orang miskin, tapi orang kaya juga. Orang miskin di street crime-nya sementara orang kaya di white collars crimes, nggak bayar pajak. Bikin restoran nggak bayar pajak, nggak mengurus IMB sebelum bikin gedung, yang kedua birokrasi. Banyak yang pola pikirnya sudah membatu sejak zaman dulu. Salah satunya korupsi. Sekarang ini kita memiliki terlalu banyak aturan yang justru menjerat diri kita sendiri. Membuat kinerja birokrasi menjadi terlalu lamban untuk bisa diajak maju.

Lalu, bagaimana strategi Kang Emil untuk mengatasi masalah ini?

Orang-orang seperti ini susah sekali berubah kalau hanya sekedar ditegur atau dinasehati. Nah, untuk menghadapi mereka, kita harus melakukan inovasi-inovasi di tingkat kebijakan. Misalnya saja dengan memanfaatkan kemajuan IT.   Di Bandung saya bikin aplikasi-aplikasi untuk memperingkas urusan birokasi dan juga memberantas  korupsi. Misalnya untuk urusan pendidikan, saya buat sistem online untuk pendaftaran sekolah. Sistem ini bisa menghentikan praktik-praktik jual beli bangku sekolah yang biasa terjadi zaman dulu. Kemudian untuk urusan pemerintahan, kita buat BIRMS (Bandung Integrated Resources Management System), yang terdiri dari e-budgeting, e-project planning, e-contracting, e-controlling, dan e-monev. Tujuannya adalah meminimalkan interaksi langsung antara warga dan petugas. Kita juga punya aplikasi untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan sampai tingkat kelurahan. Warga bisa mendaftarkan diri dengan nomor KTP, kemudian memberikan laporan dan rating untuk lurahnya masing-masing.

Dengan berbagai langkah reformasi birokrasi selama 2 tahun ini, alhamdulillah Kota Bandung mendapatkan Penghargaan Akuntabilitas Kinerja Terbaik Nasional Tahun 2015 dengan predikat A, melompat dari sebelumnya ranking 400 menjadi ranking 1 di tingkat nasional.

Saat ini Kang Emil sedang giat mencanangkan Bandung menjadi Smart City.  Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan lebih dari 1.000 aplikasi disertai berbagai inovasi kebijakan yang bertujuan untuk mengefisienkan birokrasi dan meningkatkan akuntabilitas pemerintahannya. Beberapa inovasinya cukup unik, misalnya baru-baru ini Kang Emil mengeluarkan kebijakan layanan antar dokumen kependudukan (KTP, KK, dll) ke rumah warga dengan kurir bermotor secara gratis.

Kalau menurut Kang Emil, apa modal terpenting yang harus kita miliki untuk mampu menciptakan perubahan di Indonesia?

Menurut saya, hal terpenting yang harus kita miliki untuk melakukan perubahan, khususnya di sektor public service, adalah kesabaran. Kadang nggak mudah untuk menghadapi berbagai kritik di saat saya sedang bekerja keras melakukan reformasi. Sebagai contoh, saya kerja dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam, tapi ada orang yang mengatakan saya gagal melakukan reformasi birokrasi di Bandung. Padahal saat itu saya menjabat belum genap 2 tahun. Untuk menghadapi hal-hal semacam ini ya kita sabar saja. Lebih baik menjawab kritik dengan prestasi, dan Alhamdulillah, kritik-kritik seperti ini hilang dengan sendirinya setelah Kota Bandung mendapatkan penghargaan sebagai pemerintahan dengan kinerja terbaik di tingkat nasional. Kadang media juga tidak berimbang ketika membuat pemberitaan. Saat kritik muncul, liputannya muncul dimana-mana, tapi saat kami mendapatkan prestasi beritanya tak seheboh kritiknya. Menghadapi yang seperti ini ya kita kembali harus sabar.

Kemudian yang kedua, anak-anak muda seperti kalian juga harus mau menemani saya di birokrasi. Tentu saja sebelum itu kalian  harus mandiri dulu. Jangan sampai begitu terjun ke dunia politik, kalian seperti tak punya pilihan lain, dan terlalu bergantung pada politik. Orang-orang yang hidupnya hanya bergantung pada politik cenderung akan melakukan apa saja demi untuk mempertahankan kekuasaannya.

Tapi ada juga yang bisa kalian mulai dari sekarang. Kan gini ya, ada empat hal yang bisa kita bagi; berbagi waktu, berbagi tenaga, berbagi harta, dan yang keempat berbagi gagasan. Untuk berbagi gagasan kan masalah jarak tak jadi masalah. Mau di Selandia Baru, mau di New York atau di mana pun kalian bisa berbagi gagasan. Makanya saya bikin aplikasinya, www.iuran.id yang merupakan platform seperti Facebook di mana orang yang punya gagasan bisa berbagi di sana. Karena saat ini saya sedang bekerja di Bandung, ya gagasan-gagasannya untuk memajukan Bandung. Nanti saya kumpulkan ide-ide itu. Kalau double, saya eksekusi.

Terakhir saran saya, kalian perlu mulai membuat jaringan pertemanan di antara orang-orang yang idealis. Ini penting, dan nggak semua orang mau. Dengan cara-cara ini saya yakin kalian bisa berkontribusi untuk Indonesia. (Red. MAH hakimpsi@yahoo.com, Editor. dafi)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

%d bloggers like this: