Kasmaran dengan Ilmu Pengetahuan

Muhammad Yorga Permana, Mahasiswa Master Innovation Sciences di TU Eindhoven, penerima beasiswa LPDP,

13320006_10208080745087918_7263942879299256808_n

Istilah kasmaran berilmu pengetahuan pertama kali diperkenalkan oleh Pak Iwan Pranoto, guru besar matematika di ITB beberapa tahun yang lalu [1]. Beliau orang yang senang berdiskusi. Meski bergelar profesor, beliau tidak berjarak dengan mahasiswanya. Saya ingat saat itu kami tengah mendiskusikan kurikulum 2013 menjelang disahkan. Beberapa poin dari kurikulum itu sarat akan pemaksaan. Kata ‘wajib’ dan ‘patuh’ acapkali muncul dalam draf kurikulum baru tersebut.

Pak Iwan Pranoto mengingatkan kami, bahwa pendidikan seharusnya membebaskan, bukan memaksa dan mewajibkan. Dan titik awal pembebasan itu adalah rasa kasmaran seorang pelajar terhadap ilmu. Pendidikan harusnya membuat seseorang mencintai ilmu. Perasaan jatuh cinta dan hasrat menggebu-gebu saat ia berinteraksi dengan buku, dengan ruang kelas, dan dengan mimbar akademik lainnya.

“Para peserta didik sekarang umumnya belum di jenjang kasmaran berilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan baru sekadar obyek yang dipelajari, terlepas dari diri pemelajar. Siswa yang berfisika belum takjub dan kasmaran terhadap rumus F>ma. Kebanyakan siswa belum mencapai jenjang kasmaran terhadap rumus sederhana yang memodelkan pena jatuh sampai pergerakan benda di angkasa itu.

Kebanyakan siswa belum kasmaran terhadap rumus Bernoulli yang memungkinkan sayap sederhana berpenampang gemuk di tengah dapat mengangkat pesawat dengan beban berton-ton. Ilmu pengetahuan masih sekadar dikumpulkan, disimpan, dan ditumpahkan lagi saat ujian. Belum mengubah jati diri pemelajar dalam berperilaku dan berpikir.”[1]

Saya membayangkannya rasa kasmaran itu ada pada antusiasme Newton saat kejatuhan apel dan menginspirasinya untuk merumuskan teori gravitasi, atau pada Archimides yang berteriak ‘Eureka’ di tengah asyiknya  ia berendam dan menginspirasinya  untuk menghitung massa jenis benda, atau pada Al-Ghozali yang tak lelah mengembara menuntut ilmu dari Baghdad sampai Jerusalem.

Sayangnya kalimat beliau waktu itu hanya kami pahami, belum kami praktekkan. Saat itu dengan kompaknya kami mengangguk tanda setuju. Namun, prakteknya lain. Rasa kasmaran berilmu pengetahuan belum muncul saat kuliah dulu. Tidak ada perasaan menggebu saat misalnya kami membedah teori kebutuhan Maslow di kelas.

Masa-masa S1 memang mengasyikkan. Saya bukan anak yang aktif di lab, tidak rajin menulis paper, jarang ikut lomba, atau melakukan penelitian. Saat itu terlalu banyak aktif di organisasi kampus. Jika besoknya ada ujian pun tak jarang kami tetap rapat sampai malam mengurus ini itu.

Tanpa rasa kasmaran pun orang bisa lulus kuliah. Cukup datang ke kelas dengan rajin, ikut ujian, dan kerjakan semua tugas. Dengan segala aktivitas yang dijalani di bangku kuliah, saya masih bisa meraih gelar cum laude meski pas-pasan.

Alhasil ketika lulus kuliah ada rasa penyesalan. Jadi sarjana yang terasing dari ilmunya sendiri. Jumlah buku dan paper yang berkaitan dengan spesialisasi bidang keilmuan yang sudah dikhatamkan pun bisa dihitung dengan jari. Masa mahasiswa lebih bangga membaca buku pergerakan terbitan Resist book atau novel populer terbitan Gramedia.

Tentang materi kuliah? Cukup baca fotokopi catatan teman dan slide dari dosen. Ujian dan tugas besar tinggal cari master turunan dari mahasiswa tahun lalu. Biasanya bisa ditemukan di tukang fotokopi langganan satu himpunan.

S2 Sebuah Pertobatan Intelektual

Saat ini lanjut studi S2 menjadi pilihan yang menarik dengan beragamnya beasiswa yang tersedia dan akses informasi yang semakin lebar. Apalagi semenjak ada LPDP. Maka orang-orang pun berlomba untuk S2 dan apply beasiswa. Motifnya beragam. Saya sendiri karena punya cita-cita menjadi akademisi maka mengambil S2 menjadi sebuah keharusan. Ada juga yang menjadikan S2 untuk meng-upgrade diri setelah jenuh dengan rutinitas kerja 8 jam per hari, ada yang menjadikannya sebagai escape plan untuk memperpanjang status mahasiswa untuk menghindari sebutan pengangguran di tengah lesunya ekonomi, atau untuk menyusul pasangan yang telah berangkat lebih dulu.

Terlepas apapun motifnya saya rasa itu tidak layak disalahkan. Manusia kan bisa berubah. Tapi satu hal yang pasti pilihan untuk melanjutkan S2 ke luar negeri (atau di dalam negeri) bisa menjadi ajang bagi kita untuk melakukan pertaubatan intelektual, apapun motif awalnya.

Saya sendiri melanjutkan studi di Innovation Sciences TU Eindhoven. Program studinya cukup unik. Kami belajar tentang inovasi dalam konteks sosial. Bagaimana inovasi berinteraksi dengan masyarakat. Maka selain belajar engineering, ilmu ini bersentuhan juga dengan bidang ilmu lain: filsafat (contoh: apakah teknologi etis mengubah perilaku manusia?), psikologi (contoh: bagaimana teknologi bisa mempengaruhi perilaku manusia?), ekonomi (contoh: bagaimana teknologi berperan dalam pertumbuhan ekonomi?), hingga sejarah (contoh: mengapa revolusi industri terjadi di Eropa dan karenanya sekarang Barat menjadi lebih maju?).

Konsekuensinya  ya kami dituntut banyak membaca dan banyak belajar mandiri. Seringkali sebelum kelas kami diminta membaca puluhan halaman paper/buku. Kemudian di kelas kami tinggal berdiskusi. Artinya jika tidak sempat membaca lebih baik tidak usah masuk kelas. Model pembelajaran lain yang unik misalnya presentasi. Setiap minggunya mahasiswa presentasi bergiliran soal materi. Tapi mahasiswa lain harus menyiapkan discussion point untuk dilempar di kelas. Jadi tetap saja masuk kelas tidak boleh dengan pikiran kosong.

Bagi saya, melanjutkan studi S2 adalah bentuk pertobatan intelektual. Baru pertama kali saya merasakan keasyikkan membaca paper sampai larut malam, berdiskusi tentang materi kuliah dengan kawan pasca keluar kelas, mengerjakan tugas dengan penuh antusiasme, dan menanti-nanti feedback esai kita dari dosen.

Ah, mungkin inilah yang namanya rasa kasmaran berilmu pengetahuan. Saat belajar, membaca, dan berdiskusi tentang spesialisasi ilmu kita menjadi satu hal yang menyenangkan. Sesuatu yang belum saya rasakan di S1 dulu.

Baru kali ini ada rasa kekaguman yang mendalam kepada para intelektual yang namanya tak lekang oleh zaman. Di bidang saya, nama Adam Smith, Marx, Schumpeter, Nelson-Winter, Chesbrough, Acemoglu, Adner, Mezzucato, Geels, Piketty, hingga Stiglitz menjadi nama-nama yang sering didiskusikan. Karya mereka jauh melampaui usia hidup mereka. Baru kali ini muncul apresiasi mendalam kepada mereka para pecinta ilmu. Mungkin cinta kita kepada ilmu belum sebesar mereka. Tapi setidaknya kita mulai belajar mencintai ilmu seperti mereka.

Bukan berarti rasa malas, keluh, dan lelah saat belajar di jenjang S2 ini hilang sama sekali. Energi-energi negatif itu akan selalu ada membersamai fitrah manusia kita, bukan? Tapi saya rasa itu wajar dan rasa kasmaran berilmu pengetahuan menjadi penguat kita untuk survive dalam studi kita yang melelahkan ini.

Jumawa

Jadilah seperti padi semakin berisi semakin merunduk,

Peribahasa populer

Cinta yang berlebihan terkadang membawa kita kepada sikap pongah dan jumawa. Kuliah S2, ke luar negeri pula, membuat isi otak kita sedikit bertambah. Kita merasa telah melepas kaca mata kuda kita yang kita pakai saat kuliah S1 dulu. Dunia seakan menjadi lebih luas. Jendela kita terhadap ilmu kian lebar. Kemudian rasa jumawa itu muncul. Merasa seakan kita tahu segalanya.

Sindrom orang yang kuliah di luar negeri hinggap pula pada diri saya: Jadi sok tahu. Membanggakan negara dan kampus tempat studinya. Membandingkan dengan kondisi pendidikan Indonesia yang amburadul. Kadang menganggap remeh kalau ada teman masih memakai framework lama: “Ah, elu masih pake Porter, itu kan udah ketinggalan zaman men! Di kampus gw sih itu udah ga dipake lagi

Kasmaran berlebihan ternyata berbahaya. Membuat kita jumawa akan ilmu yang dipunya. Padahal, Newton mengingatkan kita bahwa kita sebenarnya hanya sedang berdiri di bahu raksasa. Kita masihlah seorang kurcaci. Pandangan kita lebih luas bukan karena mata kita lebih superior, bukan karena tubuh kita lebih tinggi, tapi karena kita sedang berdiri di atas bahu raksasa. [2]

Bahu raksasa artinya warisan ilmu para intelektual pendahulu kita. Mereka para pecinta ilmu pengetahuan di masa lalu. Yang papernya sering kita baca dan namanya sering kita sebut di kelas.

Sejatinya, kita tidak pernah sama sekali melepas kacamata kuda kita. Kita tetap memakai kacamata. Hanya saja lensanya mungkin lebih luas, sedikit, dibandingkan saat S1 dulu. Jadi tak layak lah kita jumawa. Toh di atas langit masih ada langit. Sedangkan kita? Sampai langit-langit saja mungkin belum.

Semakin berilmu seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa kita bukanlah sesiapa, bahwa ilmu Allah itu luas. Masih banyak sisi lain dunia yang tidak pernah kita sentuh sama sekali. Kasmaran terhadap ilmu pengetahuan seharusnya membuat kita mawas diri: bahwa ilmu yang kita reguk tidak akan ada habisnya, bahwa kita sedang menuju ketakterhinggaan ilmu pengetahuan, dan yang kita ambil barulah setitik dari tak hingga itu.

Sampaikanlah Walau Sedikit

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Pramoedya dalam Rumah Kaca

Lantas saya bertanya: Kontribusi apa yang bisa diberikan seorang terpelajar untuk rumahnya yang ia terpisah jauh darinya?

Bagi saya kontribusi paling sederhana adalah kontribusi pemikiran yang diwujudkan dengan cara menulis.

Ekspresi cinta kepada ilmu adalah menyampaikan dirinya kepada orang lain walau sedikit, berbagi manfaat dan menjadi bagian dari Sang Pencerah. Maka menulis menjadikan ‘kasmaran’ menjadi kata kerja aktif dan positif. Dan menariknya, hakikat ilmu berbeda dengan harta. Engkau berbagi maka ilmu-mu semakin bertambah.

Namun ingat, menulis paper saja tidaklah cukup. Sebuah studi dari Indiana University [3] mengklaim bahwa 50% paper tidak pernah dibaca kecuali oleh penulisnya sendiri dan editor jurnalnya.  90% paper tidak pernah disitasi oleh paper lainnya. Bahkan Asit K. Biswas dan Julian Kirchherr mengkritik dengan tajam: “Prof, no one is reading you!” [4].

Tantangan hari ini adalah bagaimana agar intelektual itu tidak menjadi menara gading. Ilmunya boleh setinggi langit, tapi tulisannya harus tetap menjejak di bumi. Maka tantangannya adalah bagaimana di tengah kesibukan studi kita,  kita masih menyediakan waktu untuk menulis, di Koran, di blog, atau minimal sekadar di status facebook.

Ini khususnya saya tujukan buat saya sendiri yang bisa sampai kesini karena dibiayai oleh Negara: bahwa ilmu yang sedang kita kejar di sini bukan hanya hak milik kita sendiri, banyak yang telah menantikannya.

Maka pertanyaan refleksi sebagai peutup tulisan ini adalah:

Sudahkah kita memunculkan rasa kasmaran kita terhadap ilmu pengetahuan? Apakah kasmaran tersebut membawa kita jadi jumawa atau semakin memahami betapa luasnya ilmu? Sudahkah wujud kasmaran itu kita jadikan kata kerja yang aktif, menulis dan berbagi untuk orang banyak? Bukankah itu hakikat sebaik-baiknya manusia?

Mari kita jawab dalam diri masing-masing 🙂

[1] Pranoto, Iwan (2012, Desember 12) Kasmaran Berilmu Pengetahuan. Bisa diakses di http://www.bincangedukasi.com/kasmaran-berilmu-pengetahuan/

[2] http://www.phrases.org.uk/meanings/268025.html

[3] Meho, L. I. (2007). The rise and rise of citation analysis. Physics World20(1), 32. Bisa diakses di https://arxiv.org/ftp/physics/papers/0701/0701012.pdf

[4] Biswas, A. K., & Kirchherr, J. (2015, April 11). Prof No One Is Reading you. Bisa diakses di The Straits Times: http://www.straitstimes.com/opinion/prof-no-one-is-reading-you

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

One thought on “Kasmaran dengan Ilmu Pengetahuan

Leave a Reply

%d bloggers like this: