KBRI NEW DELHI SELENGGARAKAN PIDATO KEBANGSAAN SUMPAH PEMUDA

NEW DELHI, INDIA. 28 OKTOBER 2017 – KBRI New Delhi bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan dan Atase Pertahanan mengadakan acara Pidato Kebangsaan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda Ke-89 yang disampaikan oleh para pelajar Indonesia di penjuru India pada Sabtu, 28 Oktober 2017 di Gedung Wisma Karya KBRI New Delhi. Acara yang bertema “Menjadi Indonesia” ini digagas oleh ATDIKBUD KBRI bekerja sama dengan ATHAN dan Perhimpunan Pelajar Indonesia Komisariat New Delhi.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya Tiga Stanza dan dilanjutkan dengan sambutan dari Duta Besar Luar Biasa RI untuk New Delhi, Raden Sidharto Reza Suryodipuro. Dalam sambutannya, beliau menekankan fakta bahwa Indonesia bersatu bukan karena Belanda. “Sejak dari zaman kerjaaan Majapahit dan Sriwijaya, tiap-tiap pulau sudah menjalin hubungan, jadi Indonesia bersatu itu bukan karena Belanda, tapi memang sudah bersatu sejak dulu.” tegas beliau. Di akhir sambutannya, beliau memberikan selamat kepada peserta pidato kebangsaan yang terpilih untuk menyampaikan pidatonya dalam acara tersebut.

Empat mahasiswa yang terpilih membacakan pidato kebangsaan. Kiri ke kanan: Rahul, Hervina, Dian dan Agoes

Empat mahasiswa Indonesia di India terpilih untuk menyampaikan pidato setelah melalui proses panjang penyeleksian dan diskusi dengan Bapak Iwan Pranoto, Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sebelum para pelajar tersebut menyampaikan pidatonya, para hadirin diperdengarkan Teks Asli Keputusan Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia 1928 atau yang dikenal dengan Sumpah Pemuda yang dibacakan oleh Perwakilan Pelajar Indonesia di New Delhi, Putu Govinda Prasada.

Pidato pertama disampaikan oleh Mohd. Agoes Aufiya, mahasiswa Ph.D. School of International Studies, Jawaharlal Nehru University (JNU). Dalam pidatonya yang berjudul “Membangkitkan Kembali Jati Diri Pemuda Indonesia”, ia menyampaikan bahwa kepemudaan dan kenegarawanan merupakan hasil paling penting yang kita bisa ambil dari Sumpah Pemuda, yakni sikap yg kokoh idealisme dalam berbangsa dan cinta tanah air, dan hadirnya jati diri persatuan terlepas dari keberagaman. Pidato kedua disampaikan oleh saudari Dian Furqani, mahasiswi Aligarh Muslim University yang bertajuk “Keberagaman yang Mengikat”. Dian dengan semangat menyatakan jika keberagaman bukan hanya hal yang harus dimaklumi, namun adalah hal utama yang mengikat persatuan bangsa Indonesia. Rahul Ali Rifsanjani, mahasiswa Institute of Finance and International Management Bangalore menyampaikan pidato berjudul “Pemuda Masa Lampau”. Dalam pidatonya, ia memaparkan pemikirannya bahwa mimpi para pemuda zaman dahulu lah yang mengantarkan Indonesa merdeka, dimana ketika mimpi mereka berubah menjadi kenyataan berupa gagasan dan perjuangan untuk meraih cita-cita kemerdekaan. Pidato terakhir disampaikan oleh Hervina Aljanika, mahasiswi Master Hubungan Internasional, JNU dengan judul “Bahasa Indonesia untuk Bernalar”. Hervina menitik beratkan pada betapa pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia karena bangsa itu dicitrakan oleh kecakapan bernalar dalam berbahasa.

Acara ditutup dengan ramah-tamah dan makan bersama semua hadirin yang hadir dalam acara.

Para peserta bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk New Delhi (tengah) dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (kanan).

Penulis:

Amirul Haqqi

BA Langue, Littérature, et Civilisation Française, University of Delhi

Ketua PPI Komisariat New Delhi

 

Editor: Fajar Riyantika

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

editor_fajar

(qG8VIYso5kL1OY!M1e8YVb4

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: