Ke Luar Negeri? Jangan Cuma Studi!

Bagi kawan-kawan yang berkesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri, tak ada salahnya untuk mulai merencanakan banyak hal yang bisa di-explore sebelum hari keberangkatan menuju kampus tujuan. Tujuannya agar kesempatan ini bisa lebih effisien dan benar benar worth it sehingga pengalaman yang didapat lebih maksimal.

Saya sendiri tidak mau melepaskan kesempatan studi ke luar negeri yang sebentar ini dengan agenda kuliah yang mainstream. Mengikuti program student mobility, saya berkesempatan untuk mengikuti perkuliahan di Universiti Teknikal Malaysia Melaka selama satu semester. Setibanya di negeri jiran, saya langsung mengumpulkan informasi mengenai kegiatan dan program yang mungkin bisa saya ikuti selama di sini. Diantara informasi yang terhimpun, saya menemukan info program tahfidz atau menghafal Alquran dan kemudian mengikuti program ini dengan sengaja. Ya, jauh hari sebelum berangkat ke negeri jiran saya sudah merencanakan untuk mencari guru tahfidz di kampus, atau setidaknya menemukan info mengenai asatidz dan kajian ceramah agar ruhani disini tetap terjaga. Saya sadar betul di usia dua puluh tahun ini sifat ingin mencari tahu dan mencoba beragam hal susah untuk dibendung sehingga harus pintar dalam mengontrol diri. Sebelum berangkat, layaknya orang tua lainnya saya juga diberi beberapa wejangan: “Ibadahnya dijaga ya nok.” Itu pesan bapak. “Jangan ‘cowok-cowokkan’ dulu ya.” Itu kata ibu, yang lantas membuat saya tersenyum geli.

Untuk kajian islam, disini ternyata tak seramai di kampus saya. Meskipun bukan berbasis perguruan tinggi islam, di kampus saya kajian islam rutin diadakan dua hingga tiga kali dalam sepekan. Sedangkan disini kajian islam digelar ketika ada agenda tertentu seperti pekan karnaval islam, konvokesyen (wisuda mahasiswa) atau hari besar agama dengan mengundang penceramah ternama Malaysia. Karena itu saya memutuskan untuk bergabung dengan Badan Amalan dan Kerohanian (BADAR) UTeM. Meskipun tidak tergabung sebagai pengurus inti, bergabung dengan rohis kampus setidaknya memberi saya peluang untuk menambah ilmu agama dan mempererat silaturahmi.

Sedangkan program tahfidz disini sebenarnya hanya ditujukan kepada mahasiswa yang mengambil program sarjana. Visinya untuk mencetak sarjana lulusan teknik yang hafidz qur’an. Dengan sistem seleksi bacaan Alquran, dari seratus lebih pelajar yang mendaftar hanya diambil dua puluh pelajar saja, sepuluh pelajar laki – laki dan sepuluh pelajar perempuan. Kedua puluh satu pelajar terpilih ini kemudian dikumpulkan dalam asrama khusus agar lebih kondusif dalam mengikuti lima agenda rutin dalam program tahfidz UteM, yaitu Tasmi’ (setoran hafalan), Tahriri (menulis ulang bacaan yang sudah dihafal), Syafawi (menyambungkan ayat yang dibacakan ustadz), Muraja’ah (mengulang hafalan) dan Tajwid (memperbaiki bacaan qur’an sesuai ilmu tajwid).

Mengikuti program tahfidz berarti siap mengambil konsekuensi dimana saya harus pintar-pintar membagi waktu antara mengerjakan tugas kuliah dengan agenda menghafal Alquran. Ditambah lagi asrama tahfidz yang cukup berbeda dari asrama untuk student mobility yang dari segi fasilitas memang lebih nyaman berada di asrama student mobility. Belum lagi kendala-kendala lain yang harus dipertimbangkan sebelum saya bergabung dengan program tahfidz ini. Kala itu via telepon ayah saya bilang, “Gini nok, yang namanya orang hijrah pasti ada kendala. Kaum muhajirin dulu mau hijrah harus meninggalkan harta benda bahkan sanak saudara. Asal Ulfa niatkan untuk Allah Ta’ala, pasti nanti dimudahkan. Pasti.”

Dengan ridho kedua orang tua, saya menjadi lebih mantap untuk pindah ke asrama baru, meninggalkan asrama teman-teman student mobility dari Indonesia. Awalnya saya terkendala komunikasi dengan teman-teman yang berasal dari beragam negeri di Malaysia. Beruntung sebagian besar dari mereka faham bahasa Indonesia karena sering menonton sinetron buatan Indonesia yang ramai ditayangkan di channel televisi Malaysia. Atau untuk beberapa vocab kami menggunakan bahasa Inggris agar saya lebih faham. Saya pun mulai menggunakan bahasa melayu dalam percakapan sehari-hari meskipun masih susah dalam melafalkan kosakata. Sebaliknya teman-teman disini ikut menggunakan bahasa Indonesia meskipun terdengar lucu karena tercampur logat melayu.

Di asrama baru saya sangat terbantu dengan roommate baru saya, Azwa, dia mahasiswa asli Malaysia dari negeri Johor. Kebetulan roommate saya ini jago memasak. Dengan bermodal rice cooker, saya belajar beragam masakan malaysia dengan Azwa mulai dari bubur ayam, bubur sagu jagung hingga ayam masak kari. Bahkan untuk mengisi akhir pekan, kami menjual beragam bubur yang dimasak di bilik kecil kami. Bubur yang telah masak dan dibungkus rapi kemudian kami letakkan di tengah asrama, tempat dijualnya beragam makanan dengan sistem kantin kejujuran. Meskipun beberapa kali sempat kecolongan karena ada yang tidak membayar, banyak pengalaman yang saya ambil dari berniaga kecil-kecilan ini seperti bagaimana selera mahasiswa malaysia serta teknik untuk menarik minat pembeli (cerita selebihnya bisa disimak di ulfarayyani.blogspot.com).

Disamping mengerjakan tugas kuliah, saya juga mengikuti klub ilmu falak atau astronomi yang diadakan kampus. Saya belajar banyak hal dari ilmu mengenai tata surya ini seperti mengenal benda langit, mencoba beragam teropong dan menentukan arah kiblat sesuai dengan bayangan matahari. Saya juga sempat mengikuti pengamatan supermoon yang terjadi pada Oktober 2016 lalu, meskipun saat itu cuaca di Melaka sedang mendung sehingga yang terlihat hanya penampakkan moon perigee. Selain pengamatan dan pertemuan mingguan, klub astronomi ini juga melakukan observasi atau pengamatan di observatorium luar kampus untuk menunjang pembelajaran.

Jadi, ke luar negeri jangan cuma studi, manfaatkan waktu dengan mengikuti beragam program dan kegiatan di kampus yang bisa mengasah kemampuan diri. Bila memungkinkan, jadikan momen berharga ini untuk keluar dari comfort zone dengan mencoba hal baru seperti mengambil kerja paruh waktu atau berniaga.  Buatlah hal – hal seru yang bisa menjadi poin tersendiri sebagai pengalaman tak terlupakan selama menuntut ilmu di negeri seberang.

Sekian, salam dari negeri Melaka!

 

Ulfa Ryani Hasanah *)

S1 Teknik Informatika UDINUS

*Sedang mengikuti program student mobility selama satu semester di Fakulti Teknologi Maklumat dan Komunikasi, Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM).

Cerita selanjutnya bisa disimak di ulfarayyani.blogspot.com

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: