Keadilan Untuk Toleransi

PPIDUNIA.ORG – Di era globalisasi dewasa ini, manusia dihadapkan pada suatu fenomena keterbukaan dan transparansi yang luar biasa. Arus informasi yang cepat beredar dan media sosial menjadi faktor utama fenomena ini. Salah satu konsekuensi yang muncul darinya adalah fenomena yang dianggap sebagai kebebasan setiap individu –siapapun itu- untuk mengekspresikan pendapatnya.

Dari fenomena ini, sangat diperlukan suatu norma yang berperan mengatur agar tidak terjadi benturan kebebasan ini. Salah satunya adalah apa yang disebut dengan toleransi. Dalam “Oxford Dictionary” kata tolerate dimaknai dengan mengizinkan suatu eksistensi, kejadian, atau praktik yang tidak disukai atau disetujui tanpa intervensi.

Dari makna yang ditinjau secara etimologis di atas jelas bahwa toleransi lawan dari setiap pemaksaan kehendak. Masalahnya, dewasa ini dalam beberapa peristiwa tercium pengaburan makna kata toleransi untuk memuluskan kepentingan golongan tertentu, memutarbalikkan makna dengan pemberitaan yang berulang-ulang agar menjadi terbiasa di telinga masyarakat luas.

Atas dasar ini, setiap muslim perlu mengetahui hakikat toleransi, batasan-batasannya, dan bagaimana islam memandangnya. Sehingga ia memiliki pondasi kuat dan tidak terbawa arus pengaburan makna kata toleransi. Dengan demikian ia juga sudah meletakkan setiap istilah sesuai tempatnya yang tepat, adil, dan tidak menyelisihi akidah.

Menelusuri Kata Toleransi

Kata toleransi merupakan hasil dari proses absorpsi bahasa dari kata berbahasa Inggris, toleration atau tolerance. Dalam “Oxford Dictionary” kisaran makna kata ini adalah mengizinkan suatu eksistensi, kejadian, atau praktik yang tidak disukai atau disetujui tanpa intervensi. Dalam bukunya “How The Idea of Religious Toleration Came to The West”, sejarawan Amerika Perez Zagorin mengartikan kata toleransi sebagai suatu praktek sengaja membiarkan dan mengizinkan hal yang tidak disetujui. Dari sini dapat disimpulkan bahwa makna kata toleransi ditinjau dari sumber bahasanya adalah praktik membiarkan dan menghormati sesuatu yang berbeda.

Adapun dalam bahasa Arab, kata toleransi diidentikkan dengan kata samâhah. Asal kata ini terdiri dari tiga huruf sa-ma-ha yang bermakna a’thâ (memberikan), adzina (mengizinkan), dan ajâza (membolehkan). Samâhah juga dimaknai dengan musâhalah (saling memudahkan) dan lîn (kelembutan). Sebagaimana perkataan Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam “Fathul Bâri” ketika mengartikan sabda Rasulullah SAW:

أحب الدين إلى الله الحنيفية السمحة
“ Makna dari as Samhah [dalam hadist] yaitu as sahlah (Mudah), artinya bahwa agama ini terbangun di atas kemudahan.”

Jelas, arti kata toleransi ditinjau dari akar bahasanya memuat perilaku yang perlu dikedepankan–selama tidak melanggar aturan dan norma yang lebih tinggi- dalam interaksi antar individu dengan latar belakang yang berbeda. Dan ini sejalan dengan nilai-nilai yang dibawa oleh islam.

Diskursus mengenai toleransi selalu dilekatkan dengan agama. Ini dikarenakan manusia dengan fitrahnya mempercayai suatu agama yang diyakini kebenarannya. Olehnya, dalam bukunya “Toleranzdiskurse”, Joachim Vahland mengutarakan bahwa secara historis kata toleransi dipakai dalam tulisan-tulisan yang menerangkan hubungan status minoritas dengan agama yang dominan di suatu negara. Di sinilah peran toleransi menjadi urgen agar tidak terjadi bentrokan klaim kebenaran yang berujung kekacauan antar pemeluk agama. Toleransi beragama yang dimaknai menghormati agama lain yang berbeda menjadi solusi konkret untuk mengatur hubungan antar umat beragama. Pemaknaan seperti ini juga mempertahankan kemurnian akidah agama yang diyakini seseorang.

Masalah mulai timbul ketika kata ini direduksi -atau bahkan didistorsi- maknanya untuk kepentingan golongan tertentu. Hal ini diakui oleh sejarawan non-muslim Australia Alexandra Walsham dalam bukunya, “Charitable Hatred: Tolerance and Intolerance in England,” ia mengatakan bahwa pemahaman toleransi saat ini boleh jadi sangat berbeda dengan makna historisnya. Lebih lanjut ia berujar bahwa toleransi dalam istilah modern telah dianalisis sebagai komponen tak terpisahkan dari pandangan liberal terhadap hak asasi manusia.

Secara sederhana, Hamid Fahmi Zarkasyi dalam kolom “Misykat” di koran harian Republika memaparkan pandangan liberal di atas, “… Menghormati agama lain kini tidak memenuhi syarat toleransi, toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain.” Lebih lanjut, menurutnya bahwa biang keladi dari distorsi makna ini adalah ideologi humanis sekuler yang ateis dan pluralisme agama yang bersumber dari pandangan liberal.

Pemahaman di atas jelas berbeda dengan asal-usulnya. Pandangan tersebut juga sangat bertentangan dengan akidah umat beragama secara umum, terlebih akidah agama islam yang dijaga otentitasnya oleh Allah SWT. Mustahil seseorang mengimani dua pandangan yang berbeda secara bersamaan. Iman seseorang terhadap suatu agama berkonsekuensi mengingkari agama lain.

Hal ini diakui sendiri oleh ahli teologi dan filsafat kekristenan, Kenneth R. Samples. Dalam jurnal penelitian agama Kristen yang berjudul “The Challenge of Religious Pluralism,” ia mengatakan, “ Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen.”

Islam Memandang Toleransi

Seorang muslim yang yakin dengan keislamannya akan spontan menjawab bahwa pandangan pluralisme terhadap kata toleransi adalah keliru dan utopis. Atas dasar ini, sangat diperlukan meletakkan kata ini sesuai makna asalnya yang tidak mencederai akidah. Dari sinilah terlihat pentingnya mendudukkan kata ini secara adil dan sesuai tempatnya.

Seorang muslim pasti meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW datang sebagai rahmat bagi seluruh alam dengan agama islam yang dibawa (Al Anbiya’: 107). Oleh sebab universalitas risalah islam ini, ia tidak akan melepas begitu saja aturan yang berkaitan dengan interaksi antar umat beragama. Salah satu nilai yang dibawa untuk mengatur hal ini adalah samâhah yang semakna dengan toleransi.

Samâhah atau samhah menjadi ciri khas agama islam. Hal ini tercermin dari sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam “Shahîh”-nya,

أحب الدين إلى الله الحنيفية السمحة

“ Agama yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah yang lurus lagi toleran.”
Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “Al Musnad”,

إني أرسلت بحنيفية سمحة

“ Sesungguhnya aku diutus dengan (agama) yang lurus lagi toleran.”

Toleransi yang tercantum dalam sabda Rasulullah SAW ini bukan sebagai klaim belaka. Sejarah panjang umat islam membuktikan keabsahan hal itu. Rasulullah SAW sendirilah yang mengawali dan mencontohkan kepada umatnya. Ketika mendapati umat Yahudi yang telah lama tinggal di Madinah, ia pun membuat perjanjian untuk mengatur interaksi umat yang berbeda keyakinan ini. Perjanijian ini dikenal dengan sebutan Piagam Madinah. Inilah piagam pertama di dunia yang berfungsi mengatur hubungan antar umat beragama.

Menyinggung hal ini, cendekiawan muslim Mesir, Muhammad Imarah, dalam bukunya “As Samâhah al Islâmiyah” menegaskan, “Demikianlah Rasulullah SAW merumuskan piagam ini dengan persamaan dan keadilan yang sempurna dalam mengatur hak dan kewajiban warga Negara, tidak pernah ada yang menyerupainya di luar Islam baik sebelum atau sesudahnya.”

Harus diakui bahwa sejarah umat Islam diwarnai peperangan dan penaklukan negara-negara lainnya. Akan tetapi peperangan dan penaklukan yang terjadi selalu disertai dengan adab yang tinggi. Seseorang yang menilai secara adil dan objektif peperangan yang terjadi di dunia ini lalu membandingkan antara peperangan umat Islam dengan umat atau peradaban lainnya, niscaya ia akan mengakui kemuliaan adab umat Islam.

Praktik seperti ini terus berlanjut dalam rentang sejarah Islam yang begitu panjang. Pernyataan ini tidak berlebih-lebihan karena fakta sejarah berbicara demikian. Penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh khulafaurrasyidin juga khalifah ataupun sultan setelahnya seperti Muawiyah bin Abi Sufyan, Shalahudin Al Ayyubi, Abdurrahman ad Dakhil, Alp Arslan, Nuruddin Zanki, hingga Muhammad Al Fatih, semuanya tidak lepas dari adab mulia yang diajarkan oleh Sang Pemimpin umat, Rasulullah SAW.

Kemuliaan ini tercermin dari perlakuan islam terhadap eksistensi lain yang mana islam senantiasa mengakui adanya agama lain di luarnya. Fakta ini diakui oleh salah satu sejarawan non-muslim, Karen Armstrong ketika mengomentari penaklukan Al Quds oleh Umar bin Khatthab , “Ia memimpin penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang mana kota itu belum pernah menyaksikannya sepanjang sejarah karena penuh dengan kisah tragis.” (Karen Armstrong, A History of Jerussalem: One city, Three Faiths).

Seorang orientalis Jerman, Zigred Hanke dalam bukunya yang telah diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan judul “Allah Laisa Kadzâlik,” memaparkan dengan jujur realita sebenarnya dalam penyebaran Islam. “Arab telah memainkan peran toleransi yang besar dalam penyebaran ajaran Islam, hal ini sangat bertentangan dengan apa yang selama ini dikatakan bahwa ia tersebar dengan api dan pedang.”

Redefinisi Toleransi

Dari uraian singkat ini tampak adanya pengaburan makna toleransi yang sebenarnya. Ia yang seharusnya menjadi payung bagi perbedaan yang ada dengan saling menghormati, kini memaksa semuanya melebur menjadi satu hingga akidah pun tergadaikan. Bisa jadi terdapat pemeluk agama tertentu yang menerima, tapi bagi Islam yang terjaga keasliannya, ini adalah bentuk pencederaan akidah.

Kerapkali, ketika ditinjau dari keyakinan ini umat Islam dianggap eksklusif dan intoleran sehingga sering terdengar statement- statement yang mendiskreditkannya. Akan tetapi fakta sejarah dan realita saat ini menjadi saksi bahwa yang dituduhkan sama sekali tidak benar. Sebaliknya, pihak penuduhlah yang mencoba mengaburkan kata toleransi dengan cara mendistorsi maknanya. Wallahu a’lam bish shawab.

**Tulisan ini merupakan tulisan kedua dari Tim Kajian Strategis Komisi Agama PPI Dunia yang terbentuk saat Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo. Tim kajian ini fokus terhadap isu-isu radikalisme agama di Indonesia.

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: