Kegiatan SI PPI Dunia 2014 Tokyo – Hari Kedua

 

IMG_2047

[Tokyo, Jepang] Simposium PPI Dunia hari kedua, 21 September 2014 menawarkan tema yang berbeda dan tidak kalah serunya dibandingkan hari pertama. Diskusi panel di pagi hari dimoderatori oleh Niken Adiba Nadya dari Tokyo Medical and Dental University dengan pemateri Dr. Warsito P. Taruno dan Dr. Eng. Khoirul Anwar yang masing-masing membawakan tema “Staring a Tech-Company in Indonesia” serta “Teknologi Telekomunikasi dan Masa Depan Kita”. Dr. Warsito memaparkan tentang CTECH Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edward Technology yang didirikannya serta mengulas penemuan-penemuan mutakhir beliau diantaranya alat pemindai 4D berbasis teknologi EVCT (Electrical Capacitance Volume Tomography) dan alat pembasmi kanker berbasis gelombang listrik statis. Saat ini beliau juga sedang mengembangkan penelitian tentang brain-to-brain communication.

Pembicara diskusi panel kedua, Dr. Eng. Khoirul Anwar mengawali presentasinya dengan memberikan analogi teori informasi H (entropy) hubungannya dengan PPI dunia, yaitu pentingnya menjaga keseimbangan antara peran individu pada dirinya sendiri, dalam keluarga, serta berpartisipasi dalam organisasi demi menghasilkan nilai H yang tinggi. Beliau juga menyampaikan tentang tiga gelombang pada keterhubungan bermacam perangkat., juga riset beliau dalam STAR CODE (STAR-struCtured Relaying for a global wireless Data Exchange”, serta menjelaskan tentang gambaran pemetaan telekomunikasi di Indonesia.

Pada akhir sesi diskusi, Dr Warsito berkesempatan memberikan testimoni, tips, serta pesan bagi generasi muda/para pelajar. Beliau menyampaikan bahwa acara ini sangat penting dalam membangun networking dan dapat pula memotivasi pelajar Indonesia untuk studi dan risetnya. Tips dari beliau terkait cara pemuda berkontribusi adalah pada usia di bawah 35 baiknya menimba ilmu sebanyak-banyaknya di luar negeri dan nanti usia berkarya di Indonesia dari usia 30-40an. Selain itu dalam technopreneurship, pondasi awalnya adalah keberanian karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya jadi perlu keberanian memulai dan keberanian memutuskan pilihan saat menghadapi tantangan, dan dalam memulai, partner menjadi hal penting apalagi yang bisa saling mendukung akan tetapi perlu diingat bahwa in the end of the day you are, yourself.

Dr . Eng. Khoirul menyampaikan harapannya terkait acara ini adalah dapat menyemangati para pemuda untuk tidak tertinggal khususnya dalam riset dan menantang para mahasiswa untuk dapat meng-apply grant. Selain itu harapan lainnya untuk akademisi dapat memiliki circle, topik yang bagus menghasilkan mahasiswa yang bagus, mahasiswa yang bagus menghasilkan grant yang bagus dan terus seperti itu membentuk circle dan juga topic-topik tugas akhir di universitas baiknya jangan hanya tentang pengujian dan pengembangan saja tetapi menciptakan teknologi baru. Dr. Khoirul juga berbagi terkait impian ke depannya, beliau ingin menerapkan teknologi variable not di seluruh Indonesia untuk memudahkan telekomunikasi dan menghindari proses koneksi yang terhambat.

Diskusi panel selanjutnya dimoderatori oleh Nadhila dari Waseda University, dengan pemaparan yang dibawakan oleh Prof. Dr. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr (Bupati Kabupaten Bantaeng) dan Muhammad Anwar Bashori (Deputy Director, Bank Indonesia Representative Office for East Asia). Diskusi diawali dengan presentasi dari Bapak Anwar Bashori dengan tema materi “Indonesia: Challenges and How to Move Forward?” yang menggambarkan tentang demografi populasi kelas menengah yang akan meningkatkan nilai permintaan, fenomena middle income trap, bagaimana menyiapkan infrastruktur, sumberdaya manusia dan penyebarannya untuk menhadapi bonus demografi pada tahun 2020 dll. Prof. Nurdin pada sesi selanjutnya memberikan inspirasi tentang bagaimana membangun Indonesia dari daerah yang dalam hal ini Kabupaten Bantaeng menjadi contoh nyata terealisasikannya pertumbuhan ekonomi.

Dalam pemaparannya, Prof. Nurdin memberikan contoh-contoh inovasi yang diterapkan di daerah Bantaeng misalnya pengadaan ambulans yang dinamakan Armada Brigade Siaga Bencana (BSB) yang merupakan ‘rumah sakit berjalan’ yang memadai untuk mengurangi angka keterlambatan dalam pertolongan terhadap masyarakat yang sakit. Selain itu ada pula Damkar (pemadam kebakaran) yang keduanya (dengan BSB) merupakan hasil kerjasama dengan para investor Jepang. Infrastruktur yang juga sedang dalam konstruksi yaitu akan dibangunnya RSUD yang lengkap dan Bantaeng Industrial Park. Di bidang pertanian, kabupaten Bantaeng menjadi pengekspor talas berkualitas ke Jepang, selain itu juga memproduksi Daiko dengan komoditas yang lebih baik dari yang dihasilkan Jepang. Dalam pemaparannya, Prof. Nurdin menekankan pentingnya membangun networking pada saat masih studi karena akan sangat berguna ke depannya ketika kita kan menapaki langkah untuk berkontribusi nyata bagi daerah kita ataupun secara umum Indonesia. Diskusi panel ini berlangsung dengan antusias para peserta yang sampai di akhir sesi masih banyak sekali pertanyaan yang belum dapat tertampung.

Acara simposium dilanjutkan dengan pengumuman pemenang Poster Delegasi PPI negara yang dimenangkan oleh PPI Tiongkok dengan judul poster “Inspirasi Kelola Transportasi dari Tiongkok” atas nama Fathan Asadudin dan Jane Yang. Koordiantor PPI Dunia, Pan Muhammad Faiz menyampaikan harapannya agar poster dari delegasi negara akan terus berlanjut di simposium PPI Dunia berikutnya karena dapat menjadi wadah untuk memperkenalkan hal-hal unik yang bisa menjadi indpirasi dari negara-negara studi para pelajar Indonesia.

Sesi diskusi panel berikutnya datang dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang dimoderatori oleh Ketua PPI Kanto, Shofratul Watoni, dengan pembicara Devi Erna Rachmawati, MBA, perwakilan dari LPDP beserta tiga perwakilan awardee LPDP yaitu Muhammad Arief dari Tokyo University of Technology, Neng Tanty Sofyana dari Osaka University, dan Naufal Rospriandana dari Hokkaido University yang memberikan testimoni serta pengalaman selama menjadi penerima manfaat beasiswa LPDP. Dalam kesempatan ini Ibu Devi menyampaikan tentang latar belakang dibentuknya LPDP, visi misi LPDP, dan program-program yang ditawarkan.

Di antara program yang ditawarkan adalah Beasiswa Master dan Doktor (Dalam dan Luar Negeri), Beasiswa Tesis dan Disertasi, Beasiswa Afirmasi bagi daerah-daerah 3 T, beasiswa IPS (Indonesian Presidential Scholarship) yang merupakan beasiswa Master dan Doktor untuk 50 universitas terbaik di dunia, beasiswa speasialis untuk kedokteran, program dana riset dengan nilai 500 juta-2 M, dan rehabilitasi sekolah-sekolah. Ibu Devi juga menyampaikan bahwa LPDP bisa menjadi alternatif pilihan bagi para pemuda Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan difasilitasi bukan hanya dari segi finansial yang lengkap namun juga pembekalan secara moril yang diperoleh dari program kepemimpinan. Acara diskusi ini berjalan lancar dan dipenuhi keantusiasan peserta yang ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang mengalir kepada narasumber bahkan di luar sesi diskusi.

Acara berlanjut dengan presentasi dari pemenang lomba esai pre-event simposium PPI Dunia yang berasal dari Fakultas Ekonomi UI , yaitu Gisty Ajeng Septami dan Rachmat Resca. Mereka menyampaikan presentasi esai dengan judul “Alokasi Dana Anggaran Pendidikan 20% Kegagalan Institusi dalam Mengemban Amanah Konstitusi”. Gisty (yang bercita-cita menjadi seorang ekonom) ini berbagi cerita bahwa mengetahui adanya lomba ini dari teman dan ide awal tulisan ini ketika browsing internet tentang PISA (Program of International Student Assessment) dan merasa tergelitik untuk mengkaji lebih lanjut kaitannya dengan pendidikan Indonesia. Gisty menambahkan apresiasinya terkait terselenggaranya acara ini karena bisa mendapatkan informasi lintas bidang tidak hanya sains tetapi juga humaniora, dll.

Sesi terakhir untuk simposium hari ini adalah presentasi dari NET TV yang dibawakan oleh Adrian Zakhary (Produser NET.) dengan presentasi yang berjudul “The Power of Citizen Journalist”. Adrian memaparkan bahwa setiap NET. memiliki salah satu produk yang bernama NET CJ yang dapat memfasilitasi masyarakat dalam hal ini beliau memberi gambaran pelajar-pelajar yang ada di luar negeri untuk dapat berbagi ide, cerita, dan kreatifitas melalui video yang dapat dikirimkan ke NET CJ yang nantinya akan diolah menjadi karya informatif yang dapat ditayangkan di NET. TV dan dengan mudah dapat diakses di web NET itu sendiri ataupun YouTube sehingga khalayak dapat pula menerima ide dan cerita dari kawan-kawan di mancanegara. Presentasi dari NET mengakhiri rangkaian acara simposium PPI Dunia 2014, di akhir acara semua peserta dan panitia berfoto bersama. Setelah penutupan acara simposium, kongres PPI Dunia hari pertama pun diselenggarakan yang rencananya akan berjalan dua hari, hari ini dan esok hari.

Sumber: PPI Jepang

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: