Konferensi Ilmiah Sambil Jalan-Jalan

Halo, nama saya Kiki Wirianto. Saya baru saja lulus dari TU Delft pada bulan Januari 2016 lalu. Di TU Delft saya mengambil program master di jurusan Electrical Engineering dengan track Microelectronics. Pada kesempatan kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya dalam mengikuti salah satu konferensi di bidang elektronika.

(Wait!!! Isn’t this article supposed to be about conference???)
(Wait!!! Isn’t this article supposed to be about conference???)

International Conference on Embedded Computer Systems: Architectures, Modeling, and Simulation

Konferensi yang saya ikuti adalah International Conference on Embedded Computer Systems: Architectures, Modeling, and Simulation. Nama konferensi ini dipersingkat menjadi SAMOS, sesuai dengan lokasi acara tersebut, yaitu pulau Samos di Yunani. Konferensi ini pertama kali diadakan pada tahun 2001 dan diprakarsai oleh Stamatis Vassiliadis, seorang professor dari TU Delft yang berasal dari pulau Samos. Beliau meninggal pada tahun 2007 setelah berhasil menggelar konferensi dan workshop di pulau tersebut sejak tahun 2001. Setelah kepergian beliau, konferensi tahunan SAMOS tetap dilanjutkan dan diorganisir oleh sahabat-sahabat beliau. Saya turut serta dalam konferensi SAMOS pada tahun 2015, yang merupakan edisi ke-15 (SAMOS XV). SAMOS XV disponsori oleh IEEE Circuits and Systems (CAS) Society dan IEEE Solid State Circuits Society (SSCS) chapter Jerman. Seluruh paper yang diterima pada konferensi ini dipublikasikan oleh IEEE dan tersedia secara online di IEEE Xplore.

SAMOS sendiri terkenal sebagai sebuah technical conference yang unik. Dikutip dari laman konferensi:

SAMOS is a unique conference. It deals with embedded systems (sort of) but that is not what makes it different. It brings together every year researchers from both academia and industry on the quiet and inspiring northern mountainside of the Mediterranean island of Samos, which in itself is different. But more importantly, it really fosters collaboration rather than competition. Formal and intensive technical sessions are only held in the mornings. A lively panel ends the formal part of the day, and leads nicely into the afternoons and evenings — reserved for informal discussions, good food, and the inviting Aegean Sea.

Setelah saya turut serta dalam konferensi tersebut, saya dapat mengatakan bahwa hal tersebut benar.

Proses Penulisan Paper

Konten dari paper yang saya submit ke SAMOSXV merupakan bagian dari tesis saya di grup Circuits and Systems (CAS), TU Delft. Dalam pengerjaan tesis ini saya dibimbing oleh dr. Rene van Leuken, dr. Amir Zjajo, dan dr. Carlo Galuzzi. Rene merupakan associate professor dan Amir merupakan research fellow di grup CAS TU Delft, sedangkan Carlo merupakan assistant professor di Department of Knowledge Engineering, Maastricht University.

Pada saat saya mulai mengerjakan tesis, saya tidak membayangkan sama sekali akan menulis paper. Barulah beberapa bulan setelah itu, saya mengetahui bahwa supervisor saya (Rene) selalu mewajibkan mahasiswa bimbingannya untuk menulis minimal 1 paper sebelum lulus. Mendengar hal itu saya cukup kaget, namun juga merasa excited dan tertantang. Saya memiliki pengalaman menulis beberapa paper saat bachelor, namun saya cukup yakin bahwa menulis paper di TU Delft akan jauh lebih sulit.

Setelah proses pengerjaan tesis saya mencapai lebih dari 50%, para pembimbing dan saya mulai berdiskusi mengenai konferensi-konferensi yang kemungkinan dapat saya ikuti. Rencana awal kami adalah menulis sebuah paper yang menggabungkan hasil kerja beberapa orang di project kami. Saat itu saya cukup tenang karena tidak harus menulis full sebuah paper. Namun seiring berjalannya waktu, rencana berubah dan pada akhirnya saya harus menulis satu paper sendirian! Bahkan paper saya akan menjadi bagian dari mid-term results H-INCEPTION project, yang merupakan sebuah project kerja sama negara-negara di Eropa untuk mengembangkan suatu design environment untuk virtual prototyping system microelectronics yang multi-domain.

Setelah hal tersebut diputuskan, maka mulailah saya menyusun draft pertama berdasarkan hasil-hasil yang saya dapat dari pengerjaan tesis saya. Setelah draft selesai, saya bertemu dengan para pembimbing untuk mendiskusikannya. Mereka cukup senang (dan terkesan) karena saya dapat menyelesaikan sebuah draft paper yang lengkap. Mereka memberi banyak masukan dan tentu saja segala konten dan tata letak harus berubah total. Perlahan-lahan semuanya saya kerjakan dan pada akhirnya, setelah kurang lebih satu bulan, paper tersebut selesai. Mengerjakan sebuah paper dengan 3 orang pembimbing bukanlah merupakan suatu hal yang mudah. Ketiganya memiliki permintaan masing-masing dan kadang kala terjadi bentrok di antara keinginan mereka. Selama satu bulan pengerjaan tersebut, dalam seminggu saya dapat bertemu 3-4 kali dengan mereka dan ada sekitar 20 draft yang saya hasilkan. Pada saat yang sama, mereka juga terus mendorong saya untuk mendapatkan hasil eksperimen yang maksimal. Pada kurun waktu tersebut, tak jarang saya bekerja di lab sampai saat gedung fakultas akan tutup, dan kembali keesokan paginya. Namun semua jerih payah ini tidak sia-sia saat saya melihat paper yang telah rampung. Paper tersebut berjudul “Multi-Domain SystemC Model of 128-Channel Time-Multiplexed Neural Interface Front-End”.

Persiapan Keberangkatan

Setelah paper tersebut rampung, maka dimulailah proses persiapan keberangkatan saya ke SAMOSXV. Persiapan dimulai dengan registrasi online pada situs konferensi. Setelah itu, untuk proses pembayaran saya dibantu oleh sekretaris grup CAS, ibu Minaksie Ramsoekh. Beliau banyak membantu saya tidak hanya dalam persiapan konferensi ini, tetapi juga selama saya mengerjakan tesis di grup tersebut. Kemudian, saya memesan tiket pesawat dan akomodasi. SAMOSXV diadakan pada tanggal 19-23 Juli 2015. Pulau Samos sendiri bukan merupakan tujuan wisata utama di Yunani, namun saya beruntung karena masih ada penerbangan langsung dari Amsterdam, walaupun tidak setiap hari. Setelah melihat opsi-opsi yang ada, akhirnya saya memesan tiket Transavia untuk penerbangan tanggal 17 dan 24 Juli. Saya juga memesan hotel untuk akomodasi selama saya berada di sana. Hal ini cukup unik karena untuk memesan hotel, saya langsung bertukar pesan via email dengan pemilik hotel tersebut. Segala persiapan keberangkatan ini cukup lancar, dan yang membuat saya kagum adalah bantuan yang diberikan oleh kampus. Hal-hal yang dapat dibayarkan di muka langsung ditanggung oleh TU Delft, sedangkan untuk hal-hal lainnya, saya cukup menyimpan bukti pembayaran dan pengeluaran tersebut akan diganti setelah saya kembali.

Berangkaaaat!!!

Jadwal penerbangan saya adalah hari Jumat, 17 Juli 2015, pukul 5.35 pagi. Saya pun memutuskan untuk berangkat dengan kereta paling malam dari Delft (sekitar pukul 11 malam) dan menunggu di bandara Schiphol. Saya beruntung karena ada seorang teman saya dari fakultas yang juga ikut serta di konferensi dan ternyata ia juga akan berangkat dengan penerbangan yang sama. Ia bernama Joost dan merupakan putra asli Delft. Setelah menunggu beberapa jam, kami pun berangkat menuju ke pulau Samos. Penerbangan memakan waktu sekitar 3,5 jam.

Setibanya di sana, saya naik taksi untuk menuju ke desa tempat berlangsungnya konferensi, yaitu Agios Konstantinos. Setelah kurang lebih 40 menit, saya tiba di lokasi tersebut dan check in di hotel yang telah saya pesan, yaitu Villa Agios Konstantinos. Kamar yang saya dapat cukup besar dengan ruang tengah, dapur, dan kamar tidur untuk 2 orang. Setelah check in, saya dan Joost pun langsung mencari makan siang karena kelaparan setelah perjalanan panjang. Di desa ini terdapat beberapa tavern, yaitu restoran di pinggir pantai yang menghidangkan makanan khas Yunani dan seafood. Tavern yang pertama kali kami singgahi adalah To Kyma. Saya memesan udang bakar yang dihidangkan dengan nasi. Setelah makan, kami juga diberi makanan penutup yang lezat secara cuma-cuma. Satu hari tersebut kami habiskan untuk mengelilingi desa Agios Konstantinos.

Keesokan harinya, saya dan Joost mengunjungi desa yang bertetangga dengan Agios Konstantinos, yaitu Kokkari, untuk menyewa mobil (loh, ini katanya artikel tentang konferensi, kok sewa mobil?).

Inilah penampakan mobil yang kami sewa. Cool, isn’t it?
Inilah penampakan mobil yang kami sewa. Cool, isn’t it?

Setelah menyewa mobil, kami pun lebih leluasa mengelilingi pulau Samos. Lagi pula, bulan Juli sudah termasuk waktunya liburan musim panas, jadi tidak ada salahnya jika kami berjalan-jalan sedikit, kan? Hampir seluruh pantai di pulau Samos merupakan pantai berbatu. Karena itu, beberapa pantai berpasir di pulau tersebut cukup terkenal, salah satunya adalah Psili Ammos. Saya dan Joost menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat ini. Demikianlah kami menghabiskan hari Sabtu kami.

Peta pulau Samos (sumber: maps.google.com)
Peta pulau Samos (sumber: maps.google.com)

Hari Minggu, 19 Juli adalah hari pertama SAMOSXV. Kegiatan dimulai dengan registrasi peserta dan pembagian jadwal, name tag, dan kaus. Saya mendapatkan jadwal presentasi pada hari Selasa siang (Ups, saya belum mepersiapkan presentasi). Acara pada hari ini adalah workshop VIPES (Virtual Prototyping of Parallel and Embedded Systems) yang diisi oleh narasumber dari industri maupun akademia dari berbagai negara. Workshop tersebut berlangsung dari pagi dan berakhir pukul 17.00. Pada sela-sela acara, saya dan Rene berdiksusi untuk mempersiapkan presentasi yang akan saya bawakan pada hari Selasa.

Pada hari Senin, acara konferensi dimulai dan para peserta yang telah diundang pun satu per satu mempresentasikan paper mereka. Saya sendiri kembali mempersiapkan dan merampungkan presentasi saya. Seperti yang telah dijanjikan pada awal artikel ini, sesi formal hanya diadakan dari pagi hingga siang hari. Acara pada hari ini berakhir pada pukul 12.40 dan dilanjutkan dengan social eventBoat Tour and Beachnote”. Beachnote adalah keynote speech yang dilakukan di pinggir pantai. Para peserta menumpangi bus yang telah disediakan oleh panitia untuk berangkat menuju ke pelabuhan di kota Pythagoreio. Saya, Joost, dan Zaid (seorang profesor muda dari TU Delft) dengan sotoynya memutuskan untuk naik mobil yang kami sewa untuk menuju ke pelabuhan. Dapat ditebak, ketika kami sampai di sana, kapal yang seharusnya kami tumpangi pun sudah meninggalkan pelabuhan. Kami pun memutuskan untuk makan siang di sekitar pelabuhan dan bertamasya mengelilingi desa tersebut. Ternyata pulau Samos adalah tempat kelahiran Pythagoras! Ya, benar, Pythagoras yang rumusnya sering kita gunakan itu! Di pelabuhan tersebut terdapat monumen untuk mengenang sang matematikawan.

The Statue of Pythagoras
The Statue of Pythagoras

Setelah puas berjalan-jalan, sore harinya kami kembali ke Agios Konstantinos dan saya pun mulai mempersiapkan diri untuk presentasi esok hari dengan berlatih sambil menyesuaikan kecepatan berbicara saya dengan waktu yang disediakan.

Hari Presentasi

Selasa, 21 Juli 2015. Akhirnya hari presentasi saya tiba. Hari-hari yang biasanya dimulai tanpa beban pun berubah menjadi menegangkan. Kebetulan Joost juga mendapatkan jadwal presentasi pada hari dan waktu yang sama dengan saya. Saya pun duduk manis memperhatikan peserta-peserta yang prsentasi sebelum saya. Sesaat menjelang waktunya saya untuk presentasi, tiba-tiba listrik padam. Ternyata hal tersebut memang lumrah di pulau Samos dan itu terjadi tepat saat saya akan mulai! Saya yang sudah mencapai puncak ketegangan pun dapat sedikit rileks. Setelah beberapa saat (kurang dari 30 menit), listrik kembali menyala. Ternyata presentasi di ruangan sebelah berjalan lancar sehingga Joost telah menyelesaikan presentasinya sebelum listrik padam. Presentasi saya dan Joost seharusnya menjadi presentasi terakhir di hari itu. Namun karena Joost telah menyelesaikan presentasinya, akhirnya ruangan besar yang tadinya dipisahkan untuk mengakomodir dua ruang presentasi kembali digabung menjadi satu and I have the whole audience! Namun syukurlah saya dapat melakukan presentasi dengan baik dan menjawab pertanyaan yang ada dengan lancar. Selesai sudah kewajiban saya di Samos, selanjutnya tinggal menikmati acara-acara yang ada! 😀

5

Setelah acara pada hari Selasa selesai, seluruh peserta naik bus menuju ke Psili Ammos, pantai berpasir yang saya dan Joost telah kunjungi pada hari Sabtu. Kami tidak mau mengambil resiko dan ikut naik bus dengan rombongan. Karena Joost dan saya sudah puas bermain dan berenang pada hari Sabtu, kali ini kami memutuskan untuk bersantai di pinggir pantai dan bermain sedikit sepak bola. Pada saat makan siang, kami berkesempatan untuk bertemu Marco Jacobs. Presentasi Marco adalah salah satu yang menarik bagi saya. Presentasinya berjudul “Visual processing sparks a new class of processors” dan menjelaskan penggunaan kamera beresolusi tinggi pada aplikasi otomotif dan bagaimana perkembangan dalam bidang inilah yang akan membuat mobil nirawak dapat direalisasikan pada masa depan. Dan ternyata Marco juga merupakan alumni dari TU Delft (Yeah, TU Delft rules!).

Hari Rabu adalah hari terakhir konferensi dan pada malam harinya diadakan makan malam bersama untuk seluruh peserta. Pada malam tersebut juga diberikan penghargaan kepada paper terbaik. Makan malam diadakan di tavern To Kyma karena memang makanan di tavern tersebut adalah yang terbaik di Agios Konstantinos.

Suasana makan malam di To Kyma menjelang matahari terbenam
Suasana makan malam di To Kyma menjelang matahari terbenam

Pada hari Kamis, diadakan acara hiking ke desa Manolates, desa tempat kelahiran profesor Stamatis Vassiliadis, pionir konferensi SAMOS. Perjalanan ke Manolates memakan waktu sekitar 1,5-2 jam. Desa di atas gunung ini cukup indah dengan lorong-lorong kecil dan pemandangan yang menarik. Setelah makan siang dan berkeliling, para peserta turun kembali ke Agios dan dilanjutkan dengan acara bebas. Keesokan harinya saya pun terbang kembali menuju ke Amsterdam bersama Joost.

Penutup

Pengalaman mengikuti SAMOSXV merupakan salah satu pengalaman yang menyenangkan selama saya berkuliah di Belanda. Jerih payah yang saya lakukan dalam menyusun paper terbayarkan dengan jalan-jalan gratis yang dibiayai oleh TU Delft (loh?). Saya sendiri merasa beruntung dapat berpartisipasi di konferensi yang unik seperti SAMOS. Iklim yang santai menghilangkan kecanggungan di antara para peserta dan membuat proses pertukaran pengetahuan menjadi lebih cair. Saya merasa seperti anak bawang di tengah-tengah para peneliti dan profesional dengan segudang pengalaman mereka. Dukungan dari kampus juga sangat membantu dalam mempersiapkan hal-hal menjelang keberangkatan. Demikian cerita saya, semoga dapat menghibur dan menginspirasi pembaca. Terima kasih!

Beberapa laman yang berhubungan dengan artikel ini:

  1. Laman konferensi SAMOSXV

http://samos-conference.com/Previous_Samos_Websites/SAMOS_2015/index.html

  1. Multi-Domain SystemC Model of 128-Channel Time-Multiplexed Neural Interface Front-End” di IEEE Xplore

http://ieeexplore.ieee.org/xpl/articleDetails.jsp?arnumber=7363688

Galeri foto:

Bandara Internasional Samos
Bandara Internasional Samos
Villa Agios Konstantinos
Villa Agios Konstantinos

9

Ruang tengah dan kamar hotel di Villa Agios Konstantinos
Ruang tengah dan kamar hotel di Villa Agios Konstantinos
Udang bakar dan nasi di tavern To Kyma
Udang bakar dan nasi di tavern To Kyma
Makanan penutup gratis dari To Kyma
Makanan penutup gratis dari To Kyma
Suasana salah satu panel discussion
Suasana salah satu panel discussion
Hiking ke Manolates
Hiking ke Manolates
Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: