Kuliah di Belanda, Tak Seperti Cerita Negeri Van Oranje

Takdir yang membawa saya kesini, sebuah tempat peraduan baru untuk kembali berjuang

Tempat dimana waktu untuk mengeluhpun tidak ada. Dan saya hanya memiliki malam sunyi, untuk saya sampaikan laraku ke tuhanku, saat dimana saya mengadu ke bumi dan dijawab oleh langit.

Bahkan saya tidak pernah tahu apa yang masa depan tawarkan untuk saya, saya tidak tahu dan tidak cukup banyak waktu untuk mencari tau

 

Jika kamu membayangkan kuliah di Belanda itu seperti film Negeri Van Oranje, maka ada baiknya kamu buang angan-angan itu. Kuliah di Belanda itu seperti merasakan segelas cappuccino hangat di musim hujan, perpaduan antara espresso dan susu sangat terasa. Espresso yang menandakan ekstrak kopi yang kuat, mewakili sebuah keyakinan dan ambisi yang tidak jarang harus melewati rasa teramat pahit untuk menikmatinya. Sedangkan susu mewakili bilik-bilik keindahan di sela-sela pengalaman menempah diri. Begitulah perumpamaan anak rantau yang tinggal di luar negeri. Terdapat optimisme dan juga masalah yang tak jarang harus menguras pikiran dan tenaga. Semuanya akan saya rangkum dalam cerita singkat saya kali ini

Sistem Kuliah

Di belanda, khususnya di Technische Universiteit atau kalau di Indonesia adalah perguruan tinggi institut, perkuliahan dilakukan per-kuartil bukan semester. Pada umumnya dalam 1 kuartil, para mahasiswa mengambil 3 mata kuliah yang berbobot total 15 ects. 1 ECTS sendiri berarti 25 jam studi, berarti selama 3 bulan para mahasiswa harus meluangkan waktu selama 375 jam untuk belajar. Disini, jangan berharap pada minggu pertama adalah ‘minggu tenang’. Sebaliknya pada minggu pertama, kita dituntut langsung benar-benar belajar. Tugas-tugas dan projek akhir langsung diumumkan dan pada saat itu juga langsung disuruh  membuat kelompok kerja. Begitulah orang belanda yang sangat disiplin soal waktu. Sehingga jadwal-jadwal deadline juga sudah diumumkan. Secara bersamaan, kita juga harus memperhintungkan kapan jadwal ujian akhir quartile. Jadi jika salah persiapan sedikit saja, maka jadwal perkuliahan pasti akan kacau dan pasti berdampak ke jadwal perkuliahan selanjutnya.

Berbeda dengan saat saya dulu kuliah di Indoenesia, yang dimana menggunakan sistem semester. Saya cenderung lebih santai, karena saya akan disibukkan oleh tugas-tugas kuliah dan ujian beberapa bulan menjelang semester berakhir. Dan kebiasaan ini terbawa saat kuliah disini. Alhasil saya kalang kabut menjalani kuartil pertama saya. Selain belajar, saya juga harus memikirkan makan apa hari ini, mencuci pakaian dan tentunya membersihkan kamar. Jangan harap bisa sewa GoClean disini, mengingat harga jasa manusia di Belanda sangat mahal sekali. Sebagai gambaran untuk pelayan di restoran bisa 7 euro per jam, yang dimana sekitar 100 ribu rupiah. Jadi untuk mahasiswa, uang sebanyak itu lebih baik digunakan untuk kebutuhan lain

Sialnya, planning saja tidak cukup, dibutuhkan komitmen penuh dalam melaksanakannya. Gaya belajar yang dipakai di Indonesia dengan sistem kebut semalam bisa saya pastikan tidak bisa diterapkan disini. Karena kita dituntut hafal dan faham terhadap suatu mata pelajaran

Standar Nilai Yang Tinggi

Saat S1 dulu, tugas biasanya dinilai berdasarkan hasil akhir dan kesimpulan. Bermodalkan mindset ‘yang penting selesai’ saja mungkin kita sudah bisa mendapatkan nilai bagus. Sayangnya hal ini tidak bisa diterapkan disini, terutama untuk mengerjakan tugas essay. Untuk tugas essay, konten dari tulisan kita sangat diperhatikan, bahkan sampai level terekstrim yaitu kata per kata. Kesalahan kecil bakal dapat ditemukan. Analisis dan argumen kita bakal diperhatikan  dengan sangat detail, masuk akal atau tidak. Jadi, jangan harap akan mendapatkan nilai bagus dengan tulisan panjang tetapi konten dan isinya tidak jelas dan tidak tepat sasaran

Dosen yang Suportif

Dosen disini selalu bisa meluangka waktunya untuk mahasisa-mahasiswanya jika mereka ada kendala atau pertanyaan mengenai materi kuliah. Mereka dengan senang hati menjelaskan kembali hal-hal yang dirasa kurang jelas. Untuk meminta bertemu dengan dosen sangatlah mudah, cukup email dosen tersebut dengan 1-2 kalimat jelas dan simpel saja. Dosen tersebut pasti akan membalasnya. Tetapi kebaikan dosen tersebut jangan disalah artikan. Untuk penilaian, para dosen tidak main-main, mereka sangat objektif.

Perpustakaan

Berbeda dengan di Indonesia, disini perpustakaan tidak pernah sepi kecuali saat liburan. Meskipun orang belanda sangat bisa menikmati hidup, tetapi jika sudah urusan belajar maka mereka akan fokus tidak sambil buka FB, game atau hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi. Dari sini saya melihat prinsip work hard and play harder benar-benar diimplementasikan.

What’s Going On

Kuliah di belanda sejujurnya tidak seindah yang dibayangkan, disini saya digembleng untuk bisa fokus dan disiplin. Bukanlah perkara mudah bisa survive sampai sekarang. Ancaman Drop Out itu nyata adanya dan tidak bisa ditawar. Jadi untuk diterima kuliah di Belanda ini tergolong mudah, tetapi untuk bisa survive itulah tantangannya. Jadi jika ada mahasiswa yang menyelesaikan kurang dari 30 ects dalam 1 tahun maka mahasiswa tersebut akan dideportasi. Sebagai catatan, normalnya mahasiswa selama 1 tahun menyelesaikan 60 ects.

Dan untuk lulus kuliah, untuk sebagian orang adalah suatu yang mewah. Saya pernah mengalami masa ini dimana untuk lulus satu mata kuliah saja susahnya minta ampun. Percaya atau tidak, pada quartile pertama, saya tidak ada satupun mata kuliah yang lulus. Alhasil saya harus mengulang ujian pada quartile selanjutnya. Sehingga pada quartile 2 saya harus menempuh 6 ujian (2 kali lipat), bahkan ada 1 hari dimana saya harus mengambil 2 ujian.  Hal ini cukup berat buat saya, bahkan terbesit pikiran untuk pulang saja ke Indonesia. Akan tetapi saat ingin menyerah saya selalu teringat perjuangan Iwa Koesoemasoemantri, Achmad Soebardjo, Mohammad Hatta, dan Ali Sastroamidjojo, para pembesar-pembesar Negara kita dalam menuntut ilmu disini. Barang tentu mereka dihadapkan kondisi yang lebih berat daripada saya. Akhirnya saya membulatkan tekad untuk menghadapi ini semua. Terhitung 1 bulan sebelum ujian, saya ke perpustakaan dari jam 10 pagi hingga jam 10 malam setiap hari tanpa ada yang terlewat 1 hari pun. Dan hasilnya, Alhamdulillah saya lulus semua, bahkan study advisor saya mengatakan bahwa case saya ini sangatlah langkah dan mereka masih tidak percaya jika saya bisa lulus semua mata kuliah tersebut. Ini tidak pernah mudah, tidak akan pernah, tetapi kita akan selalu diberi kesempatan berusaha dan membuktikannya bahwa kita generasi yang pantang mengucapkan kata menyerah.

Dari sini, hikmah yang dapat diambil adalah, datanglah kesini, ambil impianmu kemari meskipun melalui jalan yang tidak mudah. Hadapi dan jangan pernah lari. Karena perjuangan ini semua akan sepadan pada akhirnya. Tidak berhenti sampai disitu,  barang tentu akan ada banyak rintangan yang akan menghadang selama masa perkuliahan, tetapi bukankah itu yang disebut perjuangan. Selalu ada di hidup ini untuk diperjuangkan agar membuat hidup kita menjadi semakin berharga.

Sebagai penutup,

Jangan percaya dengan cerita Film negeri van oranje yang berisikan jalan-jalan, makan, bersenang-senang dan tentu dibumbuhi romansa, karena seyogyanya tidaklah demikian

Jangan percaya dengan foto mahasiswa jalan-jalan, karena dibalik itu semua terdapat pengorbanan tidak membelanjakan uang untuk sekedar jajan makanan

Jangan percaya dengan senyum keceriaan mereka, karena dibelakang itu ada rasa lega setelah lepas ujian dan mengerjakan tugas kuliah yang secara ajaib bisa diselesaikan

Jangan percaya dengan rasa senang yang kita tampilkan, karena ada rasa rindu tak tertahankan akan kampung halaman dan orang-orang tersayang

Kita disini berjuang, hanya saja kami memang enggan membagikan

Seperti segelas cappuccino panas di musim hujan, akan ada rasa pahit di dalamnya, dan bagi kami itu adalah sebuah rasa yang akan selalu kami nikmati

Ditulis oleh Hatta Bagus Himawan

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: