Kuliah di Luar Negeri, Maunya Gimana?

Sadar atau tidak sadar, saat ini jumlah pelajar Indonesia yang pergi ke sekolah ke luar negeri meningkat signifikan. Setidaknya dengan kehadiran lembaga pemberi beasiswa dari pemerintah Indonesia seperti Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) RI menjadi salah satu penyebab fenomena tersebut. Kuliah di luar negeri bukan lagi menjadi sebuah hal yang jarang dan unik, namun sudah semakin sering ditemukan.

Setidaknya kita bisa melihat dari semakin banyaknya teman di social media kita yang mengunggah foto dirinya sedang bergaya di eropa, asia, dan amerika dalam akun social media. Bulan ini ada di Negara A, sebulan kemudian ada di Negara B, lalu beberapa kemudian berpindah ke Negara C. sekilas, seolah kuliah di luar negeri adalah jalan-jalan gratis yang difasilitasi oleh para pemberi beasiswa.

Saya sendiri merupakan seorang awardee beasiswa dari pemerintah Indonesia melalui LPDP RI. Saat ini saya diberi amanah untuk melanjutkan studi di Faculteit der Rechtsgeleerdheid (Fakultas Hukum), Universiteit Leiden, Belanda. Bagi saya yang sebelumnya tidak pernah ke luar negeri dan memiliki bahasa inggris pas-pasan, hal ini tentu saja terlihat sangat menyenangkan. Bisa kuliah di luar negeri sembari jalan-jalan keliling eropa,.

Apabila berkaca pada sejarah bangsa Indonesia, maka bukan sekarang saja banyak orang Indonesia yang pergi ke luar negeri untuk menempuh studi, namun hal ini sudah terjadi bahkan sejak tahun 1908, sebelum Indonesia merdeka. Pada zaman itu, sudah ada bangsa Indonesia yang pergi ke luar negeri, hal ini dapat ditemukan dalam bukunya Mohammad Hatta yang berjudul “Untuk Negeriku”. Hatta pada saat datang ke Belanda pada tahun 1920an bukanlah gelombang yang pertama datang. Namun, ketika Hatta datang, sudah ada masyarakat Indonesia yang berdiaspora ke eropa. Entah sebagai pelajar, ada yang sebagai pekerja, dan ada juga karena pernikahan dengan orang Belanda.

Sebagai pelajar, setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lihat dari sejarah tersebut. Hatta pergi ke luar negeri meninggalkan Bukittinggi, kota asalnya dengan mimpi yang tinggi, Untuk Indonesia. Apapun yang terjadi di eropa, setidaknya setiap aktifitasnya tidak pernah luput dengan memikirkan apa yang bisa dilakukan nanti untuk Indonesia merdeka. Pada masa itu, Hatta datang ke Rotterdam dan sudah melakukan konsolidasi dengan berbagai pelajar Indonesia di Belanda dengan melanjutkan organisasi pelajar Indonesia di Belanda. Tercatat dalam bukunya, Hatta tidak hanya bergaul dengan orang Indonesia di Belanda saja. Hatta pernah mewakili pelajar Indonesia dalam Kongres Demokrasi yang diadakan di Bierville, Perancis. Pernah juga dipenjara oleh pemerintah belanda karena dianggap bertindak makar dalam kegiatan organisasinya. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat Hatta dalam terus melakukan pergerakan di luar negeri untuk terus mendukung perjuangan Indonesia merdeka.

Melihat pada sejarah diatas, apakah profil semua pelajar di luar negeri Indonesia pada saat itu seperti Hatta? Tentu saja tidak. Ada juga yang menganggap bahwa lebih baik tidak usahlah memikirkan Indonesia. Sudah tinggal di eropa dan hidup enak, lebih baik selesaikan studi dan mengabdi pada pemerintahan Belanda atau tinggal saja di eropa. Ada juga yang memilih jalur yang agak ditengah, aktif di beberapa kegiatan, namun sekenanya saja.

Mungkin fenomena tersebut bisa memberikan sedikit gambaran tentang pelajar Indonesia di luar negeri sekarang pada umumnya. Ada yang aktif sekali di organisasi semacam PPI, LSM internasional, atau organisasi lainnya. Ada juga yang memilih berada di tengah-tengah, yang aktif sekenanya, namun sesekali hilang ditelan bumi. Ada juga yang berpikir lebih baik belajar saja, tidak usah aktif dimana-mana. Kemudian ada juga yang berpikiran untuk menjauh dari komunitas Indonesia, karena ingin bergaul secara internasional, dan berbagai macam jenisnya. Pertanyaannya, salahkah demikian? Saya bisa bilang, tidak salah, hal itu pilihan. Selama masih berpikir, apa yang dilakukan saat ini adalah investasi untuk Indonesia ke depannya. Mau berorganisasi, mau sekenanya, mau hanya belajar saja, atau mau bergaul dengan mahasiswa internasional tidak ada yang salah dari itu semua,.

Yang paling penting dari setiap pilihan tersebut, apakah dalam setiap pilihan kita ada alasan “Untuk Indonesia” dalam setiap dasar pemilihannya. Karena apapun yang kita lakukan di luar negeri, maka alasan untuk pulang haruslah selalu ada. Kita bisa memilih mengikuti jejak Hatta dan berbagai tokoh pada zamannya, yang memilih berpolitik sekaligus berkuliah. Berkeliling eropa mencari dukungan dan mencari pengetahuan untuk Indonesia merdeka, membuat organisasi Perhimpunan Indonesia di Belanda menjadi sorotan pemerintah Belanda pada saat itu. Lalu kembali ke Indonesia, dan berkontribusi untuk Indonesia, sampai Indonesia merdeka, dan menjadi wakil presiden Indonesia yang pertama.

Kita juga bisa mencontoh B.J. Habibie, yang mungkin beliau tidak banyak aktif di berbagai kegaiatan. Namun, Habibie memfokuskan diri dalam pengembangan diri, belajar sampai menjadi ahli, ketika negara memanggil, dengan sekuat tenaga beliau berusaha pulang ke Indonesia. Bahkan ketika di anugerahi warga kehormatan German, Habibie dengan meyakinkan bilang, “Saya akan merobek paspor German saya kalau tanah air memanggil saya.” Dan benar saja, beliau kembali ke Indonesia, namun “dibunuh” oleh situasi politik. Tetapi, apakah B.J. Habibie berhenti mencintai Indonesia? Tidak, sama sekali. Sejarah membuktikan, sampai saat ini, beliau menjadi negarawan yang disegani.

Dua contoh diatas merupakan contoh dari fenomena kuliah di luar negeri dan bagaimana dua orang anak bangsa memilih jalannya. Masih banyak kisah lain yang bisa diambil, misalnya tidak bisa pulang ke Indonesia karena alasan politik (tragedi 1965 misalnya), tidak pulang karena tidak ada tempat untuk berkarya, dan masih banyak lagi cerita mengenai fenomena pelajar Indonesia dan lulusan Indonesia di luar negeri.

Dari itu semua, banyak juga diantara contoh tersebut yang hanya memanfaatkan kuliah ke luar negeri sebagai fenomena mampir sejenak dan jalan-jalan gratis. Bulan sekarang fotonya ada di negara A, sebulan sebelumnya ada di negara B, dan kemudian bulan sebelumnya lagi ada di negara C. Salahkah? Sekali lagi bukan salah atau tidaknya. Jalan-jalan tentu saja sangat sah, jaman dahulu mungkin kalau sudah ada social media, sudah banyak foto Hatta, BJ Habibie, dan tokoh lain terpampang di dunia maya seperti sekarang. Namun yang menjadi renungan saya adalah, dapatkah kita menjadikan setiap fenomena kita menjejakkan kaki di luar negeri, dapat menjadi angin segar optimisme bangsa Indonesia ke depannya.

Buat yang mendapatkan beasiswa ke luar negeri dari pemerintah Indonesia, ingat saja bahwa setiap yang kita habiskan dalam aktifitas kita di luar negeri, ada hak masyarakat miskin disana yang harus kita berikan kepada mereka nanti. Untuk yang dibiayai oleh pemerintah luar negeri, ingat bahwa apa yang membawa kita ke luar negeri bukan hanya kemurahan hati pemerintah negara lain, namun karena kamu dilahirkan atau dibesarkan di Indonesia yang banyak memberikan kamu kesempatan sehingga akhirnya bisa berkuliah ke luar negeri. Yang dibiayai oleh orangtuanya, beryukurlah karena kita bisa kuliah di luar negeri. Ingat, masih banyak yang kurang beruntung bisa kuliah ke luar negeri dengan biaya sendiri. Salah satu bentuk syukur yang bisa dilakukan adalah bercita-cita kembali ke luar negeri, sehingga semakin banyak yang bisa merasakan hal yang sama.

Tulisan ini merupakan refleksi saya terhadap berbagai macam fenomena yang saya perhatikan. Sebagai orang yang suka memperhatikan perilaku manusia, hal ini sangat menarik diperhatikan dan harus bisa dijadikan catatan untuk saya pribadi. Semoga kita selalu diberikan semangat untuk terus menebar kebermanfaatan. Karena yang membedakan kita dengan yang lain adalah kebermanfaatan kita. Itulah yang membedakan kita dari manusia yang menjadi manusia, dan manusia yang menjadi robot pekerja.

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh Ali Abdillah, Leiden Universtity, Belanda
sumber : ppibelanda.org
Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: