Kuota TEMUS Dipangkas; PPMI Mesir, PPI Timteng, dan PPI Dunia Rapatkan Barisan

CAIRO- Kuota Tenaga Musiman (TEMUS) haji bagi Mahasiswa Timur Tengah untuk tahun ini resmi dipangkas. Kuota yang pada pada tahun lalu berjumlah 125, setelah dikurangi akibat pengurangan kuota Jamaah Haji Indonesia, tahun ini kembali dipangkas menjadi 85 kuota saja. Ketetapan ini sudah disahkan oleh komisi 8 DPR RI.
KJRI Jeddah akan mengirim surat resmi terkait jumlah kuota TEMUS per Negara kepada seluruh KBRI terkait dalam waktu dekat ini. Ahmad Dumyati Bashori selaku ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi ketika ditemui langsung oleh beberapa perwakilan mahasiswa Timur-Tengah Senin (10/4) di wisma haji, Mekkah, Arab Saudi mengatakan bahwa alasan utama pemangkasan besar-besaran kuota TEMUS Mahasiswa timur tengah adalah penambahan kloter jamaah haji di Indonesia seiring dengan bertambahnya kuota jamaah haji Indonesia. Hal ini berdampak besar pada penambahan jumlah petugas pada sektor pendampingan jamaah haji di tiap kloter yang akhirnya mengambil 40 kuota Mahasiswa timur-tengah.
Menyikapi hal ini, Dewan Presidium PPI Dunia dan PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika dijadwalkan akan bertemu dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umroh  pada tanggal 19 April di kota Madinah untuk menyampaikan surat permohonan resmi dari PPI Dunia guna melakukan peninjauan kembali terkait keputusan yang telah ditetapkan, yang bertepatan dengan kunjungan kerja pihak kemenag ke Arab Saudi.
“Kita akan berusaha bergerak, mengusahakan yang terbaik untuk mahasiswa timur tengah melalui jalur Duta Besar di negara kawasan timur tengah (timteng) masing-masing, kita akan menyampaikan dan mengusulkan kepada bapak Duta Besar untuk megirimkan surat resmi ke Komisi 8 DPR RI agar dapat meninjau kembali keputusan ini. Untuk perwakilan PPI kawasan timteng dan Dewan Presidium PPI Dunia juga akan mengambil langkah dengan langsung menemui pihak Kemenag dan melayangkan surat secara langsung ke Komisi 8 DPR RI. Selain itu, Intan Irani selaku Koordinator PPI Dunia saat ini juga akan langsung bertemu dengan pihak Komisi 8 DPR RI di Jakarta, semoga dengan usaha ini permasalahan tentang kuota haji  bisa kembali stabil demi kemaslahatan Mahasiswa timur tengah umumnya, dan Masisir pada khususnya.” tutur Ahmad Baihaqi Maskum, Presiden PPMI Mesir periode 2016/2017.
Mahasiswa yang sedang studi di Negara-negara wilayah Timur Tengah dan Afrika seperti Arab Saudi, Mesir, Sudan, Yaman, Yordania, Lebanon, dan Maroko tiap tahunnya selalu mengirimkan tenaga musiman untuk membantu jamaah haji Indonesia. “Peran mahasiswa Timur-tengah sangat penting dalam memberikan pelayanan kepada jamaah haji Indonesia. Karena  selain sebagian besar TEMUS Mahasiswa Timteng langsung terjun kelapangan dan berhadapan dengan jamaah secara langsung, mahasiswa timteng juga punya nilai plus sendiri. Pertama, mereka menguasai bahasa Arab, baik lisan maupun tulisan. Kedua, mereka sudah terbiasa berinteraksi dengan orang-orang Arab yang memiliki karakteristik berbeda dengan orang Indonesia. Ketiga, dan yang pasti mereka masih muda dan energik. Dan perlu diketahui bahwa menjadi TEMUS dalam pelayanan ibadah haji dibutuhkan kondisi prima dan kuat. Keempat, mahasiswa adalah kaum berpendidikan yang pastinya bekerja dengan diikuti akhlak dan sifat yang baik,” tutur Abdul Ghofur Mahmudin, Presiden PPMI Mesir periode 2015-2016.
Abdul Ghofur Mahmudin juga menambahkan bahwa 4 tahun terakhir ini kuota TEMUS untuk Mahasiswa Timur-tengah cenderung selalu menurun, akan tetapi penurunan itu tidak terlalu signifikan. ”Contoh Kuota Mahasiswa Indonesia di Mesir pada tahun 2012 masih sekitar 102 orang. Tahun 2013 menurun menjadi 96 orang, dan sampai tahun kemarin menjadi 68 orang. Hal ini masih dirasa logis karena alasan berkurangnya adalah pengurangan kuota jamaah haji Indonesia. Sedangkan untuk tahun ini akan berbeda jika kuota mahasiwa timur tengah dikurangi sangat signifikan. Itu karena pertama kuota haji Indonesia normal kembali, kedua pengurangannya sangat signifikan. Bahkan hemat saya, dari yang awalnya Kuota temus Mahasiswa Tim-teng 125 menjadi 85 itu bukan pengurangan, tapi pemangkasan. Dan itu tidak logis!” sambung Abdul Ghofur Mahmudin dalam wawancaranya dengan kru Suara PPMI.
“Hubungan TEMUS mahasiswa dengan PPIH terjalin sangat baik dan harmonis. Saling membantu dan bahu membahu dalam bekerja, baik di lapangan maupun di sekretariat. Sebagai contoh, sampai saat ini saya sendiri dengan TEMUS Mahasiswa Timteng 2013 masih berkomunikasi dengan baik ke PPIH Jakarta di grup whatsapp. Begitu juga dengan TEMUS 2016 PPIH Jakarta. Itu menandakan bahwa tidak ada masalah antara TEMUS mahasiswa dengan PPIH Jakarta maupun dengan bapak-bapak di Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah. Dan saya berharap semoga ada jalan keluar dan solusi terbaik untuk TEMUS mahasiswa timur tengah dan khususnya Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir),” tutur mahasiswa asal Banten ini ketika ditanya tentang hubungan PPIH dengan TEMUS mahasiswa Timur-tengah.
Wakil Presiden PPMI Mesir, Ikhwan Hakim Rangkuti, yang menjadi perwakilan PPMI Mesir dan Mahasiswa Timur-tengah pada saat pertemuan langsung dengan ketua PPIH Arab Saudi menegaskan, bahwa selain berkhidmat membantu Jamaah Haji Indonesia dan mengimplementasikan ilmu yang didapat selama belajar di Timur-Tengah, momentum TEMUS juga memberikan manfaat tersendiri bagi Mahasiswa Timur-Tengah. “Banyak sekali dampak positif yang dirasakan oleh mahasiswa Timur-Tengah dengan adanya TEMUS ini. Pertama, dengan adanya TEMUS, mahasiswa Indonesia di Timur-Tengah sangat terbantu dalam melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi seperti S2 dan S3, melihat akses beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk mahasiswa Timur-Tengah sangat minim bahkan bisa dibilang nihil. Hal ini terbukti dari kebijakan pemerintah yang memotong akses penerimaan beasiswa LPDP untuk mahasiswa Timur-Tengah. Kedua, keberadaan TEMUS menjadi faktor penggerak roda organisasi mahasiswa Indonesia di Timur-Tengah, karena sudah menjadi kearifan lokal bagi siapapun yang berangkat menjadi petugas Haji dari mahasiswa Timur-Tengah untuk membayar iuran kepada organisasi-organisasi terkait seperti PPMI Mesir, atau PPI Tim-Teng lainnya guna menopang pendanaan organisasi tersebut.”

Ikhwan menambahkan bahwa bagaimanapun juga permasalahan ini harus diselesaikan secara bijak, adil, dan transparan. ”Saya berharap Menteri agama beserta jajaran bisa meninjau kembali keputusan yang telah ditetapkan dan bisa menambah kuota TEMUS dari yang sebelumnya berjumlah 125 (tahun 2016) ke angka yang lebih banyak lagi atau minimal bertahan pada angka 125, karena sangat tidak bijak ketika mengurangi kuota menjadi 85 di saat bertambahnya kuota jamaah haji dari angka 168.800 menjadi 221.000. Poin penting yang menjadi perhatian dan catatan kami agar ke depannya pihak kementerian agama melibatkan perwakilan PPI Dunia dalam merumuskan suatu kebajikan baru, khususnya dalam penetapan kuota TEMUS untuk mahasiswa Tim-teng agar keputusan yang diambil tidak terkesan bersifat politis dan sepihak,” jelas Wakil Presiden PPMI Mesir yang berasal dari Jakarta ini.

(Kamal Ihsan/NZ)
Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: