Lika-liku Ramadan Pertama Kala Merantau di India

Mysore – Tahun ini, menjadi pengalaman saya berpuasa sendirian jauh dari keluarga dan Tanah Air. Sejak akhir Juli 2016 saya harus berangkat ke India, tepatnya Kota Mysore, India Selatan, untuk menempuh S2 jurusan Mass Communication and Journalism di University of Mysore, atas sponsor pemerintah India.

Kota tempat saya tinggal sama saja dengan kota-kota di India lainnya, di mana muslim menjadi minoritas. Tentu tidak hanya muslim, karena India mengakui semua agama. Kita bisa menemui orang-orang dengan keyakinan yang tidak kita temui di Indonesia. Misalnya Baha’i, Zoroaster, hingga Yahudi.

Karena Islam menjadi minoritas, saya tidak boleh berekspektasi lebih selama menjalani Ramadan di sini. Ekspektasi dalam arti suasana yang biasa kita dapatkan di Indonesia saat bulan Ramadan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untungnya, rumah tempat saya tinggal cukup dekat dengan masjid, sekitar 3 kilometer. Jadi saya masih kedengaran suara azan.

Eits.. meskipun masjid, tapi saya tidak bisa pergi ke sana. Di India, masjid hanya diperkenankan untuk lelaki. Sedangkan perempuan beribadah di rumah saja.

Berdasarkan keterangan teman-teman muslim di sini sih, hal itu terkait dengan budaya masyarakat Islam di India. “Perempuan lebih baik salat di rumah karena lebih aman”. Itulah mayoritas jawaban yang saya himpun dari teman-teman muslim di sini.

Namun setelah saya telisik lebih jauh, itu karena muslim sunni India berkiblat pada mazhab Imam Hanafi. Singkatnya yang saya pahami, dalam mazhab Imam Hanafi, banyak yang lurus berpatok pada hadis yang memang salah satu isinya mengatakan perempuan hukumnya sunah untuk salat jemaah di masjid.

Rupanya itu yang menggiring pada keadaan budaya muslim di sini, di mana jarang sekali bisa menemukan perempuan salat di masjid. Bahkan pada perayaan hari-hari besar Islam.

Selain perempuan yang tidak diperkenankan salat di masjid, perempuan muslim di India selalu menggunakan abaya berwarna hitam, dengan hijab yang dililitkan di kepala. Ada yang sangat ditata dengan sangat syar’i, menggunakan burqa, hingga dililitkan apa adanya. Yang penting warnanya hitam.

Nah, kalau yang ini memang murni karena budaya. Entah apa yang mendasari perempuan muslim di sini mengenakan abaya berwarna hitam terus sehari-hari. Tapi ada juga sih yang moderat, busananya bisa warna-wani, walau jarang sekali kita bisa menemukan yang seperti itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu teman saya termasuk moderat. Lucunya, perjalanan ke kampus dia tetap mengenakan abaya hitam. Sesampainya di kampus, dia menggantinya dengan busana muslim berwarna-warni. Tidak hanya teman saya, saya amati beberapa pelajar muslimah lainnya juga mereka melakukan hal yang sama. Haha..

Yang penting bagaimana cara kita beribadah masih sama. Teman-teman muslim yang saya kenal, puasa dengan baik. For your information, di sini puasa hanya lebih lama satu jam dari Indonesia. Azan Magribnya sekitar pukul 19.00 waktu setempat, seiring dengan tenggelamnya matahari di India.

Dan selama Ramadan ini, saya disibukkan dengan persiapan final exam. Hal ini cukup membuat pikiran saya terdistraksi, lupa pentingnya membuat takjil, lupa memikirkan makanan enak apa untuk berbuka. Bahkan selama Ramadan ini semua masakan yang saya masak rasanya hambar (ya iyalah, masaknya pas puasa). Yang penting, puasa dan ujian lancar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bila rindu suasana Ramadan, saya ajak teman Indonesia ke lokasi muslim membeli samosa buat takjil. Asal tahu saja, filling samosa di India itu kalau hari-hari biasa cuma kentang dan bawang merah. Tahu kan ya, orang India mostly vegetarian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di kota saya, beli daging sapi pun harus blusukan dulu. Menurut teman Indonesia yang sudah lebih dulu di sini, snack seperti samosa isi daging menjadi panganan wajib yang harus diburu saat puasa. Daging apa? Macam-macam, ada filling ayam, ikan, kambing, sapi, dan salah satu yang ekstrem misalnya otak kambing, haha. Enak kok, saya sudah pernah coba.

*) Dinda Lisna Amilia adalah mahasiswa S2 jurusan Mass Communication and Journalism, University of Mysore, India; anggota Biro Pers PPI Dunia dan Divisi Humas dan Publikasi PPI India.

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

One thought on “Lika-liku Ramadan Pertama Kala Merantau di India

  1. Saya pengen banget ke india, tapi saya tidak punya teman untum pergi ke india dan tidak tau bahasa,dan kebiasaan orang” india

Leave a Reply

%d bloggers like this: