Liputan Hari Kedua Simposium Timtengka Madinah 2017

Madinah – Selasa 4 April 2017. Pagi hari, diskusi Panel Ketiga Simposium Kawasan PPI Timur Tengah – Afrika yang berjudul “Menyongsong Generasi Emas Indonesia Dalam Mempersiakan Generasi Emas 100 Tahun” resmi dimulai.

Dimoderatori oleh Ahmad Faisal, mahasiswa prodi Arab fakultas ilmu pengetahuan dan budaya Universitas Indonesia. Narasumber pertama adalah beliau Bapak Prof. Dr. Mohammad Nuh DEA, dengan membawakan materi berjudul “Menyiapkan Generasi Millenial Menuju Kejayaan Indonesia 2045”.

Beliau memulai dengan prolog bercerita tentang pengalaman dirinya dulu sebagai mahasiswa di negeri asing, dan beliau berpesan , “student today leader tomorrow”. Kemudian tak lupa juga beliau memberi ucapan selamat kepada panitia penyelenggara simposium, “berikan tepuk tangan bagi mereka yang telah menyiapkan dan menyelenggarakan acara yang luar biasa ini”.

Kemudian mengawali kuliahnya dengan ucapan, “Dunia tidak ada artinya tanpa Indonesia, Indonesia tidak ada artinya tanpa penduduk, dan penduduk tidak ada artinya tanpa PPI Timur Tengah Afrika”, ujar beliau membuka pemaparannya terkait Indonesia dan posisi geografisnya.

Kemudian beliau membahas tentang generasi millennial, mereka yang lahir antara 80-95, 22-36 tahun. Karena zaman membentuk karakter dan kepribadian. Karakter mereka suka jalan pintas dan tak ingin lama. Mereka lebih suka menggunakan modul-modul daripada teori yang berkepanjangan. Mereka juga segera beradaptasi dengan setiap teknologi yang muncul, tanpa berfikir tentang bagaimana benda tersebut bekerja, mereka juga mencintai mobilitas yang tinggi, modern nomadic, bukan hanya sekedar antar hutan bahkan antar negara.

Kita juga perlu memahami future trend karena kita akan berjalan ke depan, agar kita dapat menyiapkan diri. Kita tidak dapat menghilangkan persoalan, namun dengan persiapan kita dapat menyelesaikan persoalan itu, mirip filosofi payung. Tanpa mengetahui masa depan kita hanya akan menjadi expired generation.

Kemampuan pengambilan keputusan juga harus terus diasah, karena tingkat kompleksitas permasalahan dan kecepatan waktu yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan harus lebih baik. Dalam bukunya “age of discovey” Ian Goldin menyebutkan bahwa social complexity akan melaju lebih banyak dibandingkan dengan cognitive capacity. Trendi grafiknya bahwa kelompok kreatif bertambah naik, jika kita tidak kreatif maka kita akan termarjinalkan.

Lalu apa yg harus kita siapkan menghadapi masalah ini? Tentunya yang pertama adalah ilmu, amal dan amal salih. Kemudian selain itu adalah higher order thinking. Yaitu analyzing, evaluating, dan creating. Maka untuk itu dibutuhkan sikap kritis agar menjadi kreatif.

Tahun 2045 di akhir seabad Indonesia kita perlu untuk investasi SDM yang besar-besaran dan berkeadilan. Agar berkah demografis dan trendi pergerakan ekonomi dunia menjadi bonus bukan bencana. Dan itu, dinilai dari 2010 hingga 2040, ketika kita sedang dan masih memiliki bonus demografi.

Setelah kita tahu tantangannya, kita memilki empat agenda utama; kemiskinan, ketidaktahuan, keterbelakangan peradaban, dan ketidakadilan. Maka beliau berpesan, “Jadi pemimpin itu bukan sekedar memegang prinsip kebenaran, namun juga kebaikan dan keindahan, (logika, etika, estetika), oleh karenanya dinamakan kebijakan. Maka kelak kalau anak-anak PPI menjadi pemimpin, bijak dan santunlah terhadap kaum dhuafa”. Dengan 87% jumlah penduduk muslim hanya 1 orang yang menduduki peringkat 10 terkaya dunia. Sebab seperti kata beliau, “Pendidikan adalah sitem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan, dan kemartabatan”

Dan yang terpenting adalah menaikkan pendekatan kita dari hindsight menuju insight menuju foresight. Descriptive analytics, diagnostic analytics, predictive analytics, prescriptive analytics. Karena yang kita butuhkan adalah menyiapkan leader, manager, dan entrepreneur. Untuk itu beliau berpesan khusus kepada para delegasi simposium, “PPI Timur Tengah dan Afrika haruslah menjadi generasi pemungkin (enabler)”.

Pembicara kedua adalah Bapak Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri. Beliau membacakan sebuah narasi tentang kondisi Indonesia kini dan masa depan. Membaca masa depan di tahun 2045, terdapat tiga skenario yang sering dikemukakan;  optimistik, pesimistik, dan realistik. Namun kita tentu berharap kepada skenario optimistik. Meskipun di sana-sini terdapat banyak problematika yang merisaukan dan dikhawatirkan menjadi mimpi buruk demografis di masa mendatang. Terlebih selain masalah di dalam negeri, Indonesia juga jamak menjadi incaran kepentingan-kepentingan asing, sudah barang tentu tindakan mereka akan dirasakan melalui aksi politik, pendidikan dan budaya. Terlebih dengan perubahan kutub kekuatan dunia, dan kemajuan beberapa negara Asia dalam mencuri start menghadapi masa depan, terkhusus China dan Jepang. Negara-negara Asean juga semakin kompetitif meskipun masih dilanda beberapa masalah budaya dan sosial.

Strategi yang tak kalah penting untuk menghadapi ini, adalah merubah paradigma pembangunan yang berbasis SDA menjadi basis SDM. Dan juga menabuh genderang perang menghadapi radikalisme kiri dan kanan, memperkuat pondasi ekonomi, menghadapi upaya perusakan generasi baru, dan yang terpenting adalah mempersiapkan diri menghadapi era energi kinetis dan era digital.

Sebelum sesi tanya-jawab, Pak Mahfud MD pembicara pada panel pertama, sempat ikut memberikan pesan dan nasehatnya sebagai konklusi akhir dari seluruh materi yang telah disampaikan oleh para narasumber, beliau berpesan, “intinya adalah optimis dan tidak takut gagal”.

Acara  selanjutnya adalah presentasi paper yang ditulis oleh para delegasi.  Yaitu pemaparan 15 paper yang telah dibuat oleh para delegasi, Presentasi dibagi dalam empat panel. Panel Sosial dan Budaya dimoderasi oleh Muhammad Herika Taki, mahasiswa S3 King Abdulaziz University-Jeddah. Panel Politik dimoderasi oleh Farichatus Sholichah, mahasiswi Sastra Arab, fakultas Ilmu Budaya UGM-Yogyakarta. Panel Agama dimoderasi oleh Muhammad Usman Ilyas, mahasiswa UNISULA-Semarang. Dan terakhir Panel Ekonomi yang dimoderasi oleh Sifak Nikmatul Fitri, mahasiswi profesi ilmu Kedokteran UGM-Yogyakarta.

Selepas istirahat siang, dimulailah acara sidang komisi Simposium PPI Timtengka, dipimpin oleh Steering Committee, yang disi oleh Saleh Al-Djufri delegasi PPI Sudan sebagai ketua sidang satu, Muhammad Prabasworo Jihwakir delegasi PPMI Arab Saudi sebagai ketua sidang dua, dan Ahmad Syauqi delegasi Indonesia sebagai ketua sidang tiga. Dalam sidang ini diawali dengan perumusan Deklarasi Madinah, sebagai hasil seruan dan simpulan para peserta Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika. “Deklarasi ini adalah penentuan sikap kami para anggota peserta simposium” ujar Saleh Al Jufri ketua satu. Sementara pembacaan Draf Deklarasi Madinah disampaikan oleh Ahmad Syauqi sebagai ketua tiga. Kemudian sidang dibuka dengan ketukan palu oleh pemimpin sidang Saleh Al Jufri.

Kemudian sesi perumusan dan pengesahan dilalui dengan pembacaan setiap paragraf dan poin-poin naskah deklarasi oleh Muhammad Prabasworo Jihwakir ketua dua, dan menerima masukan serta pandangan dari para peserta Simposium per bagian naskah Draf Deklarasi.

Terjadi beberapa perubahan dalam muatan draf naskah deklarasi, meskipun secara umum hanya perubahan redaksional bukan substansial. Namun tetap saja membutuhkan banyak waktu karena banyaknya peserta yang melakukan interupsi dan memberikan masukan, bahkan membutuhkan beberapa kali penambahan waktu.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian prakata dan laporan pertanggungjawaban Ketua PPI Timur Tengah dan Afrika, yang disampaikan oleh Saleh Al-Djufri delegasi PPMI Sudan, mewakili Ketua yang berhalangan hadir Kiagus Ahmad Firdaus. Selanjutnya adalah pembacaan Deklarasi Madinah yang dibacakan oleh Sekjen PPMI Arab Saudi sekaligus Ketua Sidang, yang diaminkan dan dikumandangkan ulang oleh seluruh peserta simposium, ikut bersama mereka juga Dubes LBBP untuk KSA dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel beserta jajarannya, diantaranya Bapak Basuni Imamuddin Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh, dan Bapak Muhibuddin M Thaib Atase Hukum dan HAM KBRI Riyadh. Kemudian diakhiri dengan penandatangan Deklarasi Madinah oleh seluruh Ketua PPI Negara anggota PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika, tanda disahkannya Deklarasi Madinah tersebut.

Acara Simposium selanjutnya ditutup secara seremonial oleh Dubes LBBP untuk KSA dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegabriel. Beliau menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya Simposium ini, bahkan beliau rela mempersingkat kunjungan kerjanya di Belanda dan Belgia, yang seharusnya baru berakhir hari ini, namun beliau justru memilih untuk menghadiri dan membuka Simposium ini dan menutupnya. Beliau mengatakan tentang para mahasiswa peserta Simposium ini, “kalian semua ini adalah generasi-genarsi yang akan memimpin Indonesia”. Beliau juga berkomentar tentang Deklarasi Madinah, “ini adalah deklarasi yang luar biasa, terlebih ketika ia ditandatangani di Kota Rasulullah, dan dari sini lah pesan-pesan ini akan menjadi ‘aalamiyyah alias mengglobal”. Dan terakhir beliau menutup prakatanya dengan pesan, “from here we start and change”.

Dengan ini, acara secara resmi ditutup, dan hanya menyisakan sesi sidang perumusan rekomendasi empat komisi, komisi agama, komisi pendidikan dan kebudayaan, komisi politik dan hukum, dan komisi ekonomi. Tepat dengan masuknya waktu salat magrib, acara sidang komisi juga ikut selesai. Dan berakhirlah sudah acara inti Simposium Kawasan PPI Timur Tengah – Afrika 2017 di Kota Madinah. (Red: Izzy, Ed: Adam)

Galeri Foto: (Sumber: sie. Media Simposium Timtengka Madinah 2017)

 

 

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: