Liputan Hari Pertama Simposium Timtengka Madinah 2017

Liputan Madinah – Senin 3 April 2017 pukul 09.00 waktu setempat acara Simposium PPI Kawasan Timur Tengah dan Afrika resmi dibuka dan dimulai.

Sesi seremonial dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qu’ran surat Al-Imron ayat 102-108, yang dilantunkan oleh Abdurrahim Syamsuri, mahasiswa Universitas Islam Madinah. Kemudian setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersamaan dengan khidmat, acara pembukaan ini dilanjutkan dengan kata sambutan ketua panitia Fahmi Aufar Asyraf, mahasiswa Fakultas Psikologi King Saud University-Riyaadh. Dan selanjutnya disusul sambutan Ketua Divisi P2EKA (Pendidikan Politik Ekonomi dan Agama) PPI Dunia mewakili Koordinator PPI Dunia, Rama Rizana mahasiswa pascasarjana King Fahd University of Petroleum and Minerals-Dhahran. Berikutnya adalah keynote speaker yang disampaikan oleh special guest Dekan Fakultas Adab King Saud University, Prof. Dr. Ali Al Mayouf.

Prof. Dr. Ali Al Mayouf berbicara mengenai pengalamannya selama bertahun-tahun menjadi pengajar dan mentor bahasa dan satra Arab. Beliau selama ini juga menjadi konsultan King Abdullah Bin Abdulaziz International Center  for The Arabic Language. Dalam tugasnya sebagai konsultan itulah ia berkeliling dunia guna berbagi pengalaman dan mengajarkan bahasa Arab, diantaranya adalah Indonesia. Beliau telah berkelilling di banyak kota di Indonesia, bekerjasama dengan banyak kampus dan universitas, beliau telah menjalani 11 kali kunjungan kerja.

Beliau banyak mengambil manfaat dan faedah dari beragam kunjungan dan persinggungannya dengan bangsa Indonesia.  Beliau menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki sifat-sifat baik yang membuatnya pantas disebut sebagai pembawa risalah Islam. Diantaranya adalah hikmah, merendah, dan dermawan. Sifat-sifat inilah yang membuat masyarakat Indonesia dapat bersatu dan bermasyarakat dengan baik dan beradab.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Arab Saudi dan OKI, Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag. Beliau banyak menyampaikan tentang aksi beliau selama setahun menjadi Dubes di Riyadh. Diantaranya adalah poros Saunesia (Saudi Arabia – Indonesia) yang digagas oleh beliau sejak awal pelantikannya. Poros ini menjadi semangat baru diplomasi yang diusungnya. Diplomasi yang setara antara dua Negara, dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Diantara keberhasilan beliau adalah berhasil menyukseskan kunjungan kenegaraan Raja Salman ke Indonesia, setelah untuk terakhir kalinya kunjungan raja Faishal pada tahun 70an di era Presiden Soeharto.

Beliau sebagai representasi pemerintah Indonesia bersama pemerintah Arab Saudi bekerjasama menggaungkan konsep Islam yang Moderat di dunia. Yaitu sebuah konsep islam yang telah diajarkan oleh pemuka dan alim ulama islam sepanjang masa yang lampau. Islam moderat yang toleran dan ramah. Beliau juga mengatakan supaya simposium ini menegaskan kembali semangat Asia-Afrika yang dulunya diinisiasi oleh Indonesia. Mengingat bahwa peserta dan pelaksana simposium ini adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia di Negara-negara yang terletak di Asia dan Afrika.

Acara selanjutnya disusul dengan pemukulan gong sebanyak lima kali, oleh Bapak Drs. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag.  tanda dimulainya secara resmi kegiatan Simposium Kawasan PPI Timur Tengah dan Afrika 2017.

Diskusi panel pertama dengan judul “Merajut Tenun Kebangsaan di Tengah Kemajemukan” dimulai dengan pemaparan materi oleh Bapak Mochammad Ridwan Kamil, S.T., M.U.D. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia sekarang sedang berjalan dalam laju yang positif, menuju harapan Indonesia sebagai Negara terkuat dan termaju ketiga di dunia nanti pada tahun 2045, dan 2030 sebagai Negara ketujuh dunia. Syaratnya, adalah Negara dengan kondisi sosial dan politik yang stabil, yaitu bilamana angka pertumbuhan kita selalu berada di angka 5, dan tidak ada konflik maupun perselisihan yang menyedot energi bangsa untuk mengurusnya.

Beliau banyak menyampaikan statement yang penting dan faktual. Diantaranya adalah, “toleransi bagi saya adalah kita melindungi kaum minoritas, dan juga kaum minoritas memahami kaum mayoritas. Keadilan itu tidak berarti selalu sama, namun proporsional, yaitu memberikan sesuatu sesuai yang dibutuhkannya”. “Baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffur itu artinya keseimbangan antara dunia dan akhirat”. “Orang Indonesia itu tidak suka baca dan terlalu suka ngobrol, akibatnya tidak ada tulisan. Akibatnya banyak berita fitnah dan bohong, serta minimnya penjelasan dan literasi ilmiah”. “Tinggikan argumentasinya, bukan tinggikan suaranya”. “Para mahasiswa tolong bantu kami dengan mengembangkan konten positif. Anak muda di Indonesia bisa menghabiskan waktu tiga jam hanya untuk menikmati medsos”. “Kalau kita susah untuk mengedepankan ukhuwah islamiah, maka kedepankanlah ukhuwah wathoniyah, dan jikalau tetap saja susah maka kedepankanlah ukhuwah insaniyah. Bila anda tersesat di hutan, dan bertemu orang untuk meminta pertolongan, anda tentu tak akan bertanya dulu, agamamu apa? Negaramu apa?”. “Kepimimpinan terbaik adalah kepemimpinn dengan keteladanan, dan dakwah terbaik adalah dakwah dengan akhlak”. “Dakwahlah di jalan yang sulit, jangan hanya dakwah di jalan yang mudah”.

Pembicara kedua adalah Bapak Prof. Dr. Mahfud MD. Beliau berbicara tentang cara merajut tenun kebangsaan dan bagaimana cara mengelola kebersamaan. Kita menjaga pluralisme dengan kesatuan hukum yang sah dan berlaku di depan publik. Beliau juga optimis bahwa Indonesia tidak sedang dalam kondisi  yang kritis, menurut studi Mc Kensey, Indonesia saat ini adalah Negara ekonomi ke enam belas, dan pada tahun 2030 akan menjadi Negara ekonomi ketujuh. Indonesia sekarang telah tumbuh menjadi lebih baik bila dibanding dulu. Baik secara ekonomi, politik maupun sosial.

Indonesia dapat menjadi Negara pluralis yang berhasil, meski memiliki unsur heterogen yang terbanyak, itu terjadi karena beberapa hal mendasar yang dimilikinya, yang pertama adalah dikarenakan terdorong kemauan dari bawah, dan bukan paksaan dari atas, yang kedua adalah pada saat perjuangan mencapai cita-cita kemerdekaan yang sama, mereka sepakat untuk mengikat itu semua dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka tunggal ika, yang ketiga adalah adanya kesepakatan untuk menyelenggarakan sistem demokrasi (kedaulatan rakyat) yang nomokrasi (kedaulatan hukum), dan yang keempat adalah dituangkannya itu semua dalam bentuk UUD 1945, dan dikawal dalam UU Pemerintahan.

Pembicara ketiga adalah Bapak Prof. Dr. Din Syamsudin. beliau menyambung apa yang telah disampaikan oleh pembicara-pembicara sebelumnya, diantaranya pak Mahfud MD. Beliau juga tidak sepakat bila Indonesia disebut kritis disintegrasi dan intoleransi. Bahkan Indonesia secara umum sangatlah bagus.  Beliau juga tak mempercayai statistik dan survey yang menunjukkan hal sebaliknya. Bahkan integrasi dan toleransi tersebut sangat didukung oleh faktor Islam. Ketika Islam tidak bersanding dengan kesukuan dan perkotakan lainnya. Para tokoh islam dalam sejarah rela melepaskan tujuh kata yang dipersoalkan dalam piagam Jakarta agar menjadi seperti Pancasila yang kita kenal. Terlebih lagi ajaran hikmah dan rahmat yang diajarkan dalam Islam dan juga telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Ke depannya Indonesia akan tetap menghadapi masalah, terlebih seteah berakhirnya perang dingin, di mana banyak kepentingan-kepentingan yang saling tarik menarik. Di sanalah dibutuhkan kekuatan Negara yang bisa menyatukan segala pandangan dengan baik.

Beliau berpesan, “orang-orang yang ekskuslif hanya akan gagal, oleh karenanya kita menawarkan inklusifme”. “Pancasila adalah dasar Negara yang telah final”. “Kita membutuhkan dialog dan ngobrol, bukan dialektika yang intinya adalah pokoknya. Namun Negara haruslah hadir sebagai penengah dan pemutus”. “Umat islam Indonesia haruslah mengedepankan praksisme keagamaan bukan justru populisme keagamaan”. Dan beliau menutup seminarnya dengan ucapan,  “Ringkasnya, rajutan ini haruslah didialogkan”.

Sesi panel kedua yang berjudul “Wawasan Politik Hukum Indonesia dan Kerangka Diplomasi dengan negara-negara Timur Tengah”, diawali dengan ceramah Bapak Masykuri Abdillah dengan membawakan tema “Islam Dalam Konteks Negara Demokrasi”. Beliau berbicara dengan menitikberatkan pada hubungan antara agama dan Negara. Sebuah persoalan yang mencakup Negara-negara timur tengah dan Indonesia sekaligus sebagai Negara muslim yang menganut faham demokrasi.

Konsep kontra sekulerisme pada dasarnya bukan hanya dianut oleh negara-negara muslim saja. Bahkan beberapa negara Barat secara eksplisit memasukkan agama dalam Negara, seperti Negara-negara Balkan. Norwegia, adapun beberapa Negara yang tidak memasukkan agama dalam konstitusi ataupun pemerintahan, mereka juga masih mengurusi agama, seperti adanya partai politik yang berbasis agama dan menggunakan isu-isu agama, pajak gereja, pendidikan agama dalam sekolah yang dibiayai oleh pemerintah, dan sebagainya. Bahkan tidak ada sama sekali Negara barat yang murni sekuler selain Prancis. Sebagaimana juga tidak ada Negara muslim yang murni sebagai sekuler selain Turki.

Oleh karenanya, tidak bisa mengharuskan Indonesia menjadi negara sekuler murni. Memang dia tidak mencampur adukkan agama dengan Negara, namun dia tetap mengurusi agama dalam tatanan Negara pemerintahan.

Berbicara mengenai demokrasi di Negara muslim, hanya Indonesia dan Tunisia yang benar-benar demokratis. Dan itu ditandai dengan adanya al-hiwar al-wathoni atau dialog nasional ketika terjadi perselisihan maupun konflik antar golongan. Bahkan turki sekalipun saat ini tidak bisa disebut sebagai negara demokratis, semenjak pertama kalinya kudeta militer, dan terus bertambah parah hingga saat ini di era Erdogan.

Indonesia adalah contoh negara demokrasi yang terbaik, terutama dalam bilangan-bilangan negara islam. Indonesia tidak pernah memiliki kristophobia sebagaimana yang terjadi di negara-negara barat dengan islamphobia-nya. Indonesia juga tidak pernah ada penghinaan maupun kezaliman dari pemeluk agama mayoritas kepada agama lainnya. Yang ada hanya kejadian-kejadian lokal yang menyangkut oknum bukan komunitas secara menyeluruh.

Problemnya adalah Indonesia sudah terlanjur dicap memiliki kesan yang buruk dalam mengelola demokratisme dan kebebasan beragama dan pemikiran. Konflik-konflik kecil ini haruslah dijaga dengan baik, karena hal seperti ini selalu menjadi konsumsi opini dan publik di Negara-negara asing, yang berakibat adanya distorsi tentang toleransi secara keseluruhan dalam ranah implementatifnya di Indonesia.

Diantara solusi yang beliau sampaikan adalah menyebarkan Indonesia yang Islam rahmatan lil ‘alamin ke dunia luar. Beliau juga menyampaikan gagasannya, “LPDP hendaknya memberikan juga beasiswa ke mahasiswa asing, agar mereka juga bisa menjadi juru bicara bagi Indonesia dan islam yang rahmatan lil ‘alamin di negeri mereka”. Beliau juga berpesan kepada para delegasi terkait solusi ini, “para mahasiswa juga bisa menjadi diplomat bagi Indonesia di negeri tempat ia menetap, diplomasi people to people”.

Selanjutnya pembicara kedua dan terakhir adalah Bapak Drs. Hery Saripudin, M.A., Konjen RI di Jeddah-Saudi Arabia. Beliau membahas tentang “Kerangka Diplomasi dengan Negara-Negara Timur Tengah”. Kerangka diplomasi Indonesia adalah bagaimana meperjuangkan kepentingan Indonesia di luar negeri. Selain offisial diplomat terdapat juga diplomat non formal.

Berbicara tentang diplomasi luar negeri haruslah merujuk kepada Pancasila ataupun UUD 1945, dan itu tertuang jelas dalam alinea keempat UUD 1945. Berupa perlindungan dan kedaulatan, kesejahteraan, kemajuan, dan peran internasional. Semua era pemerintahan indonseia selalu berkisar seputar hal-hal ini, hanya saja karena diplomasi luar negeri itu dalam tataran praktis bersifat luwes dan fleksibel sehingga berbeda-beda formulanya.

Presiden jokowi sebagai contoh menitikberatkan pada perlindungan kedaulatan NKRI, perlindungan WNI di Negara asing, promosi wisata indonesia, dan penunjukan peran Indonesia di kancah dunia. Itu semua tidak lepas dari kerangka yang telah digariskan dalam UUD 1945 tersebut.

Kerangka diplomasi Indonesia untuk Negara-negara timur tengah berasas pada; peaceful, phosperous, democratic, bebas senjata nuklir dan pemusnah massal, serta dukungan perjuangan Palestina.

Terkhusus untuk kerangka diplomasi indomesia untuk Arab Saudi. Beliau menegaskan asas equality, hal ini tampak berhasil ketika Raja Salman melakukan kunjungannya ke Indonesia beberapa waktu lalu, setelah sebelumnya Indonesia cenderung memiliki stigma di mata masyarakat Arab Saudi sebagai pihak yang membutuhkan pekerjaan non formal atau tanpa skil, dan juga sebagai pihak yang butuh untuk bepergian menunaikan ibadah di tanah suci, tak lebih dari itu.

Beliau juga menyinggung tentang peran pelajar dan mahasiswa Indonesia di timur tengah dan afrika utara (MENA / Middle East and North Africa). Bahwa mereka semua memiliki modal diplomasi berupa; kemampuan berbahasa arab, pemahaman budaya dan adat istiadat, jaringan dan relasi selama studi, penguasaan ilmu pengetahuan dan kapabilitas keilmuan.

Adapun mahasiswa Haromain alias Dua Tanah Suci; Madinah dan Mekkah, mereka punya satu keunggulan yang tidak terdapat di tempat lain, yaitu nila-nilai spritual. Yang mana nantinya pada tahun 2045, mereka semua akan menjadi agen perubahan, dan diharapkan membawa Negara kearah yang lebih baik, termasuk dalam kebijakan dan politik luar negeri. Mereka dapat mengingatkan kesalahan-kesalahan moral, hukum dan spiritual yang mungkin terjadi dari unsur bangsa lainnya. Terakhir beliau berpesan kepada seluruh delegasi peserta simposium, “You are the agent of change”. (Red: Izzy, Ed: Adam)

Galeri Foto: (Sumber sie. Media Simposium Kawasan PPI Timtengka Madinah 2017)

 



Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: