Loy Krathong: Ritual dan Pariwisata Thailand

Bagi masyarakat Thailand, ritual-ritual keagamaan menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan mereka. Berbagai acara tersebut dilaksanakan secara rutin yang tidak hanya melibatkan masyarakat Thailand, tetapi juga para pengunjung dari luar negeri. Salah satu festival yang baru-baru ini di laksanakan di Thailand adalah Loy Krathong. Loi bermakna melarung/mengapung, sedangkan Krathong bermakna wadah yang terbuat dari daun yang bisa mengapung di atas air. Loy Krathong adalah ritual melarung bunga yang diletakkan dalam wadah terapung, dilengkapi dengan lilin, dupa serta bunga-bunga di sekitar danau, sungai atau kanal. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan mereka kepada dewa air.

Krathong yang siap dilarungkan di air

Selain sebagai bentuk penghormatan kepada dewa, beberapa percaya bahwa “krathong” merupakan simbol untuk membuang segala bentuk kemarahan dan dendam serta berbagai sisi gelap yang selama ini menguasai manusia. Selain melarung ke air, Loy Krathong juga diisi dengan pelepasan lentera ke udara. Sejenak langit-langit Thailand akan terang benderang oleh cahaya ribuan lentera yang diterbangkan bersama-sama.

Loy Krathong sendiri umumnya dilaksanakan setiap bulan November, saat bulan purnama. Untuk memeriahkan acara tersebut, pemerintah Thailand memusatkan acara ini di beberapa wilayah seperti di sungai Chao Phraya Bangkok, Chiang Mai, Sukhothai, Phuket, Samui dan berbagai destinasi wisata lainnya. Tahun ini pemerintah menargetkan 300.000-an pengunjung dalam dan luar negeri terlibat dalam acara tersebut. Jumlah tersebut diprediksi akan mendatangkan pemasukan sebesar kurang lebih 10 juta baht.

Namun, di tengah meriahnya acara Loy Krathong, sesungguhnya terdapat persoalan yang cukup mengkhawatirkan, yakni banyaknya sampah yang disebabkan oleh festival tersebut. Salah satu sumber menyebutkan, pada tahun 2008 terdapat 929.329 krathong yang dikumpulkan dengan 811.332  (87%) terbuat dari tangkai atau daun pisang atau bahan alami lainnya, sementara 117.997  (13%) terbuat dari bahan yang berbahaya bagi alam seperti polystyrene.

Proses pelarungan Krathong oleh masyarakat Thailand

Pemerintah Thailand kemudian gencar melakukan sosialisasi sehingga jumlah tersebut jauh berkurang. Data tahun 2016 menyebutkan bahwa dari 661.935 krathong yang dilarung, 617.901 (93.7%) adalah bahan alami yang aman bagi lingkungan, dan hanya 44.034 (6.7%) yang menggunakan polyester.

Selain itu, pelepasan lentera ke udara dianggap sangat berbahaya bagi penerbangan. Mengingat lentera ini akan melayang ke udara sehingga bisa jadi menghalangi jalur penerbangan yang beresiko terjadinya kecelakaan di udara. Otoritas penerbangan Thailand bahkan harus membatalkan 76 penerbangan menuju provinsi Chiang Mai, salah satu wilayah yang menjadi pusat kegiatan pelepasan lentera ke udara. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Thailand mengeluarkan kebijakan tentang lokasi-lokasi yang diperbolehkan untuk pelepasan lentera.

Pelaksanaan Loy Krathong dan bagaimana pemerintah Thailand mendesain kebijakan yang mengakomodir semua pihak patut diapresiasi. Sehingga kepentingan suksesnya program pariwisata melalui Loy Krathong tidak harus menimbulkan efek negatif baik bagi lingkungan maupun bagi keselamatan pengguna transportasi udara.

Krathong yang dilarungkan di danau atau sungai sebagai simbol penghormatan kepada dewa atau pelepasan emosi negatif manusia

Thailand sebagai negara tujuan destinasi wisata dunia, cukup sadar dengan kebutuhan-kebutuhan para pengunjung. Menurut salah satu informasi, hampir setiap minggu pemerintah Thailand mengadakan festival untuk menarik pengunjung ke negaranya. Selain itu, berbagai sarana transportasi disiapkan untuk memastikan bahwa semua destinasi wisata yang ada bisa terakses dengan baik, misalnya BTS, MRT, Bis AC hingga yang gratis, taksi, ojek dan Canal transportation (transportasi sungai).

Fasilitas-fasilitas pendukung lainnya adalah tersedianya Tourism Information Center di berbagai titik keramaian, sehingga kita bisa bertanya kepada staf yang cukup lancar berbahasa inggris. Ada juga tourism police, untuk membantu menjaga keamanan para pengunjung serta ingin melaporkan apabila pengunjung kehilangan dokumen-dokumen penting.

Untuk belanja, kita dapat menemukan banyak pusat belanja dengan harga terjangkau. Ada juga floating market atau weekend market, pasar yang dibuka hanya pada hari Sabtu dan Minggu dan menjual produk-produk industri kreatif masyarakat Thailand. Untuk memperkuat branding pariwisata dengan industri kreatifnya, otoritas pariwisata Thailand mencanangkan program One Tambon One Produk (OTOP), satu desa satu produk. Jadi, jangan khawatir dengan berapa banyak oleh-oleh yang kita bawa pulang apabila isi kantong kita tidak cukup tebal.

Bagi para sahabat yang ingin berkunjung ke negara Thailand, terutama Bangkok, juga tidak perlu khawatir soal di mana harus menginap. Penginapan mulai harga eksklusif hingga harga backpacker tersedia di sini. Kita bisa akses website-website yang menawarkan informasi tentang penginapan di Thailand.  Untuk yang murah, banyak terdapat hostel di daerah Pratunam, atau Pertchburi Road dengan harga 300-450 baht per malam (sekitar 120k-175k rupiah). Sedangkan bagi wisatawan muslim, hampir di setiap pusat-pusat keramaian terdapat spot makanan halal yang bisa diakses dengan mudah.

Pelajar Indonesia saat mengikuti festival Loy Krathong

Untuk informasi seputar Thailand, bisa diakses di www.tatnews.org, www.twitter.com/richardbarrow, www.twitter.com/thailandfanclub, www.tourismthailand.org. Untuk keamanan bisa diakses di www.thailandtouristpolice.com, dan  www.kemenlu.go.id/bangkok/id/kontak-kami.aspx. Akhirnya, berwisata ke Thailand telah memberikan jaminan kemanan, kenyamanan dan ketenangan bagi para pengunjungnya.

 

 

 

 

 

 

 

Profil penulis:

Irwan Rahadi adalah seorang mahasiswa Master Applied Mathematics di Mahidol University, yang juga merupakan Presiden Permitha periode 2017-2018

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: