Mahasiswa Asal Indonesia Ini Berprestasi di Dua Negara, Dua Benua

Meski jauh dari tanah air, mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Jepang terus memberikan prestasi yang membanggakan untuk negeri tercinta. Kali ini datang dari Liana Christiani, yang sedang menempuh pendidikan S3 Teknik, Jurusan Sistem Energi Hidrogen di Kyushu University, Jepang. Setelah lulus S1 dari Universitas Negeri Jakarta jurusan Kimia, Liana melanjutkan pendidikan Master dan Doktoral di Kyushu University, Jepang. Meski telah mengikuti berbagai kompetisi sejak menempuh pendidikan S1, namun ia baru berhasil memetik hasil tersebut setelah sampai di negeri sakura.

Liana sudah mengikuti berbagai kompetisi sejak S1 dan belum berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan, tetapi ia tidak pernah patah semangat. Beberapa bulan setelah menginjakkan kaki di Jepang, Liana mendapat kesempatan untuk mengikuti suatu kompetisi. Kompetisi pertama yang diikutinya adalah Hydrogen Student Design Contest pada tahun 2013. Dalam kompetisi ini, ia beserta kelompoknya harus menyelesaikan suatu topik penelitian. “Waktu itu temanya tentang merancang infrastruktur hidrogen di South East USA, California. Teamwork sangat dibutuhkan karena ini merupakan projek jangka panjang,” jelas Liana. Proses mengerjakan projek tersebut memakan waktu 3 sampai 4 bulan. Besarnya projek dan kesibukan senpai dan sensei, membuat mereka tidak dapat berperan banyak dalam membantu proses mengerjakan projek tersebut, sedikit masukan dan tambahan selalu diberikan.

Setiap tahun Kyushu University selalu mengirimkan mahasiswanya untuk kompetisi ini dan Liana merupakan mahasiswa asing pertama yang turut bergabung dalam kompetisi ini. Pemberitahuan informasi dengan menggunakan bahasa Jepang menjadi alasan mengapa mahasiswa internasional kadang kurang mengetahui informasi kompetisi seperti ini dan juga semua lecture dan persiapan menggunakan bahasa Jepang. Setelah Liana mengikuti kompetisi ini, ia mulai mengajak mahasiswa asing lain untuk bergabung di tahun berikutnya.

Usaha Liana dan kelompoknya dalam pembuatan projek tersebut membuahkan hasil manis. Setelah masuk 5 besar, mereka menjadi pemenang di tahap berikutnya dan terbang ke Washington, Amerika Serikat untuk mempresentasikan projek mereka di depan peserta lain. Panitia dan juga direktur. Di sana, mereka berhasil menyandang gelar Grand Prize Winner dalam acara Hydrogen Student Design Contest (2013) di negeri Paman Sam.

Liana saat mengikuti kompetisi Perstorp Open Innovation Challenge di Malmo, Swedia.

Dari pengalaman pertama mengikuti kompetisi internasional, wanita asal Jakarta ini bercerita bahwa ia mendapatkan banyak pelajaran. Baginya, bisa mendaftar kompetisi tersebut sudah menjadi suatu pengalaman yang besar untuk ke depannya. Banyak sekali mahasiswa yang ingin turut berpartisipasi dalam suatu kompetisi namun informasi tersebut tidak sampai kepada mereka. Kerja keras dalam mengerjakan projek tersebut juga sangat berharga, dan menang adalah hadiah dari semua proses yang telah ia lalui. Hal lain yang ia dapatkan adalah dapat membangun network, kepercayaan diri, dan mengembangkan dirinya. Dalam proses mengerjakan projek tersebut, ia juga bertemu dengan orang orang pintar dan saling bertukar ilmu yang sangat bermanfaat. “Mahasiswa Jepang itu juga suka bercanda kok, tapi mereka sangat kerja keras dan komitmen. Jika waktunya kerjain projek jam 7, mereka akan kerjain saat itu,” tutur Liana.

Prestasi lain terus datang dari Liana, di tahun 2016 ini ia mengikuti Perstorp Open Innovation Challenge. Perstorp merupakan suatu perusahaan polimer, di mana mereka memberikan satu material polimer dan memberikan tantangan kepada para peserta, bagaimana penggunaan material tersebut 40 tahun ke depan yang dibagi menjadi 3 kategori, yaitu dalam bidang kualitas hidup manusia, lingkungan, dan teknologi komunikasi atau IT. Liana bersama satu temannya, memilih kualitas hidup manusia sebagai dasar inovasi mereka. Ia membuat material pengobatan.

Setelah sebelumnya bersaing dengan ratusan peserta dari negara yang berbeda-beda, Ia terpilih menjadi salah satu dari 3 finalis yang ada. Finalis yang terpilih berangkat ke Swedia untuk mempresentasikan atau bisa dibilang menjual inovasi material pengobatan yang telah dibuat oleh tim Liana selama 15 menit, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dan hasil tidak menghianati janji, ia akhirnya berhasil menempati peringkat kedua dalam acara Perstorp Open Innovation Challenge di Malmo, Swedia.

Baginya, di Jepang ia lebih mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri dengan banyaknya akses dan fasilitas yang mendukung. Namun, Liana merasakan terdapat perbedaan antara dosen universitas di Indonesia dan di Jepang. Jika di Indonesia, universitas atau bahkan masing masing fakultas senang membuat suatu kompetisi antarmahasiswa, lain ceritanya dengan di Jepang. Di sini, Liana sudah mendapat peringatan dari dosen dan guru yang mengajarnya karena ia aktif mengikuti berbagai kompetisi. “Sensei di sini baik-baik kok, mereka hanya takut aku jadi tidak fokus lagi dengan riset dan lab,” lanjutnya.

Lalu bagaimana cara Liana bisa aktif mengikuti berbagai kompetisi disaat tetap menjalankan kehidupan kuliah dengan baik? Manajemen waktu dan kerja keras adalah jawaban pertama Liana. Di Jepang, kampus merupakan tempat untuk riset, maka jika ingin menghargai waktu, selesaikan dahulu riset sesuai jam belajar. Setelahnya, Liana akan melakukan hal lain seperti mencari informasi kompetisi, atau mengerjakan proses untuk kompetisi tersebut seperti mengerjakan kompetisi, membuat proposal, dan membaca materi yang berkaitan.

Liana juga menuturkan bahwa skill bahasa juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan jika ingin mengikuti kompetisi internasional. “Menerjemahkan aja belum cukup, jika kita punya ide bagus tapi tidak bisa mengekspresikan dan berbicara tentang ide kita dengan baik, akan menjadi sia-sia.” Satu hal yang harus diperhatikan berikutnya adalah cara penulisan bahasa Inggris dengan menggunakan academic writing di mana tulisan yang dibuat dengan struktur yang baik dan antarparagraf saling berhubungan. Tak lupa, doa menjadi salah satu kuncinya.

Wanita ini mempunyai cita-cita untuk menjadi peneliti di sebuah instansi internasional agar mempunyai koneksi internasional dan dapat mengembangkan wawasan. Ia juga berharap dengan bekerja di instansi tersebut, dapat membuat dirinya mengetahui apa yang sedang berkembang di negara lain, agar Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara tersebut. Liana berpesan kepada teman-teman yang sedang menempuh pendidikan di Jepang, agar mencari pengalaman yang lebih baik, lebih produktif, jangan sampai pulang kembali ke Indonesia hanya membawa ijazah tanpa pengalaman lain. “Dan untuk teman-teman di Indonesia, bersediakah kita selamanya jadi bangsa pasar? Kalau kita tidak memimpin, kita akan terus mengekor. Jadi ketika kita mempunyai kesempatan menjadi pemimpin maka majulah, jangan hanya berdiam di ujung ekor tersebut.” tutup Liana.

(Putri Nurdivi/F)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: