Makna dalam Sebuah Perjalanan Panjang Menempuh Program Ph.D

Pasal 31 ayat (1) Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menetapkan bahwa yang berhak mengajar pada program magister (S2) dan Ph.D (S3) adalah mereka yang memiliki gelar S3. Syarat formal ini membuat para dosen di perguruan tinggi yang memiliki program S2 dan S3 semakin berkeinginan untuk meraih gelar akademik tertinggi ini. Termasuk saya sebagai salah satu pengajar di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Terlepas dari peraturan pemerintah tersebut saat ini, gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) memang sedang menjadi primadona. Siapa saja yang gencar memburu gelar ini? Mengapa mereka melakukannya? Pemburu gelar Ph.D yang paling antusias tentu saja adalah orang-orang yang bekerja di dunia akademik dan riset. Bagi para dosen di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga-lembaga riset seperti saya, gelar Ph.D adalah tujuan formal yang paling tinggi dalam jenjang pendidikan akademik yang mungkin mereka tempuh.

Bagi para insan akademik, derajat Ph.D tidak hanya dilihat sebagai atribut yang bersifat eksternal (seperti sebutan “haji”, misalnya), tetapi lebih merupakan tuntutan yang melekat pada profesi pendidik itu sendiri. Tidak ada dosen yang tidak ingin meraih gelar Ph.D, karena pencapaian itu merupakan bagian dari tugas pekerjaan sebagai dosen. Apalagi perguruan tinggi sendiri menawarkan jenjang ini sebagai salah satu core business-nya (seperti disebutkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 1999).

Tekad saya untuk menempuh program Ph.D pun di kampus luar negeri semakin meningkat, dikala saat itu mendengar info bahwa salah satu perguruan tinggi dari Taiwan mengirimkan delegasinya untuk meng-interview siapa saja mahasiswa yang berminat melanjutkan studi kampus National Central University (NCU) Taiwan.

Di sisi lain saya harus mengakui dan mencoba terus mengukur dan mempertanyakan kemampuan saya. Apakah mampu menempuh program Ph.D tersebut? Dengan kemampuan English yang pas-pasan ditambah syarat kelulusan yang mensyaratkan publish jurnal terindeks scopus. Tapi saya selalu teringat pesan orang tua saya di kampung halaman yang mengatakan, “jika orang lain bisa maka kamu pun pasti bisa.”

Akhirnya dengan bismillah saya memberanikan diri untuk mencoba dengan mempersiapkan proposal penelitian yang akan saya presentasikan di depan Profesor yang akan mewawancarai. Dan singkat cerita alhamdulillah, saya mendapatkan langsung Letter of Acceptance (LoA). Dan berasa mimpi saya sedikit demi sedikit menjadi kenyataan.

Jika memperhatikan kembali dari sisi kehidupan kampus, harus diakui masih ada budaya tak tertulis tentang perbedaan perlakuan atau pandangan berdasarkan status akademik. Pemegang gelar S3 mendapatkan hak istimewa atau privilege dalam berbagai bentuk, yang tidak bisa dinikmati oleh mereka yang “hanya” memiliki gelar S2 atau S1. Apakah benar seorang Ph.D selalu lebih mumpuni dalam hal pengelolaan institusi pendidikan tinggi dibandingkan seorang master atau sarjana? Apakah persyaratan tersebut lebih bertujuan untuk menjaga image branding, tidak ada yang tahu jawaban pastinya.

Pada tataran yang lebih informal, masih juga banyak dijumpai budaya “look who’s talking”. Kalau ada orang berpendapat, dilihat dulu siapa dia. Pendapat dari seorang Ph.D umumnya lebih diperhatikan daripada pendapat orang yang bukan Ph.D (kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang memang eksepsional). Wajarlah jika fenomena semacam ini juga memicu orang untuk meraih derajat akademik tertinggi ini. Tentu saja banyak orang yang dimotivasi oleh karakteristik dari program Ph.D itu sendiri. Salah satu kriteria lulus Ph.D adalah penelitiannya memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Agar bisa memberikan kontribusi yang signifikan, riset S3 harus mengandung orisinalitas. Orisinalitas berarti berada di sisi paling depan dalam topik yang ditelitinya.

Orang sering mengatakan bahwa seorang Ph.D adalah orang yang paling tahu/mengerti tentang topik risetnya. Perasaan “berada di ujung depan” ini sering menjadi motivasi internal yang dahsyat bagi seorang mahasiswa S3. Baginya, kondisi ini menjadi pendorong untuk senantiasa berkarya mengembangkan bidang ilmunya dengan melakukan riset-riset dan mempublikasikan hasilnya, tidak hanya selama ia belajar, tetapi bahkan setelah selesai studinya.

Ada juga yang bersemangat sekolah S3 karena tertarik dengan prosesnya. Belajar pada jenjang S3 tidak seperti belajar pada jenjang yang lebih rendah. Termasuk saya salah satunya.

Ada tuntutan untuk bisa mandiri dalam menjalankan risetnya, selain keterampilan dalam mengeksplorasi unknown areas dan menemukan hal-hal menarik yang bisa dikontribusikan. Bagi seorang yang punya jiwa ilmuwan, perjalanan intelektual ini sangat menantang karena dapat memberikan penghargaan yang sesuai dengan jiwanya: kepuasan batin karena bisa menemukan hal-hal baru yang bermanfaat.

Popularitas gelar Ph.D juga meningkat di kalangan non-akademik. Dalam beberapa tahun terakhir ini cukup banyak orang-orang yang dikenal berkarya di bidang non-akademik juga tertarik mendapatkan gelar Ph.D. Pejabat pemerintah, direksi BUMN, pebisnis, sampai ke politisi dan pengurus partai politik juga tertarik menceburkan diri dalam arus ini. Belum ada yang meneliti secara ilmiah tentang fenomena ini, tetapi analisis sederhana tentang penyebabnya adalah sifat masyarakat Indonesia yang gemar terhadap simbol-simbol sosial. Ph.D adalah simbol kepandaian dan intelektualitas. Ph.D juga sedikit banyak mencerminkan status ekonomi yang cukup tinggi, karena biaya pendidikannya cukup mahal.

Singkat kata, Ph.D adalah merk (brand) yang bernilai tinggi. Dengan gelar ini, si pemegang berharap bisa mendapatkan penghargaan sosial yang tinggi dari lingkungannya. Suka atau tidak, inilah kenyataan yang berkembang di sebagian masyarakat Indonesia. Tapi apa yang sebenarnya diharapkan dari seorang Ph.D? Apakah benar Ph.D hanya berhenti sebatas status sosial saja? Mestinya tidak, karena nilai tinggi dari sebuah image selalu muncul dari substansi yang memang berkualitas.

With great power, comes great responsibility,” ungkapan tersebut berlaku juga bagi seorang Ph.D, yang dengan gelar itu ia punya posisi terhormat. Sayangnya banyak yang lupa atau bahkan tidak memahami tentang tanggung jawab moral yang mengikutinya, sehingga kontribusi dan karyanya berhenti setelah gelar S3 diperoleh. Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa ketidaktahuan tentang hal ini kemudian berimplikasi pada proses studi yang tidak berjalan secara semestinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa motivasi seseorang untuk meraih gelar Ph.D adalah untuk meningkatkan kondisi sosial ekonominya. Banyak yang menganggap gelar Ph.D sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan mencapai tujuan tersebut, bukan karena kompetensi atau kapabilitas yang ditawarkannya, tapi lebih karena persepsi terhadap nilai gelar tersebut. Berbicara tentang persepsi terhadap nilai gelar, ada fenomena menarik tentang persepsi masyarakat terhadap gelar akademik, khususnya pada jenjang magister atau S2.

Sampai pertengahan tahun 90-an, gelar S2 masih dianggap bernilai tinggi karena belum terlalu banyak orang yang memegangnya. Kondisi berubah menjelang sekitar tahun 2000 saat Indonesia diterjang krisis moneter. Banyak lulusan baru S1 dan mereka yang kehilangan pekerjaan berbondong-bondong mengikuti program S2 untuk meningkatkan daya tawar mereka. Akibatnya sejak itu produksi lulusan S2 menjadi melimpah, mengisi berbagai posisi pekerjaan. Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 yang mensyaratkan seorang dosen harus bergelar minimal S2 untuk bisa mengajar di program S1 semakin mendorong dosen untuk menempuh studi pascasarjananya. Seiring dengan bertambahnya jumlah lulusan S2, nilai persepsional terhadap gelar S2 akan menurun. Gelar master bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bagi para pemegang gelar S2, kondisi ini mengakibatkan kompetisi yang semakin ketat di antara mereka. Mereka saling berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan, pengakuan (recognition), dan hak-hak khusus (privilege) yang melekat pada gelar tersebut. Gelar S2 bukanlah merupakan competitive advantage bagi pemegangnya, dan mereka harus mencari faktor-faktor lain untuk bisa memenangkan persaingan.

Kondisi yang serupa diramalkan akan terjadi pada lulusan S3 dalam waktu yang tidak terlalu lama. Seiring dengan naiknya popularitas program S3, jumlah mahasiswanya pun meningkat, dan dalam beberapa tahun ke depan, jumlah lulusan S3 juga akan bertambah. Mirip dengan fenomena yang terjadi dengan gelar S2, nilai persepsional terhadap gelar Ph.D akan menurun, dan gelar S3 bukanlah faktor yang menentukan dalam memenangkan kompetisi. “Medan peperangan” bagi para Ph.D pada masa mendatang terletak pada seberapa jauh mereka bisa hadir dan berkontribusi di lingkungannya masing-masing. Di pergaulan akademik internasional misalnya, eksistensi seorang Ph.D ditentukan oleh publikasi internasionalnya atau keterlibatannya dalam berbagai kerja sama ilmiah internasional. Ada pepatah barat yang mengatakan: publish or perish. Ungkapan yang ditujukan kepada para ilmuwan ini mematok publikasi sebagai syarat eksistensi mereka. Di lingkup lokal, kompetisi juga tidak kalah serunya. Banyak ceruk-ceruk yang menyediakan kesempatan untuk berkontribusi dan berprestasi, tetapi banyak juga pemain yang masuk ke sana. Jurnal-jurnal dan seminar-seminar nasional, hibah-hibah riset nasional, tawaran-tawaran sebagai konsultan, sampai ke jabatan-jabatan di lingkungan pemerintahan adalah beberapa contoh battle field bagi para Ph.D kita kelak. Pertanyaannya kemudian adalah, jika gelar Ph.D sendiri sudah bukan lagi faktor dominan penentu kesuksesan, lalu bagaimana caranya untuk bisa survive dan berkembang?

 

Penulis: Tri Wijaya N. Kusuma

(Ph.D Student of National Central Univeristy, Taiwan)

(Aktivis PPI Taiwan )

You May Also Like

One thought on “Makna dalam Sebuah Perjalanan Panjang Menempuh Program Ph.D

Leave a Reply

%d bloggers like this: