Masyumi dan PKI dalam Lintasan Sejarah – Kajian Strategis PPMI Arab Saudi

Sejarah mencatat Masyumi dan PKI adalah dua partai besar di masanya. Pergolakan pemikiran antara keduanya kerap terjadi, mengingat keduanya membawa ideologi yang saling bertolak belakang satu sama lainnya. Tak jarang konflik pemikiran antara keduanya berujung pada kericuhan, seperti insiden Malang di tahun 1954, setahun menjelang diselenggarakannya pemilu pertama. Adu propaganda antara Masyumi dan PKI juga kerap terjadi di surat kabar mereka: Hikmah dan Harian Rakyat. Isa Anshary, singa podium Masyumi, bahkan memilih cara frontal untuk menandingi propaganda PKI melalui Front Anti Komunisnya.

Pertarungan tak kalah sengit terjadi di Majelis Konstituante. PKI berusaha merubah bunyi sila pertama Pancasila agar sesuai dengan ideologi komunis yang mereka usung. Dalam pidatonya, Ir Sakirman, salah seorang tokoh politik PKI, mengakui bahwa mereka ingin mengganti sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi “Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan Hidup”. Dalam hal ini, kemerdekaan beragama meliputi kemerdekaan untuk tidak beragama juga.

Kasman Singodimedjo, wakil Masyumi dalam Konstituante, menentang keras usulan PKI. Kasman menyatakan Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan pokok dari Pancasila itu sendiri. Kasman juga mengkritik pidato Nyoto, orang kedua setelah Aidit, dalam sidang Konstituante yang mengatakan bahwa Pancasila dapat berpihak kemana-mana. Menurut Kasman, isi pidato Nyoto juga dapat menafsirkan bahwa Pancasila dapat berpihak ke pemahaman atheis serta syetan. Tak hanya mengkritik konsep yang diusung PKI, Kasman dan partainya juga menyerukan diterapkannya Islam sebagai dasar negara dalam pembahasan di Konstituante.

Sikap tegas Kasman terhadap ideologi PKI sejalan dengan Mohammad Natsir, tokoh Masyumi lainnya. Terlepas dari hubungan baiknya dengan Aidit secara personal, Natsir menyatakan tidak mungkin antara yang percaya Tuhan dengan yang tidak percaya kepada Tuhan bisa bersatu, merujuk pada gagasan Soekarno ketika itu untuk membentuk kabinet kaki empat seusai pemilu 1955. Dalam tulisannya di tengah sidang Konstituante yang berlangsung sengit, Natsir juga meminta Umat Islam untuk berhati-hati terhadap manuver politik PKI yang mendekati kaum beragama demi merealisasikan cita-cita mereka, menyebutnya dengan istilah politik menyodorkan tangan palsu.

Perselisihan antara Masyumi dan PKI baru benar-benar berakhir ketika Soekarno mengeluarkan keputusan presiden untuk membubarkan Masyumi dan PSI di tahun 1960. Berakhirnya eksistensi keduanya membuat PKI berada di atas angin, khususnya di era demokrasi terpimpin. Berkurang lawan politik tangguh yang menghalangi tujuan mereka. Pembubaran Masyumi juga diiringi dengan penangkapan sejumlah tokoh-tokoh Islam.

Di tahun yang sama elit-elit PKI di dalam pemerintahan berhasil mengeluarkan kebijakan Land Reform yang membatasi kepemilikan tanah baik pribadi maupun umum maksimal 5 dan 7 hektar. Keputusan ini menunai konflik di berbagai daerah, khususnya di kantong-kantong santri karena tanah wakaf milik pesantren tak lepas dari aturan ini.

Tak heran jika tumbangnya PKI di tahun 1966, yang diiringi dengan jatuhnya orde lama, dan dimulainya era orde baru disambut oleh euforia umat Islam. Sebab tidak ada asap tanpa adanya api. Walau di kemudian hari sejarah mencatat bahwa orde baru tidak lebih baik dari orde lama, umat Islam tetap disingkirkan dan terus diintimidasi. Namun umat ini tetap teguh dengan ideologinya dan terus berjuang melawan segala ketidakadilan dengan berbagai cara.

Tanpa menafikan peran NU, PSII dan partai-partai Islam lainnya, apa yang dilakukan Masyumi di masa lampau adalah bentuk ikhtiar tokoh-tokoh Islam melawan pengaruh komunisme melalui struktur pemerintahan. Dari Masyumi kita belajar bahwa politik bukan hanya soal kekuasaan. Politik juga bukan sebagai tujuan, namun wasilah untuk mengatur kehidupan pribadi, sosial dan bernegara. Mensejahterakan masyarakat melalui sistem ketatanegaraan dengan nilai-nilai Islam.

Dari PKI kita juga dapat mengambil ibroh, hendaknya umat Islam sensitif dan tidak memandang sebelah mata terhadap masalah-masalah kaum buruh dan petani. Sejarah mencatat, propaganda SI Merah dan PKI lebih mudah diterima di kalangan buruh dan petani. Bukan karena ideologi yang mereka bawa, akan tetapi karena aktivis-aktivis SI Merah dan PKI mampu memberikan respon yang tepat terhadap problematika buruh dan petani.

Komunisme terbukti telah gagal diterapkan di Indonesia. Namun perang pemikiran tidak benar-benar usai. Ide-ide sekulerisme, liberalisme hingga sosialisme terus bersemai di negeri ini. Agenda dakwah dan sosial di kantong-kantong buruh dan petani hendaknya menjadi perhatian serius. Itu semua adalah tugas kita sebagai pemanggul estafet perjuangan tokoh-tokoh Islam di masa lalu. Perlu adanya kerja-kerja kolektif untuk membawa aturan-aturan Islam sebagai solusi atas krisis bangsa. Namun mampukah kita mengemban amanah tersebut, jika sebagian besar energi kita masih tercurah dalam pertikaian antar kelompok?

Tim penulis: Jundi Imam Syuhada, Arya Pradipta

Sumber: jejakislam.net, nuun.id, historia.id, Jurnal Islamia Republika

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

Leave a Reply

%d bloggers like this: