Pesona Merah Putih Di Tanah Mandela

Durban, South Africa– Pengenalan let’s visit Indonesia pada perayaan Heritage Day Afrika Selatan 2016 menuai antusiasme mahasiswa post-graduate dan post-doctoral Durban University of Technology (DUT), Durban, Afrika Selatan. Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu, (17/09) oleh DUT International Postgraduate Association dan dihadiri oleh perwakilan sejumlah negara dari dua benua yakni Afrika Selatan, Nigeria, Zimbabwe, India, dan Indonesia. Acara yang dikemas sebagai DUT Cultural Day 2016 ini bertempat di Corlo Court Residence, DUT dan bertujuan untuk saling memperkenalkan identitas negara asal mahasiswa serta sekaligus sebagai momen keakraban internasional. Secara historis, perayaan Heritage Day Afrika Selatan adalah hari untuk mengenang Raja Shaka Zulu (Shaka Zulu King) yang merupakan seorang raja legendaris bagi warga Afrika Selatan karena jasanya yang berhasil mengatur dan mempersatukan banyak klan Afrika Selatan sehingga dapat hidup rukun dan damai hingga sekarang. Setelah beberapa waktu, Heritage Day lebih dikenal sebagai hari budaya nasional Afrika Selatan dimana masyarakat dari suku (tribe) yang berbeda berkumpul dan merayakannya melalui beragam kegiatan persaudaraan, salah satunya pesta braai (barbeque/lamb party). Bertepatan dengan momen tersebut, para mahasiswa post-graduate interasional di DUT berinisiatif untuk mengadakan even perkenalan antar-bangsa yang dikemas dalam bentuk presentasi oral sekaligus makan siang bersama dengan menu khas dari masing-masing negara.

peona merah putih di tanah mandela

Presentasi oleh mahasiswa Indonesia bertemakan ‘beauty of diversity’ berhasil memperkenalkan keragaman Indonesia dari dua sudut pandang, yakni sebagai tujuan wisata turis dan pengembangan potensi sumber daya manusia. Keindahan alam, uniknya budaya, keragaman suku bangsa dan bahasa merupakan intisari dari banyak hal menarik yang disajikan dalam kegiatan kali ini. Gambaran jelas dan persuatif pun ditayangkan untuk memperkuat jati diri bangsa Indonesia sebab kebanyakan masyarakat Afrika Selatan beranggapan bahwa masyarakat gugus Asia Tenggara adalah bagian dari rakyat Tionghoa dengan budaya China yang telah lebih dahulu terkenal dan menjamur, semisal Kung-Fu, Barongsai, dan Han-Zi-nya. Pemutaran video wonderful Indonesia yang mengekplorasi kekayaan nasional Indonesia seperti Tari Saman, Candi Borobudur, bunga Raflesia Arnoldii, Pulau Komodo hingga Raja Ampat berhasil memukau dan menarik minat mahasiswa yang mayoritas berasal dari Afrika untuk datang ke Indonesia.

Sebuah pertanyaan menarik sempat diajukan oleh salah satu mahasiswa terkait biaya desitinasi wisata dan kurs mata uang yang digunakan di Indonesia. Perbandingan triple-digits mata uang rupiah terhadap mata uang Rand Afrika Selatan pun menghebohkan suasana presentasi dimana kurs yang terjangkau ini tentu semakin meng-encourage teman-teman internasional untuk berkunjung ke Indonesia. Perspektif selanjutnya yang disajikan adalah sumber daya manusia khususnya dari segi peluang riset, bisnis, dan perdagangan; dimana beberapa hal ini tidak pernah surut dari topik perbincangan hangat dunia internasional. Sebagai mahasiswa riset, kami mencoba untuk lebih menekankan pada aspek riset/penelitian yang memungkinkan untuk diinduksinya kolaborasi sinergis antar-negara kedepannya mengingat para mahasiswa internasional memiliki background riset yang berbeda-beda.

merah potih di tanah mandela
Satu hal yang tak boleh ketinggalan adalah penyajian menu spesial Tanah Air yang memikat lidah para mahasiswa di ahir acara, yakni nasi goreng ayam dan teh jahe. Konon, warga India dan Afrika memiliki makanan nasional yang selalu penuh rempah dan tekstur khas masing-masing. Namun pada hari ini, mereka diperkenalkan dengan makanan dan minuman bertekstur sederhana dengan perpaduan rempah Indonesia dan teknik meracik yang genuine menjadikannya sebagai cita rasa baru yang mudah diterima oleh mayoritas mahasiswa. Di luar ekspektasi, teman-teman dari negara lain tampak sangat menyukai menu yang disajikan bahkan hingga menanyakan detail resepnya. Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami sebagai “duta” Indonesia dalam acara ini. Secara keseluruhan, pengenalan pesona Indonesia dalam even DUT Cultural Day berhasil menghubungkan missing link antara mahasiswa dari negara-negara Afrika dengan Asia Tenggara khususnya Indonesia. Selain itu, antusiasme peserta yang hadir dan perspektif ke-Indonesia-an yang disajikan, diharapkan dapat semakin memperkuat tagline Afrika Selatan sebagai country of diversity dimana perbedaan ras, warna kulit, suku, agama, dan budaya merupakan identitas nasional yang perlu dijaga eksistensinya.[ADP/BTM]

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: