Mimpi Anak Kampung Pulau Bintan

Membaca tulisan-tulisan A. Fuadi membuat aku bermimpi sejenak. Apakah pantas seorang anak kampung dari pulau nun jauh di bagian Sumatera ini untuk kuliah di luar negeri? Apakah pantas seorang yang perekonomiannya bisa di bilang “pas-pas-an” ini untuk kuliah di luar negeri ? Apa pantas ? Tak kutemukan jawabannya hingga suatu hari, di suatu detik yang menjawab segala prasangka-prasangka positif itu. Aku berasal dari SMA Negeri 1 Bintan, Kepulauan Riau. Pulau Bintan, mungkin tak banyak yang tahu tentang pulau ini. Jaraknya sekitar 50 menit dari Pulau Batam dengan menggunakan kapal Ferry. Maka akan sampai di pelabuhan Tanjungpinang dan menempuh perjalan sejauh 40 km untuk sampai di SMA Negeri 1 Bintan.

Apa yang bisa dilakukan oleh murid kampung ini? Cuma bisa bermimpi untuk kuliah di luar negeri, memang rasa-rasanya tidak mungkin. Tetapi, semakin saya membaca buku-buku kisah Pak Baharuddin Jusuf Habibie, Andrea Hirata, dan Oki Setiana Dewi. Buku-buku seputar mereka yang menemani saya ketika detik-detik Ujian Nasional SMA tiba. Setidaknya, saya masih berani bermimpi bisa S2 di luar negeri, meski S1 saja saya tidak tahu, bisa atau nggak ? Dikarenakan kondisi perekonomian keluarga, saya mengubur dalam-dalam cita-cita saya masuk kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). The most favorite campus for me.  Mengubur dalam-dalam dengan penuh air mata, nggak berani mimpi kuliah S1 di luar negeri.

Kepada kisah-kisah yang menginspirasiku, kepada Pak Habibie yang berhasil mengajarkanku untuk semakin cinta pada buku, cinta aktivitas membaca dan cinta aktivitas menulis. Membaca buku apa saja, dimana saja, dan kapan saja. Mengumpulkan, megolah dan menyaring. Lalu, menginterpretasikan hal-hal positif dalam hidup ini. Yang sudah mengajarkan ku, benci kepada hal yang main-main dan sia-sia. Mengajarkan ku, semangat tinggi belajar di luar negeri, mengharumkan nama rakyat Indonesia. Kepada Oki Setiana Dewi, yang mengajarkanku bahwa nggak harus pinter dulu untuk belajar di luar negeri, justru kita ke luar negeri itu untuk belajar. Kepada Andrea Hirata, yang membuktikan bahwa anak kampung juga bisa kuliah di luar negeri dengan sukses. Kepada A. Fuadi yang selalu menyuntikkan kalimat-kalimat motivasi sehinggakan aku berani bermimpi dalam diam dan berdo’a.

Inilah jawaban atas detik-detik kekhawatiran selama 90 hari aku menunggu, dimanakah kampus peradaban yang aku tuju. Ternyata, benar ya kata orang, apa yang kita baca akan mempengaruhi cara berpikir, cara hidup, cara pandang dan another believe of us. Inilah falsafah yang tetap aku pegang, mutiara ya mutiara, dimana saja ia berada ia akan tetap jadi mutiara. Inilah jawaban dari do’a-do’a dan mimpi terpendam yang aku utarakan hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kusampaikan pada kakak tercinta, ingin S2 di Malaysia, nanti. Pada ibu tercinta ku meminta restu, untuk kuliah di luar negeri. Inilah sayap-sayap do’a orang-orang terkasih. Anak kampung ini, kuliah di Universiti Teknologi Malaysia, Skudai, Johor Bahru (Johor Darul Ta’zhim) dengan beasiswa Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau dengan syarat mengkuti tes dan interview.

Adalah karunia Tuhan kepada hamba-Nya. Sekali lagi, anak kampung ini yang hanya mendapat tes TOEIC bahasa inggris tiga ratus-an tertatih-tatih mencoba menginterpretasikan setiap mata kuliah di kampus. Kesulitan dalam berkomunikasi ini, menjadi ketakutan karena terikat perjanjian kontrak harus mendapatkan ipk-sekian. Penuh sandiwara, mungkin. Penuh air mata, tak bisa dipungkiri. Jarak sejauh lebih dari 100 km dari rumah, membuatku merasa home sick. Pertama kalinya anak kampung ini merantau. Ada banyak pelajaran yang kudapatkan dari kuliah di luar negeri, sangat banyak. Salah satunya, ketika semester awal. Ada sistem penilaian dari mahasiswa untuk dosen, jujur aku memberi masukan, bahwa “aku nggak ngerti sama sekali apa yang bapak jelaskan di kelas”. Dengan penuh tata krama dosen tadi menghargai aku dengan menggunakan bahasa melayu saat ujian laboratorium. Ini memacu semangat ku untuk terus belajar bahasa inggris. Satu lagi yang masih terkenang adalah, the ways of people teach us. Bukan bagaimana kita dapat nilai A dikelas lalu kita dapat four flat with perfectly, tapi ini tentang keutamaan ilmu dan nilai kejujuran. Our attitudes that determine how much we are educated.

Tentang manajemen waktu di organisasi, tentang belajar kepemimpinan, tentang seni mempelajari manusia dari berbagai belahan dunia. Tentang keindahan geografis Malaysia, sehinggakan aku sudah menjelajah negeri-negeri bagian selatan di Malaysia. Tentang, perjuangan dan air mata dan disini aku tau aku tak sendiri. Ada rakan-rakan lain yang berjuang dan membuktikan untuk menjadi a good Indonesian. Sekali lagi, ini kisah anak kampung yang sedang menyusun puzzle mimpi kuliah di luar negeri. Berharap suatu hari nanti, bisa meranah di kampus peradaban negeri ber-ibu kota Berlin.

 

 

Biodata Penulis

Nama : Rakhmania

Jurusan : Biologi Industri (Bioteknologi)

Universitas : Universiti Teknologi Malaysia (UTM)

 

You May Also Like

3 thoughts on “Mimpi Anak Kampung Pulau Bintan

  1. Good job babe, my best friend and sister 👍👍👍
    Proud of you, you’re the stronger akhwat. Bangga jadi temanmu rakhma dr dulu hingga sekarang, bangga karena sudah diberi kesempatan sama Allah untuk mengenalmu, semoga perlindungan dan kebaikan selalu disisimu. Let’s create our dream become true 💪💪💪 barakallahu fiik. Tetap yaa watawaa shaubil haq watawaa shaubis shabr~

  2. Ngejeplak kakak buat kembali sibuk dengan buku buku nih 😁 😁 😁 walo ga pernah pasang niat buat kuliah S2 atau kuliah di luar negeri, tapi always salut sama yang berhasil meraih mimpinya. Barakallah, moga makin bermanfaat rakhma

Leave a Reply

%d bloggers like this: