Mimpi yang tertunda 7 tahun

Oleh : Nyoman Widia Anggreni, penerima Beasiswa Unggulan dari Biro PKLN, KEMDIKBUD

– Erasmus Mundus Consortium University
Sejak duduk di bangku SMP saya selalu bermimpi untuk bersekolah di luar negeri. Tapi, maklum, keluarga saya bukan keluarga yang mampu untuk menyekolahkan anaknya sampai ke negeri sebrang. Sejak saat itu, ibu selalu bilang kalau saya mau sekolah ke luar negeri saya harus berusaha cari beasiswa.
Agak pesimis sebenarnya untuk mencari beasiswa. Nilai saya pas-pasan. Tamat SMA pun saya gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri, jadilah saya masuk ke Sekolah Tinggi Swasta. Saat itu ayah saya berkomentar pedas, sekolah tinggi saya kata beliau adalah sekolah yang tidak masuk dalam peta alias kurang dikenal. Sekali lagi, maklumlah, universitas saya masih baru merintis saat saya masuk di sana. Tapi sekarang Sekolah Tinggi saya termasuk sekolah yang banyak diminati. Cukup berbangga hati juga lho saya. Tidak perlu disebut ya saya dulu kuliah di mana.Tapi kalau memang mau tau, silahkan kontak saya langsung. Tapi biarpun begitu saya tetap bersyukur bahwa saya memilih masuk Sekolah Tinggi saya itu, kalau tidak, mungkin saya tidak di sini.
Kenapa saya bersyukur? Karena sekolah tinggi saya itu merupakan sekolah tinggi yang sistem pengajarannya 2 bahasa. Di tahun 2000, sekolah tinggi yang mempunyai sistem pengajaran bilingual tergolong jarang. Tapi hasilnya lumayanlah bahasa inggris saya cukup tergembleng. Setelah 4 tahun terbiasa berkomunikasi dengan dua bahasa, kemampuan berbicara saya dalam bahasa inggris jadi lebih terasah. Tapi tentu saja setelah lulus saya tetap mengasah kemampuan saya ini dengan membiasakan diri untuk menonton film asing tanpa subtitle atau berkomunikasi dengan teman yang walau bukan orang asing tapi dengan berbahasa inggris.
Niat setelah lulus S1 sebetulnya adalah lanjut S2 ke luar negeri. Dengan beasiswa tentunya. Tapi karena satu dan lain hal saya lagi-lagi menunda mimpi saya. Saya memutuskan untuk berkeluarga dan berkarir. Keputusan berat, tapi itu pilihan saya saat itu. Akhirnya 7 tahun kemudian saya pun terkena musibah. Musibah yang berbuah manis dan membawa saya kuliah di Eropa. Meski berawal pahit tapi akhirnya mimpi yang tertunda ini bisa terwujud.
Walau sedang jatuh tapi bukan berarti saya harus tertimpa tangga juga kan? Buah manis saya bermula saat saya lulus tes Beasiswa Unggulan dari Biro PKLN, KEMDIKBUD. Tapi tidak cukup sampai di situ. Walau lulus beasiswa, tapi saya belum terdaftar di Universites mana pun. Lha, terus gimana? Ya sudah, dengan semangat 45 dan modal nol rupiah saya coba berburu Universitas.
Sebelum saya nekat daftar di Universitas sana sini, saya ikut ujian IELTS dulu. IELTS atau TOEFL adalah syarat mutlak english proficiency yang harus di penuhi untuk mendaftar di universitas mana saja di luar negeri. Tapi sebelum saya nekat ujian, saya ambil kursus bahasa inggris lagi. Bukan apa-apa, walau saya tidak meragukan kemapuan mendengar dan berbicara dalam bahasa inggris tapi saya sadar saya punya kekurangan di menulis essay dalam bahasa inggris. Jadi tujuan saya ikut kursus bahasa inggris adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam bahasa inggris saya. Puji syukur, hasil kursus serta kuliah di sekolah tinggi bilingual membawa saya mendapat nilai rata-rata 7.0 di IELTS saya. Lumayan kan?
Setelah itu, hunting universitas pun berani saya mulai. Mulai dari browsing di Internet sampai hadir ke setiap pameran pendidikan yang ada di Jakrta. Akhirnya saya pun mendaftar di 5 univeersitas: Melbourne University, Monash University, Curtin University, Bornemouth University, dan Erasmus Mundus Consortium University.
Beberapa Universitas sebetulnya meminta saya untuk membayar application fee. Tapi saya mendapat info kalau saya bisa minta waiver fee, jadi saya tidak perlu membayar. Di website tidak begitu dijelaskan dengan terperinci tata cara mendapatkan waiver fee. Tapi kemudian saya lihat di surat kabar bahwa universitas-universitas ini sedang mengadakan open house di suatu hotel. Tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk menanyakan perihal waiver fee. Jadilah dengan berbekal print out formulir pendaftaran, ijazah dan IELTS saya mendapat waiver fee dari ke tiga universitas: Melbourne University, Curtin University, dan Monash University. Sementara untuk Bournemouth University dan Erasmus Mundus Consortium University memang tidak meminta application fee.
Tahap selanjutnya adalah menunggu. Menunggu yang membuat cemas. Hampir 1,5 bulan saya dag dig dug menunggu hasil, dengan harapan dari 5 universitas saya daftar setidaknya saya diterima disalah satunya. Dan hari penantian itu berakhir, tanpa diduga saya diterima di kelima Universitas. Jingkrak jingkrakan di tengah sawah tapi terus bingung. Nah lho, trus gimana dong?
Setelah semedi lama dan dengan pertimbangan panjang akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran dari Erasmus Mundus. Alasan pertama karena ini satu satunya program yang bisa memberikan saya kesempatan kuliah di dua negara sekaligus yaitu Denmark dan Belanda. Jadi selain kuliah, saya juga bisa sedikit “betualang” disetidaknya dua negara. dan alasan ke dua, dari segi biaya hidup, dua negara ini masih lebih murah daripada biaya hidup di Inggris dan Australia.
Beasiswa sudah, LOA sudah, kemudian saya sampai di tahapan birokrasi. Setelah semua urusan surat surat resmi beres, visa, ijin tinggal, dan persiapan lahir dan batin juga beres. So here I am. Saat ini saya sedang menyelesaikan program master saya di Universiteit van Amsterdam, Belanda. Tahun sebelumnya saya kuliah di Aarhus Univesitet dan Danish School of Journalism di Aarhus, Denmark. Doakan saya lulus tepat waktu ya.
Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

One thought on “Mimpi yang tertunda 7 tahun

Leave a Reply

%d bloggers like this: