“Pak, Itu Patung Apa?”

Di sebuah rumah kontrakan kecil di daerah sekitar pelabuhan, Pontianak, medio 1995.

“Pak, itu patung apa?” tanya seorang anak yang sedang menonton film keluarga berjudul “Home Alone 2: Lost in New York”, setengah takjub melihat patung seorang wanita yang begitu anggun mengangkat obor di tangan kanannya dan memegang buku di tangan kirinya. Ayahnya menjawab pendek, “itu patung Liberty.” Si anak yang kadung takjub dengan patung tersebut pun bertanya lagi, “ayo ke patung itu yuk, pak.” Sang ayah hanya bisa tersenyum, “jauh tuh… di Amerika Serikat sana. Harus bisa bahasa Inggris kalau mau ke sana.” Si anak yang kebingungan pun kembali melontarkan pertanyaan, “bahasa Inggris tuh apaan?” Si ayah menjawab dengan sabar, “kalau mau ke Amerika Serikat atau ke negara manapun harus bisa bahasa Inggris, biar nggak tersesat.” Si anak menjawab, “hoo… berarti saya harus belajar bahasa Inggris nih.

Sang anak yang saat itu baru saja naik kelas 4 SD tidak tahu apa itu bahasa Inggris karena memang pada saat itu di sekolah tempat dia mengenyam pendidikan tidak mengajarkan pelajaran bahasa Inggris. Meskipun kebingungan, kekaguman anak itu melihat patung Liberty tidaklah lenyap dan membuatnya bergumam dalam hati, “tunggu nanti udah kaya mau lihat patung Liberty ah…”

Seiring berjalannya waktu, si anak semakin lupa dengan impiannya itu. Si anak terlihat lebih bersemangat bermain sepakbola dan mendukung kesebelasan sepakbola asal Italia, bermain bola basket dan menonton tayangan pertandingan bola basket NBA di televisi, serta bermain bulutangkis sambil membayangkan dirinya kelak menjadi atlet bulutangkis nasional mewakili Indonesia di ajang bergengsi. Bahkan pada suatu titik, anak ini pernah ingin menjadi gitaris ternama dan mengadakan konser rock di berbagai belahan dunia. Tidak lagi dia ingat akan impian masa kecilnya yang sederhana. Lebih jauh, tidak lagi dia merasa perlu mengetahui dan belajar tentang bahasa Inggris.

***

Di kantor guru di sebuah sekolah menengah atas negeri, Pontianak, Juni 2004.

“Mam, terima kasih atas ajaran dan bimbingan Mam. Kalo nggak karena mam, mungkin saya tidak akan pernah benar-benar menyukai bahasa Inggris.” Si anak, baru saja dinyatakan lulus pendidikan menengah atas, sedang berbincang dengan guru bahasa Inggris yang begitu dihormatinya.

“Selamat ya… setelah lulus mau ngapain kamu? Kerja kah? Kuliah kah?” tanya sang guru.

“Saya belum tau, mam. Saya maunya kuliah tapi nggak ada duitnya. Mau kerja juga bingung mau kerja apaan… saya nggak bisa apa-apa selain bahasa Inggris,” jawab si anak sambil menerawang, kebingungan akan masa depannya sendiri.

“Mam harap kamu lanjut kuliah, kalau bisa jadi guru bahasa Inggris. bahasa Inggris kamu bagus dan kamu punya potensi untuk jadi guru. Mam suatu saat akan pensiun dan Mam harap orang-orang seperti kamu yang akan menggantikan Mam membagikan ilmu kepada anak-anak di masa depan. Mam akan terus doakan kamu ya…” sang guru menepuk pundak si anak.

“Terima kasih, mam,” si anak berlalu dari pandangan gurunya.

***

Di auditorium salah satu universitas negeri, Pontianak, Agustus 2009.

Si anak bangkit berdiri ketika menyadari bahwa telah tiba gilirannya untuk naik ke atas panggung untuk berjabat tangan dengan Pak rektor dari universitas tersebut dan diwisuda. Pikirannya kembali melayang mengingat masa-masa awal kelulusannya dari bangku sekolah menengah atas, di mana dia hampir menyerah dan melepas mimpinya untuk mengenyam bangku perkuliahan. Di tengah keputusasaannya, suatu hari anak ini ditawari beasiswa untuk berkuliah di bidang pendidikan bahasa Inggris oleh yayasan yang mengelola salah satu sekolah swasta di kota Pontianak. Tanpa pikir panjang, si anak langsung mengiyakan tawaran tersebut. “Nggak perlu mikirin biaya kuliah, lulus bisa jadi guru bahasa Inggris! Yey!” si anak bersorak kegirangan mengetahui bahwa harapannya untuk berkuliah bisa menjadi kenyataan.

Selesai diwisuda, tak henti-hentinya si anak berpikir “oke, udah S. Pd. (Sarjana Pendidikan) nih, udah sah dan layak jadi guru.” Si anak yang tidak lagi mengingat impian masa kecilnya untuk melihat patung Liberty kini hanya tersenyum kecil mengingat apa yang disampaikan oleh guru bahasa Inggrisnya dahulu. “Ya udah, habis wisuda ini ya jadi guru bahasa Inggris bener-bener aja dah sampai nanti tua. Paling tidak, pesan dari guru bahasa Inggrisku sudah kulakukan,” pikir anak ini.

***

New York, 1 Januari 2013.

Si anak berjalan kaki menyusuri Times Square sendirian. Dia melangkahkan kakinya perlahan menyusuri jalanan yang kotor sehabis perayaan malam Tahun Baru sambil sesekali berhenti mengambil foto. Sembari menunggu temannya, dia berhenti untuk menghangatkan diri di sebuah restoran cepat saji dan memesan burger ayam dan segelas kopi panas. Sambil menyeruput kopi si anak masih tidak percaya bahwa jalan hidupnya membawa dia sedekat ini mewujudkan impian masa kecilnya yang bahkan sudah pernah dilupakannya. Tidak pernah disangka bahwa dia adalah satu dari delapan orang yang terpilih menjadi asisten dosen untuk mengajar dan memperkenalkan bahasa Indonesia kepada mahasiswa asing di Amerika Serikat. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya dia akan meninggalkan zona nyamannya di ruang kelas dan kantor guru untuk melangkah ke negeri jauh. Tidak pernah disangkanya pula bahwa dia akan memiliki kesempatan untuk menjejakkan kaki di New York karena dia tidak ditempatkan di kota ini melainkan di kota Washington, DC. Tiba-tiba lamunannya terhenti karena telepon genggamnya berbunyi. Dilihatnya bahwa yang meneleponnya adalah si teman yang akan menemaninya mewujudkan impian masa kecilnya.

Di hari yang sama diatas sebuah kapal…

“Pak, Mak, saya udah lihat patung Liberty secara langsung… keren…”katanya dalam hati.

Tanpa sadar, setetes dua tetes air mata mengalir membasahi pipi. Si anak berhasil mewujudkan impiannya melihat patung Liberty. Impian yang dimulai sejak 18 tahun lalu dan sempat dilupakan berhasil dijadikan kenyataan.

“Suatu hari saya akan kembali ke sini lagi, entah untuk S2 atau S3, pokoknya kembali,” gumamnya dalam hati.

Januari 2013, di Patung Liberty.

Januari 2013, di Patung Liberty.

April 2013, Locker room Tim NBA Washington Wizards.

April 2013, Locker room Tim NBA Washington Wizards.

Mei 2013, Berfoto bersama dosen dan asisten dosen SAIS Johns Hopkins Unversity.

Mei 2013, Berfoto bersama dosen dan asisten dosen SAIS Johns Hopkins Unversity.

***

Di dalam salah satu stadion sepakbola kenamaan, Manchester, September 2014.

“Kenapa saya bisa nyasar ke Inggris ya? Kan rencananya lanjut studi di Amerika Serikat,” tawa si anak dalam hati. Si anak sedang mengikuti tur stadion sepakbola bersama beberapa teman yang memperoleh beasiswa dari salah satu badan layanan umum di Indonesia. “British accent nggak suka, Liga Inggris nggak doyan, nggak ada tim favorit…”

“Heyy… yuk foto,” tepukan di bahu mengejutkan si anak. Seorang temannya mengajak berfoto dengan latar belakang rumput lapangan sepakbola yang memang sangat terkenal tersebut. Selesai berfoto, si anak kembali larut dalam lamunannya dan berakhir dengan kesimpulan “Yaudah sik, udah di Inggris ini… belajar dah bener-bener. Kelar studi dapat gelar MA dah… kalo bisa S3 balik ke Amerika Serikat, kalo nggak pun di Inggris ini aja udah bagus banget

Anak ini pun berjuang sekuat tenaga untuk menyelesaikan studinya dengan baik dengan harapan hasil studi yang baik akan memudahkan dia untuk bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral. Tidak lupa dia juga membangun komunikasi dengan dosen-dosen di kampusnya untuk mempermudah dirinya memperoleh informasi dan bimbingan menuju studi doktoral yang diimpi-impikannya. Impiannya pun mulai bergeser, “nggak apa-apa nggak ke Amerika, yang penting bisa lanjut S3 di salah satu kampus bergengsi.” Dan memang benar, setelah anak ini menyelesaikan pendidikan magisternya dan pulang ke Indonesia, dia mendapatkan tawaran untuk melanjutkan pendidikan doktoral di kampus tersebut, yang akan dimulai pada September 2016. “Sekarang tinggal cari beasiswa nih… bisa lah ini…sebelum-sebelumnya juga bisa dapat beasisiwa,” gumamnya sedikit pongah.

Hingga pertengahan Juni 2016, usaha si anak mendapatkan beasiswa untuk membiayai pendidikan doktoralnya belum membuahkan hasil. Pengajuan beasiswanya, baik ke badan-badan penyedia beasiswa maupun ke kampus secara langsung, ditolak dengan berbagai alasan. Keinginan anak ini untuk melanjutkan pendidikan doktoral terancam gagal dan impiannya sepertinya harus dikubur dalam-dalam. Anak ini pun terlihat putus asa dan tiba-tiba bayangan ketidakpastian seperti ketika dia menyelesaikan pendidikan menengah atas kembali bergelayut…

September 2014, Mengikuti Stadium tour Old Trafford.

September 2014, Mengikuti Stadium tour Old Trafford.

Maret 2015, Bersama teman-teman mendukung perjuangan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir di final All England.

Maret 2015, Bersama teman-teman mendukung perjuangan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir di final All England.

Mei 2015, Oxford Road, Manchester.

Mei 2015, Oxford Road, Manchester.

April 2015, Menonton Langsung Inter Milan vs Parma di stadion Giuseppe Meazza, Milan.
April 2015, Menonton Langsung Inter Milan vs Parma di stadion Giuseppe Meazza, Milan.

 

 

***

Di dalam kamar salah satu apartemen mahasiswa internasional, Wuhan, Oktober 2016.

Si anak tenggelam dalam lamunannya sambil menatap langit-langit kamar apartemennya. Dia merenungkan kembali apa yang telah dialaminya selama beberapa hari terakhir. Banyak orang-orang terdekatnya terkejut dan menyayangkan keputusannya (dengan berbagai pandangan) ketika mengetahui bahwa si anak memilih melanjutkan pendidikan doktoralnya di negeri tirai bambu melalui beasiswa kerja sama pemerintah Tiongkok dengan salah satu badan yang bekerja di wilayah Asia Tenggara. Semakin membingungkan lagi bahwa di bulan Agustus anak ini sebenarnya memperoleh beasiswa dari salah satu kementerian di Indonesia untuk melanjutkan pendidikannya di Manchester. Sejujurnya, si anak pun masih ragu dengan pilihannya sendiri untuk menempuh pendidikan doktoralnya di Tiongkok. “Apakah saya tidak akan menyesali pilihan ini?” gumamnya. Wajar saja, karena dia tidak pernah belajar (dan tidak pernah tertarik mempelajari) bahasa Mandarin ataupun budaya Tiongkok yang menurutnya sangat berbeda dengan latar belakang profesionalnya (guru bahasa Inggris) maupun pengalamannya (di Amerika Serikat dan di Inggris). Di tengah kegamangannya, tanpa sadar si anak membuka komputer jinjingnya dan melihat kembali kumpulan foto-foto yang dia hasilkan selama tinggal dan menuntut ilmu di Amerika Serikat dan Inggris. Semakin dia melihat foto-foto tersebut, semakin dia sadari bahwa dia sudah berada di tingkatan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Dia bukan lagi anak kecil yang lugu yang tinggal di rumah kontrakan kecil, melainkan seorang (mantan) guru bahasa Inggris yang saat ini sedang menjadi kandidat doktor dari salah satu universitas terbaik di Tiongkok. Sesekali dia tersenyum melihat bagaimana impian-impian masa kecilnya terwujud satu persatu dan menjadi bonus dari perjalanannya menempuh pendidikan: melihat patung Liberty dan menonton pertandingan bola basket NBA ketika dia berada di Amerika Serikat, menyaksikan pertandingan bulutangkis All-England dan berkesempatan menghadiri klinik musik yang mengundang gitaris favoritnya sebagai bintang tamu di Inggris, serta menonton pertandingan sepakbola langsung dari stadion kesebelasan favoritnya di Italia ketika dia menghabiskan liburannya di sana.

Sembari menatap layar komputer jinjingnya, kembali si anak melakukan aktivitas kegemarannya, melamun. Namun kali ini lamunannya berbeda, lamunan kali ini terasa sangat dalam…

“Saya sudah melangkah sejauh ini, memperoleh begitu banyak pengalaman, ilmu pengetahuan dan gelar akademik. Amerika Serikat sudah kujejaki, Inggris sudah kutinggali, semua tantangan sudah saya hadapi. Ya, memang benar tantangan kali ini berbeda dan jauh lebih berat dari tantangan sebelumnya. Kebudayaan yang berbeda jauh dari sebelumnya, harus belajar bahasa baru yang jauh lebih sulit dari bahasa Inggris sambil belajar dan mempersiapkan diri untuk melakukan penelitian dan menulis artikel-artikel akademik dan berkontribusi dalam seminar maupun konferensi. Namun, bukankah ini seharusnya membuatku bangga? Aku akan memiliki pengalaman yang sangat beragam, ilmu pengetahuan dan sudut pandangku akan jadi jauh lebih luas dibanding jika aku kembali ke Amerika Serikat atau Inggris? Bukankah menguasai salah satu bahasa tersulit di dunia ini akan semakin meningkatkan nilai jualku secara profesional nantinya? Mengapa harus berkecil hati dengan kegagalanku kembali ke Inggris atau Amerika Serikat? Bukankah sekarang diriku berada di salah satu negara yang saat ini sedang berkembang begitu pesatnya?”

Si anak mengakhiri lamunanya. Dia tidak lagi terlihat gamang. “Keputusan sudah kuambil. Sekarang bukan lagi saatnya gamang. Saatnya bersyukur atas kesempatan ini dan belajar sebaik-baiknya dan memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman sebanyak-banyaknya dan membuka pola pikir dan sudut pandang seluas-luasnya,” ujarnya penuh yakin. “Saya mungkin gagal kembali ke Amerika Serikat atau Inggris, tapi saya bukan pecundang. Saya baru layak disebut pecundang jika saya meratapi ‘kegagalan’ saya dan tidak memanfaatkan kesempatan yang begitu berharga yang ada di depan ini sebaik-baiknya dan tidak menghasilkan apa-apa,” tambahnya.

Terlihat olehnya bahwa sudah waktunya mengulangi pelajaran bahasa Mandarin yang diapatkannya pagi itu. Ditepikannya komputer jinjing itu dan sambil sesekali menyeruput teh hangat yang baru saja diseduh, dikeluarkannya buku dari tas tua (dan sedikit robek) kesayangan yang telah menemaninya menginjakkan kaki ke berbagai kota di Amerika Serikat maupun di Inggris dan Eropa. Selang beberapa saat kemudian terdengar anak ini mengucapkan beberapa kalimat pendek dalam Bahasa Mandarin…

“你好!你好吗?我叫李孝谦[1]。我是印尼人。 。。“

(“Halo! apa kabar? Nama saya William. Saya orang Indonesia…”)

Profil Penulis

William Sandy lahir di kota Pontianak pada tanggal 12 April 1987. Penulis memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd.) program studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Tanjungpura di kota Pontianak, Indonesia. Sebelum memperoleh gelar MA bidang Education di The University of Manchester di Inggris, penulis berkesempatan mengikuti program Foreign Language Teaching Assistant (FLTA) di SAIS Johns Hopkins University di kota Washington DC, Amerika Serikat. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan doktoral di Huazhong University of Science and Technology (HUST) di kota Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok dengan konsentrasi studi Higher Education.

[1] Di Tiongkok, hampir setiap mahasiswa internasional diberikan “nama China” yang diberikan oleh International Student Office.

You May Also Like

One thought on ““Pak, Itu Patung Apa?”

Leave a Reply

%d bloggers like this: