Pelatihan Jurnalistik I PPI Dunia Berhasil Mengudara dengan Sukses

Liputan PPI Dunia – “Jurnalistik tidak hanya berbentuk tulisan, tapi bisa secara gambar seperti grafik,” adalah salah satu isi materi acara Pelatihan Jurnalistik I PPI Dunia 2016/2017 yang dipaparkan oleh Dewi Anggrayni, S3 Media dan Komunikasi, Universiti Kebangsaan Malaysia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh tim biro pers PPI Dunia dan PPI TV ini berlangsung pada Sabtu, 24 September 2016 yang lalu, dimulai dari pukul 20.00 WIB melalui live streaming Youtube

Pelatihan yang juga dimoderatori oleh Juniar Laraswanda Umagapi dari Permira (Rusia) ini telah berlangsung dengan sukses. Hal ini tampak dari tingginya antusiasme dan partisipasi pelajar Indonesia yang tersebar di seluruh kawasan dunia. Terlebih, pada sesi tanya jawab melalui live chat, para peserta terlibat diskusi yang sangat menarik.

“Tugas jurnalis tidak hanya harus terampil dalam menampilkan informasi melalui tulisan, tetapi juga melalui gambar. Tidak hanya itu, selain memahami komunikasi, jurnalis juga harus memiliki kepekaan dinamika kehidupan yang tinggi sehingga informasi dan berita yang digali menjadi unik dan bermanfaat,” terang Dewi.

Ada beberapa jenis struktur penulisan berita. Salah satu yang paling sering digunakan adalah penulisan berita dengan bentuk piramida terbalik. “Istilah piramida terbalik dalam sebuah berita berarti menempatkan hal yang paling penting baru kemudian hal yang kurang penting, atau dari  umum ke khusus. Sedangkan untuk unsur 5W+1H sendiri terdapat pada lingkaran penting atau umum,” papar Dewi.

Jurnalistik-ilustrasi (sumber: ajr.org)
Jurnalistik-ilustrasi (sumber: ajr.org)

Berita diawali dengan paparan masalah (lead), kemudian tubuh berita diisi dengan fakta dan data, dan akhir berita diisi dengan keterangan tambahan atau dampak dari peristiwa. Informasi penting dititikberatkan pada paragraf awal. Seperti misalnya pada berita kecelakaan, fakta mengenai jenis, tempat, waktu, dan jumlah korban kecelakaan terletak pada paragraf awal. Kronologi cerita baru disampaikan pada tubuh berita. Baik lead maupun tubuh berita seluruhnya harus mengandung unsur 5W+1H.

Dewi kembali menegaskan bahwa tulisan berita yang baik terdapat pada awal berita. “Yang paling penting dalam berita adalah lead-nya. Berita juga harus memenuhi kriteria 5W+1H,” tegas Dewi.

Dewi menjelaskan terdapat tiga jenis model berita yang selama ini umum terdapat di berbagai media, yaitu hard news, soft news, dan feature. Hard News adalah berita lugas tentang kejadian atau peristiwa yang bersifat ‘penting’, langsung, tanpa ada opini penulis, dengan unsur 5W+1H yang menjadi inti berita,” jelas Dewi.

“Soft News adalah kemasan berita bermodelkan cerita ringan, sifatnya ‘menarik’, mengutamakan dampak akan kejadian, dan unsur 5W+1H tidak harus menjadi inti berita. Misalkan pada berita tabrakan. Biar lebih menarik dapat ditulis apa dampak dari kecelakaan tersebut, sehingga dibuatlah Soft News. Soft News bisa juga dikatakan sebagai lanjutan dari Hard news,” lanjut wanita yang juga pernah menjabat sebagai Koordinator Biro Pers PPI Dunia periode 2014/2015 dan 2015/2016.

“Di sisi lain, Feature merupakan berita yang menitikberatkan pada sisi kemanusiaan (human interest) terhadap suatu peristiwa atau kejadian yang bersifat ‘mendalam’,” tambah Dewi dengan santai.

Salah satu pertanyaan yang disampaikan Ridwan (Perpika, Korea) adalah tentang bagaimana kiat membuat berita yang akurat dan tidak memberi kesan membohongi pembaca.

“ Bagaimana jika ada berita yang judulnya tidak sesuai dengan isi berita, apakah ini tidak terkesan seperti ‘menipu’ pembaca?” Tanya Ridwan via messenger kepada host saat pelatihan berlangsung.

Menjawab pertanyaan Ridwan, Narasumber pelatihan menjelaskan bahwa, sebaiknya judul berita harus disesuaikan dengan isi berita dan tidak memberi kesan “menipu” pembaca. Akan tetapi, sebenarnya pemuatan judul dapat menjadi “strategi” bagi media untuk menarik pembaca.

“Yang paling penting adalah saat kita membuat berita, berita adalah akurat dan mematuihi kaedah jurnalistik sehingga memberikan manfaat bagi pembaca,” terang Dewi yang juga sekaligus mengakhiri sesi pelatihan Jurnalistik. (Red ADB/CA, Ed RD)

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: