Pemanfaatan nuklir dalam bidang non-energi di Indonesia

Setelah laporan survei bagian pertama yang fokus kepada nuklir bidang energi dipublikasikan pada tanggal 06 Februari 2017, Tim Kajian Nuklir PPI Dunia kembali memaparkan survei bagian kedua, yaitu mengenai pandangan dan wawasan pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri terhadap pemanfaatan teknologi nuklir di bidang non-energi. Survei tersebut dilakukan oleh 566 perwakilan pelajar Indonesia yang tersebar di 48 Negara sejak 10 Oktober 2016 hingga 13 November 2016.

Yang menarik, 88% responden tidak mengetahui bahwa beras  Si Dedikasi Nuklir atau lebih dikenal sebagai beras sidenuk, merupakan hasil pemanfaatan teknologi nuklir yang sudah dirasakan oleh masyarakat luas di Indonesia. Disisi lain juga, 58% resonden tidak mengetahui bahwa merokok memiliki efek radiasi yang cukup membahayakan. Dan 55% responden juga belum mengetahui bahwa berpergian menggunakan pesawat terbang juga berisiko terpapar radiasi. Dua hal tersebut menegaskan bahwa radiasi tidak selalu berhubungan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), senjata nuklir atau limbah nuklir saja. Tetapi tanpa kita sadari, ternyata radiasi ada disekitar kita. Paparan radiasi selama tidak melebihi ambang batas, maka radiasi tersebut aman untuk manusia.

Selain pemanfaatan teknologi nuklir sebagai sumber energi (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), responden juga menunjukkan dukungan terhadap pemanfaatan teknologi nuklir di bidang non-energi, misalnya untuk keperluan medis,industri dan pertanian.

Oleh : Dwi Rahayu (PERMIRA Rusia) dan Bryan Bramaskara (PPI Singapura)

Tim Kajian Nuklir-PPI Dunia

(AASN)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: