PEMANFAATAN TEKNOLOGI NUKLIR UNTUK PENGEMBANGAN PUPUK HAYATI

Sebuah teknologi yang bernama nuklir, sering dikenal orang sangat menakutkan karena mempunyai sejarah yang cukup kelam dalam perang dunia. Namun, sekarang ini teknologi nuklir tumbuh dewasa dengan menebarkan manfaat untuk kemaslahatan umat. Hal ini dibuktikan dengan beberapa temuan dan penelitian dalam berbagai bidang. Tidak hanya dalam bidang energi, teknologi nuklir juga dimanfaatkan dalam bidang non energi yang salah satunya ialah bidang pertanian. Salah satu pemanfaatan nuklir dalam bidang pertanian ialah digunakannya teknologi nuklir untuk membuat biofertilizer yang merupakan hasil kolaborasi dari Food Agriculture Organization (FAO) dengan International Atomic Energy Agency (IAEA). Kolaborasi ini menghasilkan teknologi nuklir untuk bidang pertanian, salah satunya ialah nuclear biofertilizer atau pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir.

Kegunaan teknologi nuklir dalam pupuk hayati lebih mengarah pada cara mensterilisasi mikroba dalam bahan pembawa. Bahan pembawa sangat penting dalam memproduksi pupuk hayati karena mengandung mikroba bawaan dalam jumlah yang sangat banyak hingga 106 sel/gram bahan pembawa bahkan lebih (Enjelia, 2011). Sterilisasi dilakukan untuk mengurangi atau membunuh jumlah mikroba bawaan (indigenus). Karena itu lah sterilisasi mutlak harus dilakukan agar dapat menyortir bahan pembawa yang diinginkan. Mensterilisasi dengan iradiasi gamma dirasa lebih baik, lebih irit dan praktis dari pada dengan menggunakan autoklaf yang selama ini digunakan. Dengan menggunakan iradiasi gamma, prosesnya membuat hampir tidak ada perubahan sifat fisik dan kimia pada materialnya. Sedangkan sterilisasi menggunakan autoklaf, beberapa material dapat mengubah sifatnya sehingga berefek samping akan dapat menghasilkan zat beracun bagi strain bakteri (FNCA, 2005).

Penelitian tentang nuclear biofertilizer secara konsisten diteliti oleh banyak negara yang tergabung dalam Forum for Nuclear Cooperation Asia atau FNCA, yaitu Jepang, Australia, Bangladesh, China, Indonesia, Kazakhstan, Korea, Malaysia, Mongolia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Pada tahun 2014, FNCA menginformasikan fakta-fakta positif atas penggunaan nuclear biofertilizer. Di China, pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir berpengaruh pada peningkatan hasil panen. Pupuk hayati berpengaruh meningkatkan bobot segar dan bobot kering jagung hingga 91,8% dan 211,8% dibandingkan dengan kontrol. Di Mongolia, pengaruh pupuk hayati dari teknologi nuklir dengan memanfaatkan Aspergillus niger berpengaruh pada peningkatan hasil biji bunga matahari sebesar 59,8% bila dibandingkan dengan tanaman kontrol. Di provinsi Shandong, penggunaan pupuk hayati pada budidaya tomat dapat meningkatkan hasil hingga 35% dari tanaman control (FNCA, 2016).

Di Indonesia, penelitian tentang hal ini dikembangkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional atau yang biasa disebut BATAN. BATAN telah meriset dan memperoleh mikroba yang membuat tanah lebih mampu menangkap nitrogen dan membuatnya menjadi subur. Mikroba itu bernama Azospirillum disterilisasi dengan radiasi sinar gamma dari Cobalt 60 yang kemudian akan menjadi suatu produk pupuk hayati dari nuklir. Hasil proyek ini dimulai sejak tahun 2001 dan sudah menghasilkan isolat unggul pupuk hayati. Pengaplikasian sudah digunakan pada berbagai komoditas pertanian seperti jagung, salada, bukis, brokoli, sawi, cabe dan keberhasilannya meningkatkan komoditas pertanian (Kompas, 2009).

Pemberian inokulan berbasis kompos teriradiasi dengan bioaktif berupa kombinasi isolat Azotobacter sp. (KDB2), Bacillus sp. (KLB5+BM5+KBN1) dan Trichoderma sp. (KLF6), dapat meningkatkan serapan hara N dan P. Penggunaan ini sebagai biofertilizer yang mampu meningkatkan tinggi tanaman sekitar 23,64%, bobot kering berangkasan tanaman 63,62%, bobot hingga 29,41%, dan produksi tongkol segar jagung manis hingga 29,35% (Mulyana dan Dadang, 2012).

Maka dari itu, peran teknologi nuklir dalam pupuk hayati ini perlu dikembangkan secara konsisten. Selain cukup efektif, metode ini juga dapat mendukung pertanian berkelanjutan, dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik yang merugikan lingkungan, serta dapat meningkatkan hasil produksi pertanian. Jika kombinasi riset antara bidang pertanian dengan bidang nuklir ini terus digalakkan, besar harapan kedepan akan muncul penemuan-penemuan yang lebih dari sekarang.

Hambatan yang terjadi selama ini tidak hanya dalam hal terbatasnya teknologi di Indonesia, namun juga dari segi sosial akan penerimaan nuklir di kalangan masyarakat Indonesia serta pengedukasian dikalangan petani terkait nuclear biofertilizer. Faktanya petani sampai saat ini masih menggunakan metode lama yang dianggap menguntungkan pada masa kini dan tidak untuk masa depan. Padahal cara-cara lama seperti menggunakan pupuk anorganik dapat berakibat buruk di masa yang akan datang. Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus dapat mengeraskan tanah, mengurangi kesuburan tanah, memperkuat pestisida, mencemari udara dan air, melepaskan gas rumah kaca sehingga dapat membahayakan kesehatan lingkungan dan manusia (Zaman et al., 2017).

Di sinilah peran pemanfaatan teknologi nuklir untuk pengembangan pupuk hayati menjadi penting. Adanya pupuk hayati dari hasil teknologi nuklir ini akan dapat memacu hasil produksi pertanian dan juga mampu mengurangi hal-hal buruk dari sector pertanian yang dapat terjadi di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka

Enjelia. 2011. Penggunaan Sterilisasi Iradiasi Sinar Gamma Co-60 dan Mesin Berkas Elektron pada Viabilitas Inokulan dalam Bahan Pembawa (Kompos dan Gambut). Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Available at http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/46875/A11enj.pdf;jsessionid=E65EEBEC8E7DCC93645679147ECD1A70?sequence=1

FNCA. 2005. FNCA Biofertilizer Newsletter 6. Available at http://www.fnca.mext.go.jp/english/bf/news_img/nl06.pdf

FNCA. 2016. FNCA Biofertilizer Newsletter 14. Available at http://www.fnca.mext.go.jp/english/bf/news_img/nl14.pdf

Kompas. 2009. Pupuk Radiasi Nuklir Tingkatkan Produktivitas Pertanian. Available at http://sains.kompas.com/read/2009/02/23/1744399/pupuk.radiasi.nuklir.tingkatkan.produktivitas.pertanian

Mulyana, N dan Dadang Sudrajat. 2012. Formulasi Inokulan Konsorsia Mikroba Rhizosfer Berbasis Kompos Teriridiasi. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi. BATAN. Available at http://digilib.batan.go.id/ppin/katalog/file/BP_12.pdf

Zaman, S. Prosenjit. P dan Abhijit Mitra. 2017. Chemical Fertlizer. Available at https://www.researchgate.net/profile/Abhijit_Mitra3/publication/265968789_CHEMICAL_FERTILIZER_By/links/54227bb60cf238c6ea67a7b4/CHEMICAL-FERTILIZER-By.pdf

 

Oleh : MUHAMAD SYAIFUDIN

Diperiksa oleh : Erwin Fajar, M. Mahfuzh, Dwi Rahayu

Tim Kajian Nuklir PPI Dunia – Divisi Non Energi

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: