Pengalaman di Luar Negeri

Merantau, kata itu bukan kata yang asing bagi hidupku. Perantauanku bermula semenjak aku dilahirkan. Aku gadis Bugis yang dilahirkan di negeri jiran. Malaysia, negara di mana aku dilahirkan dan juga menetap. Namun, kebangsaan Indonesia masih saya genggam erat. Ya, begitu banyak masyarakat Indonesia yang merantau ke Malaysia dan akhirnya banyak dari mereka yang menetap bahkan sampai sekarang. Mereka beranggapan di Malaysia inilah mereka bisa menafkahi keluarganya, tidak seperti di Indonesia. Apalagi saat ini di Malaysia sudah ada sekolah Indonesia. Kala itu zamannya Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), beliau membangun beberapa sekolah di Malaysia khusus untuk warga Indonesia. Kala itu bertepatan pula ketika saya memasuki jenjang SMP. Ketika SD saya sekolah di Sulawesi dan tinggal bersama nenek saya. Saat lulus SD, ibu saya menjemput saya untuk kembali ke Malaysia dan sekolah di sana.

Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), di situlah saya menimba ilmu ketika SMP. Ya saya kembali lagi ke tempat di mana saya dilahirkan. Waktu itu saya bermasalah dengan bahasa. Bahasa Malaysia memang hampir sama dengan Indonesia tapi, banyak kata yang berbeda arti. Saya ingat waktu itu saya sedang makan di restaurant dan saya memesan air putih, maksud saya itu air mineral tapi, saya malah diberi air susu. Dan begitu banyak kosa kata yang membuat saya bingung. Karena kebingungan saya itulah, banyak yang bertanya ke saya, “adik dari indong ya?” Saya menjawab “saya dari Indonesia bukan Indong (sambil tersenyum),” karena saya tidak suka negaraku dipanggil Indong, saya hanya meluruskan kalimat yang meleset arti.

Sebenarnya kalau boleh dibilang penduduk di Sabah itu hampir 80% adalah pendatang dari Indonesia , dan mayoritas datang dari Makassar atau suku Bugis, jadi kesimpulannya saya merasa berada di negeri sendiri. Karena bahasa yang digunakan di sana mirip dengan bahasa Indonesia. Lain lagi dengan tempat perantauanku sekarang. Negeri tirai bambu, tempat di mana panda berkumpul. Negeri yang benar-benar berbeda dari kehidupanku sebelumnya. Bahasa, cuaca, lingkungan, semua berbeda.

Pertama saya datang ke China, saya hanya mengerti beberapa bahasa China. Untungnya ada pengurus kami yang bernama bang Sofyan, dia memberi tahu apa saja yang diperlukan atau disiapkan untuk kuliah di China. Yang terpenting ialah bahasa. Saya hanya membekali sedikit bahasa Mandarin. Namun, itu sangat berguna bagi saya. Karena di sini, hanya sedikit orang yang memahami bahasa Inggris. Mau tidak mau karena saya sudah merantau ke negeri ini, ya saya harus bisa. Apalagi tulisan China yang punya karakter tersendiri, berbicara saja juga harus benar nadanya.

Lalu makanan, provinsi Jiangsu sangat unik akan masakannya, akan tetapi halal tidaknya sangat kami ragukan, apalagi saya sebagai umat Islam harus benar-benar menjaga dari yang diharamkan. Begitu banyak daging babi yang di jual di sini. Tapi, alhamdulillah di tempat saya merantau ini ada beberapa restaurant halal. Dan juga, di asrama saya disediakan dapur, sehingga saya bisa masak, hitung-hitung sebagai pengiritan juga.

Oh iya, di Yongzhou, tempat saya menimba ilmu ini, memiliki satu masjid dan itupun letaknya di kota. Di sini tidak ada tempat shalat seperti di Indonesia, hanya satu masjid itu saja. Sehingga ketika saya mau bepergian, saya men-jama shalat. Karena menurut saya, agamalah yang paling utama. Di manapun berada, jangan pernah tinggalkan agama, itu prinsip saya.

Saya adalah angkatan ke II pelajar Indonesia di  Yongzhou Politechnic Institute, jadi jika membutuhkan sesuatu bisa minta tolong ke kakak angkatan I, karena mereka sudah menguasai bahasa Mandarin, mereka sudah belajar Mandarin setahun di Yangzhou Politehnic Institute (YPI). Dan mereka sudah menguasai HSK 4. Ya, jadi di YPI ini kami belajar bahasa dulu satu tahun. Tahun kedua baru penjurusan. Di sini juga sudah ada organisasi untuk pelajar Indonesia, namanya Indonesia Society of YPI ini organisasi pertama di kampus saya, dan saya masuk sebagai anggota divisi kesehatan. Di sini siswa Indonesia boleh mengikuti lomba-lomba juga, seperti saat ini, saya sedang mengikuti lomba tari kreasi se-Tiongkok.

Ya, merantau ke luar negeri memang ada suka dukanya, tapi inilah hidup. Cari pengalaman sebanyak mungkin, cari relasi sebanyak mungkin, dan buktikan ke penjuru dunia, Indonesia punya generasi-generasi hebat.

Penulis: Herlina, mahasiswa Yangzhou Polytechnic Institute

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: