Pengalaman Stenly di Turki

Hey, my name is Stenly, Do you know Jet Lee? Do u know Bruce Lee. Yup I am Stenly. Saya pelajar dan pengajar, pagi saya diajar, malam saya gantian yang mengajar. Sekarang saya sedang proses akhir yang hampir tiap mahasiswa master tahu, thesis. Sedang tekun mendalami efek sosial media terhadap kepecayaan diri pengguna dalam berkomunikasi maupun berpublik relasi. Kenapa saya kok fokus dengan judul itu? Ya karena jurusan saya PR (Public Relation) dan promosi di Ege university-nya Turki yang katanya kayak UGM (Universitas Gadjah Mada) sama UI (Universitan Indonesia)-nya Indonesia. Jadinya saya harus fokus thesis dengan judul berbau komunikasi dan kehumasan.

Pagi saya diajar PR oke, terus saya ngajar apa dan siapa malamnya? saya mengajar masyarakat Turki untuk belajar komunikasi dengan bahasa Inggris dengan baik dan benar. biar kayak orang Indonesia, ngomong Inggrisnya cas cis cus. Kadang ya Perancis, kadang ya Spanyol, atau komunikasi umum.

Loh kak kok milih Turki? Gak takut bom? Jangan salah, saya juga punya bom, bom cinta untuk alam semesta hahahhaha. Ngene lho Rek! Semua takdir sudah digariskan, kalau emang kita ditakdirkan dipanggil cepat, bisa saja abis baca tulisan saya ini, kita dipanggil ke sisi-Nya? Jadı bom bukan masalah utama yang dıjadıkan bahan ketakutan, namun kurang produktıf ıtu yang buat saya jadı bahan ketakutan. Toh dı mana saja kıta berproduktıf, tetap dı tanah Tuhan kan?

S2 ini adalah program berat untuk memilih karena sebenarnya saya mendapat 3 beasiswa tahun 2014, Turki, Westminster dan Bournemouth. If you were me, you would grab the last two choices right, UK. sure, I did the same! But saya sholat, doa, dan merenung akhirnya memilih negeri Turki, Majapahitnya asia tengah. Turki buat saya adalah jembatan 3 benua, asia, eropa dan afrika. semakin banyak benua yang akan dijelajah, makin banyak pula kesempatan, ilmu, pengalaman, bahasa yang akan dikuasai. Dan alhamdulillah, saya dapat apa yang saya rencanakan.

Selama Saya menempuh S2 sudah melakukan apa saja? Yang pasti sesuai janji saya, belajar giat dan praktik ilmu yang ada tanpa organisasi karena cukup s1 organisasi.

Gak cukup ta branch director Indonesia gawe Asia Pasific youth organisation? Belajar giat Nak dan banggakan nama keluarga, angkat nama keluarga dan kami percaya Eric Stenly pasti bisa.” Itulah yang akhirnya membuat saya menolak halus tawaran yang datang ke saya, mulai dari ketua PPI kota maupun negara sampai pengawas pendidikan tingkat Asia Timur Tenggara serta koordinator internasional untuk couchsurfing dunia. Saya saat ini hanya ingin cuma satu, lulus dengan selempang pengalaman untuk diadaptasikan dengan kondisi negara kita, Indonesia.

Sekarang saya sedang apa? Saya sedang nesis, mengajar online maupun offline dengan relasi Europa dan Asia, melakukan penelitian dengan professor dan dekan dari kampus saya. Sebenarnya saya juga kurang percaya ketika ditawari professor plus dekan untuk berprojek bersama, karena saya baru belajar Turki, orang non Turki dan masih dibilang mahasiswa baru. Namun Tuhan berkata lain, semoga amanah ini bisa berjalan dengan sesuai rencana dan barokah, amin.

Saya juga kalau ditanya, apa sih rahasia kamu sten kok bisa sukses? So far saya cuma berdoa, berusaha, berusaha dan berusaha. Itu saja. Dengan doa dan usaha, mulai SMP hingga saat ini saya kuliah dengan beasiswa. Nol rupiah saja. Dengan doa dan usaha, saya dipercaya mewakili kampus untuk pertukaran Erasmus ke Spanyol semester lalu plus dapat 4 tawaran kerja di sana.

Dan berkat doa dan usaha, saya bisa mengajar hingga murid yang biasanya kita ajar komplain ketidaknyaman malah meminta saya menjadi dosen tetapnya ketika saya mengganti dosen mereka. Semua berkat doa dan usaha. Jika Allah dan saya percaya kekuatan doa dan usaha, kenapa dulur Cak dan Ning semuanya tidak percaya?

Penulis: Erik Stenly (mahasiswa Ege University, Turki)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: