Pentingnya Memupuk Semangat Nasionalise Pelajar Indonesia di Luar Negara

Liputan Hongkong, Simposium PPI Asia Oseania yang dilaksanakan di Hongkong 9-10 April lalu memberikan banyak reaksi positif dari berbagai pihak, Soegeng Rahardjo Duta besar Indonesia Tiongkok dan Mongolia menyampaikan penghargaan kepada PPI Asia Oseania, utamanya PPI Tiongkok yang menyelenggarakan diskusi seputar Gagasan Poros Maritim.

“Dengan adanya pelaksanaan symposium ini, saya yakin dapat mendorong para mahasiswa di kawasan Asia Oseania untuk lebih sigap dan siap dalam memberikan kontribusi pemikiran bagi pembangunan Indonesia. Selain itu, dengan diskusi ini pula, saya berharap akan tercetus pemikiran-pemikiran yang segar, idealis, orisinil, dan implementatif dari para mahasiwa guna mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.” Ujar Soegeng.

Kepada para mahasiswa yang hadir, Bapak Rodhial Huda selaku Tokoh Masyarakat Natuna Pimpinan Yayasan Bakti di Ujung Samudera berpesan untuk mengimplementasikan kepemimpinan jiwa bahari yang didapat dari budaya laut.

“Ketaatan pada pemimpin atau bisa kita sebut presiden, meskipun tidak senang. Keimanan pada Tuhan juga menjadi salah satu sifat kepemimpinan bahari. Diharuskan untuk memahami tujuan kapal atau Negara, agar bisa menyiapkan dengan baik sebelumnya. Dalam melaksanakan tugas, nahkoda, atau pemimpin juga harus menatap jauh kedepan, menunjukkan bahwa sang nahkoda adalah seorang yang futuristic, visioner dan selalu belajar dari kesalahan yang lalu,” nasihat beliau.

12985495_1750761135156082_73855551024207973_n - Copy

Rodhial Huda yang sengaja diundang panitia untuk menyampaikan fakta yang terjadi di daerah perbatasan Indonesia ini mengharapkan, agar pemerintah merancang sebuah system pemerintahan bahari yang mantap di daerah perbatasan, guna memastikan Indonesia tetap berdiri di perbatasan.

“Sangat penting mendirikan pemerintah di perbatasan guna memupuk semangat nasionalisme, seorang pemimpin harus mengutamakan masyarakat dan anak buahnya baru menyelamatkan dirinya. Itulah budaya dari kepemimpinan jiwa bahari yang harus menjadi sifat pemimpin bangsa,” ungkapnya membakar ratusan semangat nasionalisme pelajar Indonesia yang hadir dalam simposium tersebut.

Tidak ketinggalan pula, Rodhial Huda mengiaskan tanggung jawab dan kerjasama antara masyarakat laut, pemerintah dan angkatan laut dengan perumpamaan medis.

“Kapal dagang dan nelayan bagaikan butir-butir darah merah, Pemerintah sebagai Plasma Darah dan Angkatan Laut seperti Darah Putih. Ketiganya mesti bekerja secara seimbang sesuai tugas masing-masing untuk menyelesaikan kendala perekonomian maritime,” tegasnya.

Prof. Jamaludin Jompa salah satu panel menjelaskan untuk membangun maritime Indonesia diperlukan dasar yang kuat khususnya sains edukasi. Diperlukan membangun visi misi kelautan yang jauh kedepan sehingga motivasi untuk membangun maritime bisa lebih kuat lagi.

IMG_0040 - Copy

“Semua elemen harus bersatu untuk membangun maritime Indonesia dapat mendunia. Keterlibatan pemuda sangatlah diperlukan untuk mewujudkan cita-cita ini,” ungkap Prof. Jamaludin yang juga merupakan dekan Fakultas Kelautan Universitas Hasanudin, Makassar.

Pemenang perlombaan makalah yang diadakan PPIT Regional Selatan dan KJRI Guangzhou, Agam Akhmad Syaukani berusaha mengupas makna dari visi besar Jalasleva Jayamahe yang berarti “Di laut kita jaya”. Adanya kerjasama antara kedua Negara, Indonesia dan Tiongkok bisa menjadi salah satu jembatan untuk meraih visi tersebut.

“Terlepas dari kekurangan yang ada pada Tiongkok, Indonesia patut menjadikan negara itu sebagai panutan dalam rangka industrialisasi nasional utamanya di bidang kemaritiman. Alasan yang mendasari Tiongkok sebagai role model pembangunan industri nasional adalah adanya beberapa kesamaan Negara kita dengan Tiongkok,” ungkapnya dalam tulisan Ilmiah yang disampaikannya.

Simposium Asia Oseania yang baru pertamakali di selenggarakan dalam catatan sejarah PPI Dunia ini menuai sebuah makna penting dalam pergerakan organisasi pelajar Indonesia di kawasan ini. Tidak saja mengeratkan hubungan persaudaraan yang ada di lingkungan intelektual pelajar Indonesia yang sedang kuliah di luar negara, tetapi juga menyisakan sebuah pesan pemikiran yang menunjukkan kepedulian pelajar terhadap nasib  bangsa kedepannya, khususnya terkait pembangunan maritim Indonesia menjadi lebih baik kedepannya. (Red. Maryam Hakim & Dewi Anggrayni)

You May Also Like

%d bloggers like this: