Pentingnya Merancang Teknologi Perangkat Militer Masa depan

Estonia, Teknologi advanced manufacture forming merupakan teknologi perangkat kemiliteran yang mulai berkembang semenjak zaman revolusi industri sampai era-milenium. Berkembangnya teknologi memberikan peluang untuk meningkatnya kwalitas perangkat kemiliteran.

Agus Pramono Pelajar asal Indonesia di Tallinn Institute of Technology Estonia saat ini sedang fokus melakukan kajian pengembangan teknologi kemiliteran ini. Candidate PhD mechanical enginering ini berpendapat, pengembangan teknologi perangkat kemiliteran mulai berevolusi ketika ditemukanya teknologi tekanan tinggi oleh ilmuwan Russia Vladimir Segal pada tahun 1980-an yang dikenal dengan Equal Channel Angular Extrusion (ECAE).

Pada tahun 1990-an Ilmuwan Russia lainnya, Ruslan Z. Valiev menyempurnakan dan menerapkannya pada industri dengan nama Equal Channel Angular Pressing (ECAP) hingga menjadi produk perangkat militer dari senjata maupun peralatan kendaraan tempur.

Teknologi ini merupakan revolusi teknologi yang telah menyempurnakan teknologi konvensional seperti proses tempa, rolling, ekstrusi maupun drawing. Sedangkan teknologi lain Self-propagating High-temperature synthesis (SHS) yang dikembangkan oleh Alexander Merzhanov untuk melengkapi teknologi pada aplikasi yang mengarah ke aplikasi senjata dan mesiu.

Military Application
Military Application

Selain untuk Aplikasi perangkat kemiliteran di Eropa perusahaan seperti Metallicum telah mengkhususkan diri dalam logam berstruktur nano. Saat ini teridentifikasi lebih dari 100 pasar khusus untuk nano-metals dalam bidang aerospace, transportasi, peralatan medis, pengolahan produk olahraga, makanan dan bahan kimia serta bahan bahan piranti elektronik.

Menurut Agus, pada penghujung akhir tahun 1999 ilmuwan Jepang Nobuhiro Tsuji mengembangkan teknologi advanced manufacture forming serupa yaitu metode Accumulative Roll Bonding (ARB), Teknologi ini lebih efektif dan efisien karena tidak membutuhkan perangkat dan cetakan yang mahal.

“Aplikasi dari teknologi ARB lebih mengarah pada spare part body tank, pesawat tempur maupun kendaraan lapis baja berkekuatan tinggi, pada eksperimen terakhirnya,” jelas Agus yang juga merupakan ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di negara tempat Ia belajar.

Dalam temuannya Tsuji telah menggunakan bahan aluminium dan baja, hanya saja teknologi ini masih memiliki keterbatasan. Untuk menghasilkan kekuatan tinggi maka proses harus dilakukan berulang bahkan sampai puluhan kali.

Penemuan teknologi perangkat kemiliteran oleh Tsuji masih menggunakan bahan logam aluminium dan sejenisnya. Cara kerjanya dengan pengulangan roll mencapai 10 kali sedangkan untuk bahan baja industri pengulangan mencapai 16 kali.

Pada tahun 2015 Agus melalui research-nya dengan metode Repetitive Press-Roll Forming (RPRF). Cara kerja metode RPRF tidak memerlukan pengulangan hingga berulang kali.

Agus yang juga merupakan Staf Pengajar di Fakultas Teknik Metalurgi Universitas Tirtayasa Banten ini sudah banyak melakukan eksperimen tentang pengembangan teknologi mulai dari ECAE, ECAP, SHS maupun ARB.

Application of SPD
Application of SPD

“Ide RPRF diawali dari keterbatasan proses pada eksperimen ECAP, ARB dan SHS. Untuk menghasilkan kekuatan tinggi diperlukan penekanan maupun laluan siklus ekstrusi ataupun rolling berkali-kali, dengan menggunakan multiple aksial-pressing, perangkat mesin RPRF mampu mensintesa bahan logam dan komposit,” jelas pria yang hobi bermain musik ini.

Hasil dari Rancangan alat RPRF ini telah dipresentasikan di beberapa kegiatan Persatuan Pelajar Indonesia di Eropa dan Russia, diantaranya; di Helsinki pada 24 Januari 2015 dalam Forum Berbagi Ilmu yang ditayangkan secara on-line oleh PPI Finlandia, Simposium PPI Kawasan Amerika dan Eropa di Moscow, Rusia.

Menurut Agus, Indonesia perlu menetapkan secara jelas standarisasi, spesifikasi, dan perangkat kemiliteran sesuai dengan sektor pertahanan (darat, laut dan udara). Selain itu, kecakapan personil TNI berupa keahlian dalam perangkat kemiliteran perlu dimaksimalkan lagi.

Gus Pram sapaan ketua PPI Estonia ini tidak asing bagi rekan-rekan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (PERMIRA) karena disela sela kesibukannya sebagai mahasiswa doktoral dan sebagai ketua PPI di Estonia, Gus Pram cukup aktif mengisi kegiatan-kegiatan PERMIRA.

Nordic-Baltic Simposium
Nordic-Baltic Simposium

Materi terkait teknologi hasil inovasi teknologi RPRF juga pernah disampaikan pada Konferensi Persatuan Pelajar Indonesia Nordik Baltik di Stockholm yang diselenggarakan oleh PPI Swedia pada 5 Desember 2015 lalu.

Dalam pemaparannya Gus Pram berharap agar Indonesia juga menerapkan metode RPRF untuk perangkat kemiliteran di semua sektor fabrikasi pembuatan perangkat kemiliteran.

Menurutnya hasil rekomendasi yang pernah dituangkan dalam kesepakatan pelajar-pelajar Amerika-Eropa yang berupa manivesto moskow, dalam penelusuran literaturnya teknologi Advenced Manufacture Forming akan diterapkan oleh Russia dan Negara-negara anggota NATO pada perangkat ALUTSISTA yang mulai diproduksi pada tahun 2020.

“Saya berharap Indonesia bisa menjadi negara pertama yang akan menerapkan teknologi advanced manufacture forming ini,” tutup Agus. (Red.AP, Editor Dewi)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

%d bloggers like this: