Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri: Apakah hanya sebagai organisasi sosial (dan pesta dansa) ?

Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri atau lebih dikenal dengan nama Perhimpunan Indonesia (PI) pertama kali didirikan di Belanda. PI inilah cikal bakal dari PPI. Awal didirikannya PI hanya sekedar untuk menyelenggarakan pesta dansa dan berbagai aktivitas sosial lain bagi diaspora Indonesia. Pelan namun pasti, Tjipto Mangoenkoesumo dan Soewardi Soerjaningrat mulai bisa menanamkan kesadaran akan pentingnya nasionalisme ke dalam organisasi. Haluan PI benar-benar berubah di awal tahun 1920-an terjadi tren gelombang kedatangan pelajar tanah air yang menuntut ilmu di Belanda. Beberapa diantaranya adalah Iwa Koesoemasoemantri, Achmad Soebardjo, Mohammad Hatta, dan Ali Sastroamidjojo. Kelak, mereka semua mempunyai peran penting bagi republik yang baru terbentuk. Mahasiswa-mahasiswa berusia 19-22 tahun yang sebagian besar mengandalkan kiriman uang dari keluarganya itu, mengambil sikap berani. Selain merumuskan prinsip-prinsip dasar organisasi yang terang-terangan menuntut kemerdekaan, buletin PPI “Indonesia Merdeka” diubah menjadi corong pemikiran golongan terpelajar dalam menentang kolonialisme.

“Indonesia Merdeka” merupakan kumpulan gagasan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di luar negeri, yang bertujuan mengedukasi rakyat Indonesia. Di masa itu, metode semacam ini adalah cara perjuangan yang baru di tanah air. Selama ini, perjuangan yang dikenal adalah dengan pengerahan massa, dimana pergerakan terlalu bergantung pada figur pemimpin kharismatik, seperti Imam Bonjol, Hasanuddin, atau Diponegoro. Cara lama tersebut terbukti kurang berhasil.

Alih-alih mengandalkan satu orang Diponegoro, PI percaya bahwa akan lebih baik jika menyiapkan anggota-anggotanya untuk menjadi banyak Diponegoro dengan kualitas intelektual dan kepemimpinan yang setara. Tidak hanya di dalam negeri, PI juga berusaha membuka mata internasional tentang kejamnya kolonialisme di Hindia Belanda. Usaha tersebut dilakukan lewat pengiriman delegasi ke konferensi-konferensi yang diselenggarakan oleh Liga Melawan Imperialisme di berbagai negara di Eropa saat itu.

Berbagai macam upaya PI membuahkan hasil. Buktinya, Pemerintah Kolonial mulai waspada. Tulisan Hatta dan para aktivis PI rupanya dianggap lebih tajam dari pedang Diponegoro. Kalau Diponegoro gugur, perang akan usai. Tetapi, gagasan Hatta bakal tetap menjadi bahan perjuangan walaupun penulisnya sudah tiada. Tahun 1927, Hatta yang saat itu menjabat sebagai ketua, dan beberapa koleganya petinggi PI, dijebloskan ke Penjara Rotterdam. Di persidangan, Hatta membacakan pembelaannya yang berjudul “Indonesie Vrij”. Kelak pemikiran Hatta ini menjadi semacam bahan bacaan wajib bagi para aktivis di masa persiapan kemerdekaan.

Kembali ke organisasi sosial

Hampir satu abad kemudian, PI telah berubah nama menjadi PPI dan beranak-pinak di lebih dari 20 negara. Ditambah dengan organisasi serupa di kota-kota, jumlahnya mencapai ratusan. Masifnya perkembangan PPI disebabkan oleh tren yang sama dengan di jaman Hatta dulu, yaitu gelombang kedatangan pelajar Indonesia ke luar negeri. Tidak hanya mahasiswa pascasarjana yang menggunakan beasiswa, mahasiswa sarjana yang studi di luar negeri dengan dana pribadi pun jumlahnya cukup signifikan.

Setelah melewati berbagai proses, PPI telah berevolusi. Gagasan progresif menjadi barang langka di PPI belakangan ini. Sebaliknya, PPI telah bergeser perannya dan berputar kembali ke masa awal berdirinya dulu, yaitu sebagai organisasi sosial (dan pesta dansa).

PPI yang sekarang bisa dibilang adalah kepanjangan tangan dari KBRI/Konjen untuk melayani diaspora Indonesia. Berbagai informasi dan bantuan untuk pelajar Indonesia disediakan dengan baik. Begitu pula berbagai macam aktivitas untuk membuat pelajar betah di perantauan diselenggarakan, misalnya olahraga dan silaturahmi. Selain itu, beberapa PPI cukup giat untuk memperkenalkan budaya Indonesia bagi warga internasional.

Sudah barang tentu PPI harus mendapatkan apresiasi atas berbagai usaha yang telah mereka lakukan selama ini, karena acara-acara tersebut turut menjadi promosi tentang Indonesia bagi mata dunia. Namun, keengganan PPI untuk secara progresif memberikan gagasan untuk Indonesia seperti para pendahulunya patut disayangkan. Padahal, secara sumber daya PPI jelas mampu. Banyak mahasiswa pascasarjana berasal dari kalangan akademisi dan birokrat pemerintah, mestinya pemahaman mereka terhadap kondisi Indonesia cukup mendalam. Sedangkan mahasiswa jenjang sarjana, secara intelektualitas jelas mereka adalah orang-orang yang terpilih.

Sebetulnya segala macam bentuk aktivitas yang dipilih oleh PPI ataupun setiap individu diaspora Indonesia adalah hak masing-masing. Dulu pun di jaman Hatta, ada anggota PPI yang terang-terangan tidak ingin terlibat aktif, dengan berbagai alasan; fokus studi, beda prinsip, dan terlebih adalah keselamatan. Orang-orang semacam ini, walaupun mendapatkan stigma negatif, tetap sah untuk menjalankan pilihannya. Tetapi seperti yang Hatta bilang, jika bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara, itu lebih bermanfaat.

Kita merindukan gagasan-gagasan yang  seperti dituangkan dalam majalah “Indonesia Merdeka” seperti di zaman bung Hatta. Gagasan-gagasan yang dikaji dengan serius dan mendalam untuk mengedukasi rakyat Indonesia. Penjajahan dan kolonialisme memang sudah tiada di tanah air. Namun seperti yang kita tahu, masih banyak sekali permasalahan yang terjadi di Indonesia, mulai dari hukum, ekonomi, teknologi, maupun manajemen pendidikan tinggi. Salah satu bentuk moral adalah perhatian PPI terhadap permasalahan-permasalahan nasional tersebut. Perhatian itu disampaikan dalam bentuk kritik dan gagasan bagi pemerintah dan pihak-pihak yang bisa menentukan haluan kebijakan tanah air. Tentu saja kritik-kritik tersebut bukanlah dimaksudkan untuk mengumbar kebencian atau argumen tanpa dasar. Justru itu adalah wujud dari kecintaan seorang yang melek ilmu akan kemajuan bangsanya.

Memang, saat ini banyak PPI telah menyelenggarakan diskusi-diskusi ilmiah. Meskipun bagus, misinya belum terlalu jelas dalam kaitannya dengan politik moral. Selain itu, materi yang disampaikan dalam diskusi tersebut biasanya adalah seputar topik penelitian dari mahasiswa, sehingga tidak terlalu membumi untuk bisa dicerna oleh semua khalayak di tanah air. Terlebih lagi, media penyampaiannya masih berupa diskusi atau seminar. Padahal, cara penyampaian yang paling bisa bertahan lama adalah dalam bentuk opini/gagasan yang dituangkan dalam media tulisan yang bisa dipelajari, disanggah, atau didiskusikan.

Usaha semacam ini mungkin sekarang memang tidak populer. Tetapi untuk membawa bangsa Indonesia menuju gerbang kemakmuran, kaum terpelajar memang tidak cukup hanya dengan berpangku tangan.

Ditulis Oleh Rully Tri Cahyono

Disadur oleh Hatta Bagus Himawan

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: