Perjalanan Menggapai Mimpi

Setiap manusia ditakdirkan memiliki jalan hidup berbeda-beda, yang ditentukan juga oleh cita-cita dan usahanya sendiri. Begitu pula dengan saya. Setapak demi setapak fase hidup ini saya beri nama Perjalanan Mimpi, dan Perjalanan Mimpi saya dimulai sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar.

Cita-cita saya sejak Sekolah Dasar hingga kini tak pernah berubah: menjadi diplomat Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tak kurang gila, saya pun dari dulu selalu berujar, “Ingin sekolah di Prancis”, yang tak ayal lebih sering membuat orang lain tertawa geli dibanding berdecak kagum.  “Memangnya bisa? Gimana caranya?”, pertanyaan dan pernyataan keraguan dari merekalah yang sedari dulu membuat saya merasa tertantang: saya tak hanya harus membuktikan pada diri sendiri, namun juga pada dunia, bahwa segalanya mungkin terjadi.

Prancis selalu memikat hati saya. Meski waktu kecil saya tak tahu ada hal apa disana selain Menara Eiffel yang menjulang di Kota Paris, meski saya dulu tak pernah tahu bagaimana cara untuk pergi menuntut ilmu disana, meski saya dulu tak dapat mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Prancis sama sekali, tapi kata-kata “Ingin sekolah di Prancis” tak pernah terhapus dalam ruang di hati kecil saya. Rupa-rupanya alam semesta sangat menyukai anak kecil yang bermimpi dengan lugu. Mungkin semesta tertawa, mungkin semesta terpana, mungkin semesta tak menyangka. Meski pada akhirnya semesta meluluskan keinginan masa kecil saya, Perjalanan Mimpi ini tak pernah semudah yang dikira orang kebanyakan.

Saya tak dilahirkan dari keluarga berada, saya tak pernah bisa sesuka hati memiliki apa saja yang saya inginkan. Entah boneka ketika saya masih kanak-kanak, hingga gawai terkini yang canggih saat saya beranjak remaja. Orangtua saya yang mengajarkan saya arti kerja keras dan kerja cerdas. Mereka yang membuat saya mengerti bahwa tak ada mimpi yang tak bisa dicapai apalagi jika mimpi itu kelak dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, alam semesta pasti akan selalu membukakan jalan. Dan falsafah itu yang saya genggam erat hingga kini, justru jadi warisan paling berharga dari orangtua saya, meski mereka tak bisa menjanjikan gelimang harta seperti orangtua kawan saya yang lainnya.

Saya selalu percaya bahwa kekuatan doa restu orangtua adalah hal yang penting, namun mereka tak akan pernah segampang itu mengucap restu jika tak ada pembuktian kuat dari janji yang kita umbar, selalu seperti itu. Dan kebanyakan anak akan cepat menyerah jika sudah merasa tak ada jalan untuk mendapat restu orangtua, lalu akhirnya dengan rela tak rela harus membenamkan mimpinya dalam-dalam. Tapi tidak dengan saya. Saya memilih jalan yang lebih menantang: terus maju memperjuangkan mimpi meski restu orangtua belum diberikan seratus persen. Awalnya memang terdengar seperti anak yang durhaka, tapi mereka pada akhirnya melihat bahwa saya punya kemauan yang kuat dan saya bekerja keras untuk membuktikan bahwa saya layak dipercaya untuk mendapat doa restu.

Selepas bangku Sekolah Menengah Pertama, saya mendirikan bisnis online yang akhirnya mampu membuat saya mandiri secara finansial sejak usia 16 tahun. Termasuk juga membayar biaya sekolah, biaya konsumtif sehari-hari, hingga akhirnya setelah lulus Sekolah Menengah Atas, saya mampu membayar uang kursus Bahasa Prancis yang nominalnya tak sedikit. Namun saya harus mencukupkannya sendiri tentu karena waktu itu saya belum memperoleh restu orangtua, sehingga tak ayal saya harus melakukan semuanya sendiri: mengurus administrasi, pendaftaran kuliah, mengirim dokumen-dokumen, membayar kursus dan membeli buku penunjang… Saya berusaha keras untuk tak mengeluh di depan orang-orang, di depan teman-teman, di depan orangtua, meski kadang saya merasa sangat lelah di malam hari, dan hanya ingin menangis saja di atas pembaringan, karena saya harus mengurus semuanya sendirian sekaligus berhati-hati menjaga perasaan kedua orangtua saya yang sempat merasa marah karena keinginan kami saling berbenturan. Semua usaha ini akhirnya terbayar lunas setelah orangtua saya memberi restu dan merelakan keinginan mereka agar saya kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri favorit di kota saya, semata-mata karena semangat saya untuk mewujudkan “Ingin sekolah di Prancis” tak lagi mampu dibendung.

Setelah restu orangtua saya dapatkan, semua beban rasanya terangkat dan pintu-pintu rejeki mulai terbuka lebar satu per satu. Meski dalam berbagai kesempatan, kedua orangtua saya selalu berujar, “Kami tak ada banyak biaya untuk membayar mimpi besarmu, tapi kami akan selalu memastikan kerja tim dalam keluarga ini akan mampu membawa langkahmu kemanapun yang kamu mau”. Kata-kata itu tak pernah berhasil mengendurkan semangat saya, malah justru membuat saya makin berapi-api, “Perjalanan Mimpi ini harus berproses dan berujung dengan sama bahagianya”.

Memang tak mudah, tak ada target muluk-muluk yang saya pasang, semua hanya ingin saya jalani dengan mengalir namun maksimal. Selalu saja ada yang meragukan, sempat membuat kerja tim dalam keluarga kami goyah, ada yang membuat semangat saya timpang, namun saya ingat betul waktu SD pernah mencetak sebuah gambar Menara Eiffel pada selembar kecil kertas HVS lalu saya simpan di sisipan mika transparan dalam dompet, dengan demikian saya seakan diingatkan bahwa saya harus selalu kuat karena sedang memperjuangkan sesuatu.

Tak ada kata yang mampu menggambarkan betapa magisnya perasaan yang menyeruak dalam dada ketika pada suatu hari di musim panas tahun 2016 itu, Menara Eiffel yang sekian lama hanya saya pandang-pandangi gambarnya, akhirnya terlihat jelas wujudnya. Haru, bahagia, bangga, semua menumpuk jadi satu. Eiffel yang cantik sore itu seperti menyorot kembali memori saya tentang Perjalanan Mimpi ini. Disana ada tekad kuat yang pernah saya perjuangkan, ada tangis kelelahan yang terdengar dari balik selimut di malam hari setelah saya memastikan semua orang terlelap, ada peluh bercucuran ketika saya berlarian kesana kemari mengurus berkas-berkas (saya tak bisa mengendarai kendaraan pribadi), ada semangat dari sahabat-sahabat saya yang selalu setia, ada pancaran wajah bahagia kedua orangtua saya, dan yang paling menohok adalah ada banyak kebaikan yang saya terima selama Perjalanan Mimpi ini. Disini ada dua lagi pelajaran penting yang saya ambil. Yang pertama, proses yang berliku jika dinikmati akan membuat tujuan akhir terasa lebih indah. Ketika berproses, entah saat senang maupun sedih, saya jadi merasa lebih dapat mengenali diri saya sendiri dan dunia di sekitar saya. Saya mendengar langsung cerita dari berbagai lapisan masyarakat karena selama melakukan Perjalanan Mimpi, saya dibawa pada petualangan-petualangan baru yang mempertemukan saya dengan orang-orang baru juga. Yang kedua, tujuan akhir akan terasa sangat berharga ketika kita dulu berusaha meraihnya dengan kerja keras dari nol. Saya belajar untuk tak meremehkan kekuatan mimpi, entah saat sedang dalam proses atau saat sudah tercapai.

Selepas sebuah mimpi besar masa kecil saya terwujud, saya kembali mengatur diri karena ada banyak tanggung jawab yang kini harus dibuktikan. Saya harus dapat bertahan hidup sendirian dengan anggaran secukupnya, beradaptasi dengan materi pelajaran yang tak dapat dibilang mudah, beradaptasi dengan dosen dan teman-teman yang beragam jenis sifatnya, beradaptasi dengan sistem di Prancis yang sangat asing, menyeimbangkan waktu antara belajar dan bekerja, belajar mengurus diri sendiri dan tempat tinggal… Karena saya tahu, saya berangkat ke Prancis tak hanya sebagai pembuktian, tapi juga menjadi perwujudan dari doa dan harapan dari banyak orang, terutama yang tak sabar menagih janji saya untuk segera berhasil agar dapat pulang, mengabdi pada tanah air tercinta.

Ketauilah, tak ada mimpi yang bisa ditebus dengan mudah. Ada harga yang harus dibayar dengan doa, semangat yang berpijar membara, dan kemauan untuk terus berusaha sesulit apapun tantangannya. Sejauh cita-cita itu kelak menjadi manfaat bagi dunia, harus percaya bahwa jalan akan selalu ada.

Terima kasih semesta, saya boleh bermimpi besar untuk Indonesia…

 

 

Scholastica Asyana Eka Putri Prasetio

S1 Ilmu Hukum Universitas Lille 2 Prancis

Leave a Reply

%d bloggers like this: