PPI Dunia Kawasan Amerika Eropa Gelar Simposium di Rijswijk, Belanda

Liputan Belanda, Simposium PPI Dunia Kawasan Amerika dan Eropa kembali digelar di Rijswijk, Belanda dari tanggal  24 April 2016 sampai dengan Selasa 26 April 2016. Simposium kali ini mengusung tema “Memaknai Kembali Identitas Bangsa dalam Rangka Menghadapi Komunitas Asean.” Pada Simposium ini juga telah dihasilkan Rekomendasi Rijswijk yang terdiri dari 7 point penting untuk Indonesia.

Acara ini dihadiri oleh para delegasi yang terdiri dari 27 orang representatif dari beberapa PPI di kawasan Amerika Eropa, yaitu PPI Belanda, PPI Belgia, PPI Hongaria, PPI Jerman, PPI Italia, PPI Polandia, PPI Britania Raya, PPI Ceko, PPI Turki, PPI Portugal, PPI Prancis, PPI Rusia, PPI Estonia dan PPI Swedia mengikuti serangkaian acara yang dirancang oleh PPI Belanda, sebagai tuan rumah pada tahun ini.

Untuk meresapi kembali identitas bangsa, pada hari pertama para delegasi menyusuri kembali sejarah perjuangan Indonesia dalam acara Napak Tilas di Kota Leiden. Di kota Leiden, beberapa pahlawan Indonesia menetap dan berkarya untuk bangsa, serta mengenyam pendidikan di Universitas Leiden, yaitu Ahmad Soebardjo dengan pendidikan master dan Hussein Djayadiningrat yang berhasil meraih gelar doctor dengan predikat cumlaude.

Menurut panitia Simposium PPI Amerika Eropa 2016, kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya khazanah sejarah dan menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri peserta. Kota Leiden juga merupakan kota di mana Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) pertama pada tahun 1922 dibentuk.

Acara pada hari pertama kemudian dilanjutkan dengan pembukaan Simposium oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, yaitu H.E. I Gusti Agung Wesaka Puja. Dalam pidato nya beliau menyerukan semangat untuk bahu-membahu membuat Indonesia yang baru. “Mari bahu-membahu untuk membuat Indonesia baru, seperti pada kutipan lagu ASEAN, we dare to dream, we care to share.” ujarnya seraya membangkitkan semangat mahasiswa.

S AMEROP

Pada hari kedua, acara dilanjutkan dengan seminar untuk menggali secara dalam mengenai Identitas Bangsa. Menurut Ali Abdillah selaku ketua PPI Belanda, mengatakan bahwa identitas bangsa merupakan hal yang penting dan jangan sampai identitas bangsa harus dikorbankan.

Ary Adryansyah Samsura PhD sebagai salah satu keynote speaker menjelaskan kembali mengenai identitas bangsa. “Identitas bangsa yaitu perasaan atau pandangan subjektif tentang suatu bangsa yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang terintegrasi secara kultural dan geographis.” Ucap Ary Adryansyah.

Untuk mempertahankan identitas bangsa, salah satu pembicara yaitu Ebed Litaay dari Indonesian Diaspora Network beliau mengatakan untuk tetap menjaga nilai-nilai yang ada di Indonesia, open minded dan buang jauh-jauh kebiasaan buruk.

Selain memandang dari segi identitas bangsa, seminar juga membahas tentang ASEAN, Globalisasi dan Masa depan Indonesia. Hengky Kurniawan, salah satu pembicara dalam tema ini berfokus pada Spatial Economics.

“Indonesia perlu melakukan agglomerasi, di mana perusahaan berkumpul dan cost akan berkurang.” ungkap Hengky.

Masyarakat Ekonomi Asean yang telah dimulai pada akhir tahun 2015 tersebut merupakan suatu kesempatan bagi Indonesia. Matthijs Van Den Broek selaku Managing Director Further East Consult berpendapat bahwa Indonesia memiliki kesempatan yang besar di era MEA ini.

“Kesempatan MEA bagi Indonesia yaitu adanya cross-border investment melalui perusahaan multi-nasional dan UKM, tech-savy entreuprener muda serta adanya cross border supply chain untuk perusahaan di Indonesia.” ujar Van Den Broek.

Di samping sisi globalisasi, Agung Wahyudi PhD Candidate mengemukakan bahwa untuk menghadapi ASEAN, Indonesia dapat berfokus pada pengembangan dan peningkatan infrastruktur, kesiapan terhadap teknologi serta inovasi.

Puput Cibro selaku Koordinator PPI kawasan Amerika dan Eropa menyatakan pemetaan di Indonesia sangat diperlukan untuk meningkatkan ekonomi di setiap daerah yang ada.

“Indonesia perlu melakukan pemetaan akan potensi ekonomi daerah dari setiap kota/kabupaten yang akan menjadi suatu keunggulan bersaing dari daerah tersebut.” ucap Puput.

Simposium PPI Dunia kawasan Amerika dan Eropa ini diakhiri oleh kegiatan diskusi dari para delegasi yang dibagi ke dalam empat komisi yaitu Politik & Hukum, Ekonomi, Sosial Budaya dan Teknologi. Hasil dari diskusi tersebut yaitu berupa Rekomendasi Rijswijk yang diresmikan pada tanggal 26 April 2016 pukul 16:49 ECT. Berikut point-point yang tertera dalam rekomendasi tersebut:

POLITIK DAN HUKUM

  1.       Mendorong peran Indonesia sebagai mediator dalam konflik Laut Tiongkok Selatan.

EKONOMI

  1.       Melakukan ‘integrated geographical socio-economic information system’ untuk mengidentifikasi potensi ekonomi kabupaten/kota dan regional.
  2.       Menguatkan kapasitas ekonomi domestik baik lokal, regional, maupun skala nasional dalam menghadapi pasar bebas ASEAN melalui ekosistem bisnis inklusif dengan prioritas di sektor pertanian dan pariwisata.

SOSIAL BUDAYA

  1.       Melakukan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya sertifikasi keahlian profesi yang diadakan pemerintah pada lingkup terkecil dan terfokus secara berkala (min. Satu kali dalam tiga bulan) dan berkelanjutan.

TEKNOLOGI

  1.       Memastikan seluruh rumah tangga Indonesia mendapat akses listrik sebelum Juli 2019.
  2.       Merevisi PP No. 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dengan memasukkan klausa nuklir sebagai salah satu opsi pembangkit listrik.
  3.       Merealisasikan pembangunan reaktor PLTN sebagai wujud optimalisasi bauran energi baru dan terbarukan di Indonesia. (Red. NL)

You May Also Like

%d bloggers like this: