PPI Tunisia Peringati Hari Santri Nasional dengan Diskusi Ilmiah

TUNISIA, 22 Oktober 2017 – Hari Santri Nasional merupakan momentum penting untuk mengingat kesetiaan serta komitmen santri dan ulama dalam membela dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia juga  dimonitori oleh ulama dan santri dari berbagai daerah di Indonesia. Maka, sudah seharusnya para santri dan kita semua terutama sebagai mahasiswa untuk selalu menjaga dan mengisi negara dengan memberikan kesetiaan  dan kontribusi yang terbaik bagi kelangsungan dan kemajuan bangsa ini.

Oleh karena itu, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia mengadakan diskusi ilmiah di Sekretariat PPI Tunisia. Acara yang dimulai pukul 14.00 CET itu mengundang antusias para mahasiswa untuk hadir. Diskusi kali ini mengusung tema “Integrasi Disiplin-Disiplin Ilmu dalam Pandangan Ibnu Khaldun, Teori Pengetahuan” yang dibawakan langsung oleh Dr. Ramadhan Barhoumy, salah satu Dosen Universitas Ezzitouna.

Dalam kesempatan tersebut, beliau mengaku sangat senang sekali dapat berjumpa dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Zaitunah. Ini adalah kali kedua beliau menjadi pemateri dalam diskusi PPI Tunisia. Dalam dialog Ibnu Khaldun itu, Dr. Barhoumy menjelaskan terlebih dahulu tentang biografi singkat sang tokoh. Semasa hidup, Ibnu Khaldun banyak melakukan rihlah atau perjalanan ke berbagai belahan di dunia Islam. Dr. Barhoumy mengatakan bahwa setidaknya terdapat 2 faktor penting yang menyebabkan sang penulis kitab “Muqoddimah” itu menjalani hidupnya dengan cara berpindah-pindah tempat.

Yang pertama adalah faktor internal, yaitu kehausan akan ilmu dan pengalaman. Yang kedua adalah faktor eksternal, yaitu kondisi politik dan respon ulama di sekitarnya terhadap Ibnu Khaldun. Dosen dalam bidang ilmu kalam dan aqidah itu juga mengingatkan “Anak Zaituni patut mengetahui tentang karangan dan pemikiran Ibnu Khaldun, terutama pelajar Asia, karena negara kalian adalah salah satu pusat penyebaran islam di Asia,“ tuturnya. Kitab Ibnu Khaldun menjelaskan banyak hal, tetapi “Muqaddimah” mengutamakan sejarah. Terdapat dua asas yang ditekankan dalam perkembangan pemikirannya yaitu, urgensi Qonun Ilmu Al ’Imroni Albasayari dan urgensi konektifitas segala sesuatu dengan sejarah. Menurut pengarang buku itu, terdapat 3 ibarat terkait tahapan generasi yang dilakukan oleh manusia, pertama Jiil Atta’bi (generasi sulit), kedua Jiil Adzahabi (generasi keemasan), ketiga Jiil Alhatobi (generasi kayu bakar yang mengibaratkan kemunduran). Baginya, ilmu-ilmu itu saling melengkapi dan saling membutuhkan.

Setelah Dr. Barhoumy menyampaikan paparannya, moderator memberikan kesempatan bagi peserta untuk bertanya. D iantara pertanyaan yang cukup menarik adalah kaitannya dengan kemasyhuran Ibnu Khaldun sebagai Bapak Sosiologi ini. Beliau menyampaikan bahwa ilmu yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun adalah ilmu Al Umran Al Basyari yang memang dalam pembahasannya memiliki banyak kesamaan dengan sosiologi modern. Adapun pengaruh Magnum Opus dalam perkembangan ilmu sosiologi bukanlah hal yang aneh dalam keilmuan, meskipun memang porsi yang diambil oleh para sosiolog modern dari buku itu lebih banyak dibandingkan dengan karya klasik lainnya.**

 

Penulis: Saura Chairunnisa

Editor: Kartika Restu Susilo

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: