PPI Tunisia; Rayakan Tahun Baru dengan Diskusi Kebangsaan “Merawat Kebhinekaan”

PPIDUNIA.ORG, Tunisia – Jika penutupan agenda ahir tahun yang biasanya diisi dengan pesta-pesta meriah maka PPI Tunisia mengisinya dengan agenda Diskusi Kebangsaan. Jumat (30/12) PPI Tunisia bekerja sama dengan KBRI Tunisia berhasil mengadakan Diskusi Kebangsaan sebagai refleksi ahir tahun dengan tema “ Merawat Kebhinekaan” di Emerald Hall, Golden Tulip Hotel Tunis.

Tema ini dipilih lantaran melihat aksi-aksi intoleransi yang mencederai keberagaman kita sebagai Bangsa. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Labib El Muna selaku ketua panitia diskusi kebangsaan dalam pesan whatsapp-nya kepada Biropers PPI Dunia, “ Acara ini adalah inisiatif dari rekan-rekan senior PPI (Tunisia) untuk mengup-grade acara pergantian Tahun Baru yang rutin diadakan pihak KBRI menjadi lebih berkesan dan berbekas. Pemilihan tema pun tidak tergesa-gesa namun melihat beberapa aspek di Negeri kita dan realitas di tempat kita belajar bahwa kita datang dari beragam daerah dan suku, juga beragam latar belakang sosial dan ekonomi maka kami merasa Refleksi Akhir Tahun dengan tema Merawat Ke-Bhinekaan menjadi tema yang pas kali ini.”

whatsapp-image-2016-12-31-at-13-15-27
Meja Paling Depan; dari kiri Ketua PPI Tunisa (M. Ariandi), Dubes LBBP RI Tunisia (Bapak Ronny Prasetya Yuliantoro), HOC KBRI Tunisia (Bapak George Junior).

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serempak diskusi kebangsaan pun dimulai. Ada tiga panelis yang akan memberikan pengantar diskusi senja itu. Sebagai keynote speaker Bapak Ronny Prasetya Yuliantoro selaku Dubes LBBP RI untuk Tunisia, lalu Dede A. Permana dosen tetap IAIN Banten yang juga mahasiswa doktoral Universitas Ezzitouna dan terahir Budi Juliandi dosen tetap IAIN Langsa.

Panelis pertama, Pak Ronny -sapaan akrabnya- berbicara masalah kebhinekaan secara umum. Dimulai dari  ajakan beliau untuk menghidupkan ruh kebhinekaan yang sudah mengakar dalam ruh, jiwa kita hingga mengingatkan betapa pentingnya sebuah kebhinekaan dalam ranah kebangsaan ini. “ Kebhinekaan itu sudah mengakar dalam rasa dan kehidupan Bangsa Indonesia sejak nenek moyang kita dulu melalui Empu Tantular misalnya. Maka jangan cari perbedaan kita sebagi bangsa cari lah kesamaan kita. Masak kita hidup tidak ada persamannya. Jangan terus diperuncing perbedaan itu. Mari bersatu, jangan sampai kita bersatu ketika mati saja (menghadap kiblat;baca)”, pesan Pak Ronny tegas.

Diskusi semakin hangat meski suhu di luar muali menurun. Tak terasa aula hotel itu semakin sesak dipenuhi peserata. Dimulai dari mahasiswa hingga masyarakat Indonesia di Tunisia secara umum.

Adapun panelis kedua, Dede A. Permana lebih mengutamakan pesan untuk saling menjaga kerukunan antarumat beragama setelah Kang Dede -sapaan akrabnya- membuka peta konflik antarumat beragama yang cukup tinggi akhir-akhir ini. Kita sebagai bangsa harus saling bahu-membahu menjaga kerukunan ini. Seperti dalam pesan Kang Dede yang disampaikan senja itu, “ Kerukunan umat beragama merupakan kebutuhan bersama. Karena itu, pemeliharaan kerukunan umat beragama menjadi tanggungjawab semua pihak, terutama pemerintah, pemuka agama dan tokoh masyarakat”.

Selanjutnya panelis terakhir, Budi Juliandi yang tengah mengadakan riset desertasinya tentang “Hukum Keluarga di Tunisia” ini lebih mengingatkan kepada peserta betapa Islam Indonesia yang oleh Martin Van Bruinessen, peneliti asal Belanda, diidentikkan dengan the smiling face of Indonesian Islam kini telah berubah menjadi “wajah menyeramkan” lantaran hadirnya para muslim konservatif yang kini tengah mendominasi peta pergerakan di negeri kita ini dengan menunggangi kepentingan-kepentingan politik sesaat.

Pak Budi mencoba memaparkannya dengan mengambil pelajaran dari peristiwa pembuangan seorang aktivis muda, Tahir el Hadad oleh beberapa Masyayikh dan Kyai Jami’ Ezzitouna. “ Peristiwa sejarah di Tunisia paling tidak dapat menggambarkan kepada Bangsa Indonesia, betapa sebenarnya politik itu sangat mungkin sekali menunggangi konservatisme Muslim Indonesia. Membersihkan politik untuk tidak menunggangi konservatisme Islam bukanlah persoalan mudah. Namun, jika itu dapat dilakukan, tak tertutup kemungkinan kerinduan kita dan mereka para penstudi Islam Indonesia untuk dapat melihat kembali wajah Islam Indonesia yang sejatinya dari dulu memang penuh dengan senyum dan keramahan “the smiling face” dapat terwujud. Semoga. Wallahu a’lam bi al-shawab. Selamat Tahun Baru 2017. Fi kulli ‘am wa antum bi-khair”, papar Dosen Muda asal Medan.

Acara dilanjutkan dengan diskusi kebangsaan. Berbagai elemen masyarakat Indonesia di Tunisia, dimulai dari mahasiswa hingga para staff KBRI Tunisia dan masyrakat Indonesia secara umum ikut memberikan kontribusi ide dan komentarnya atas tema kebhinekaan ini.

Sugianto Amir, sebagai moderator diskusi kebangsaan senja itu juga turut menggelitik rasa penasaran para peserta hingga tak terasa dialog mengalir begitu saja. Apalagi diskusi yang cukup menguras otak dan pikiran ini dikemas oleh panitia cukup menarik dengan diselingi dengan musikalisasi puisi, lagu-lagu kebangsaan dan hingga stand up commedy yang membuat para peserta menjadi lebih rileks dan menikmati suasanya. Hal ini dilakukan agar acara bisa berjalan sehangat mungkin namun juga tak meninggalkan esensi dari diskusi itu sendiri yang penuh ketegangan dan perbedaan pendapat. Bahkan di luar dugaan peserta diskusi, Dubes LBBP RI untuk Tunisia, Bapak Ronny P. Yuliantoro juga ikut menyumbang sebuah lagu di depan peserta diskusi. Seperti yang dikatakan oleh ketua panitia yang saat ini sedang menempuh studi masternya; Labib el Muna. “Acara kami buat lebih meriah dengan pentas kesenian dari beragam elemen masyarakat Indonesia di Tunisia. Dan dalam diskusi dan penampilan ikut berpartisipasi mulai dari staff KBRI sampai ke mahasiswa. Hal ini (agar) menguatkan tali persaudaraan sebagai keluarga di tanah rantau. Selain (pemilihan) tema juga yang (umum) agar semua orang bisa ikut serta”.

whatsapp-image-2016-12-31-at-13-17-57
Keluarga Besar Masyarakat Indonesia di Tunisia

Acara yang berjalan selama kurang lebih lima jam itu lancar dan meriah. Bahkan Pensosbud KBRI Tunisia, Ibu Merita Yenni memberikan apresias yang luar biasa kepada tim panitia. “ Acaranya bagus, sukses, seminarnya mantap, yang hadir banyak dan semuanya aktif. Lalu hiburannya juga mantap dan yang lebih-lebih, makanannya juga enak”, tanggap Ibu Merrita yang juga menampilkan puisi “Perempuan-perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya.

Acara berakhir tepat pukul 20.00 CET yang ditutup dengan ramah tamah dengan menu khas Nusantara hasil karya teman-teman PPI Tunisia. [AJU]

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: