PPI Wellington Selenggarakan Pergelaran Budaya Bertajuk Indonesia Night

Liputan Selandia Baru, Pergelaran Budaya bertajuk Indonesia Night diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Wellington (PPI Wellington), Rabu malam (21/9), di Universitas Victoria Wellington, Selandia Baru. Berbagai pertunjukan budaya dari Indonesia memanjakan ratusan warga Wellington yang hadir di Memorial Theater milik salah satu universitas tertua di Selandia Baru tersebut. 

Acara dimulai tepat pada pukul 18.00 itu diawali dengan nyanyian lagu Indonesia Raya. Wanton Saragih selaku Kepala Fungsi Pendidikan KBRI Wellington kemudian membuka acara ini dengan pemukulan gong.

Pertunjukan budaya kemudian silih berganti menghibur ratusan masyarakat Wellington yang hadir. Tari Genjring menjadi pertunjukan paling awal pada “Malam Indonesia” tersebut. Tari tersebut berhasil menarik perhatian hadirin dengan paduan gerakan-gerakan dari tari tradisional dan modern.

Pencak Silat menjadi pertunjukan selanjutnya yang ditampilkan oleh tiga pelajar Indonesia. Yang membuat pertunjukan ini berkesan adalah bukan hanya demo silat yang ditampilkan, tapi juga tutorial tentang bagaimana silat berguna untuk melindungi diri.

Di antara silat ini, Indonesia Night menampilkan dua sesi fashion show yang berbeda. Sesi pertama menunjukkan pakaian adat Indonesia dari bagian barat hingga timur. Sementara sesi kedua setelah silat adalah untuk baju batik dari berbagai daerah di Indonesia.

Pertunjukan diakhiri dengan permainan angklung oleh lebih dari 20 pelajar. Pertunjukan angklung ini diletakkan pada bagian akhir karena ini merupakan pertunjukkan paling unik. Biasanya, angklung dimainkan oleh masyarakat Indonesia saja. Namun dalam pertunjukan ini, dari semua pemain angklung, hampir setengahnya adalah pelajar internasional. Mereka adalah pelajar lokal Selandia Baru dan dari negara lainnya seperti Singapura, Tiongkok, Rusia dan Malaysia.

Lagu yang dibawakan juga tidak biasa. Dari tiga lagu yang ditampilkan, dua lagu pembuka merupakan lagu asli Selandia Baru. Dua lagu tersebut adalah God Defend New Zealand yang merupakan lagu kebangsaan negeri The Hobbit ini dan Pokarekare Ana yang merupakan lagu tradisional bangsa Maori. Sementara lagu Indonesia yang dibawakan adalah Yamko Rambe Yamko dari Papua.

Danang Abiyoga, Wakil Ketua PPI Wellington yang juga ketua acara mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan budaya Indonesia pertama kali di Wellington yang diinisasi oleh pelajar. Mahasiswa S1 jurusan Bisnis Internasional Universitas Victoria Wellington ini menyatakan bahwa di tengah kesibukan mengerjakan tugas kuliah, pelajar Indonesia selalu punya semangat untuk mengenalkan identitas keindonesiaannya.

“Jadi Indonesia Night ini adalah kegiatan budaya pertama di ibu kota Selandia Baru yang diinisiasi dan dikerjakan sendiri oleh pelajar Indonesia. Saya bangga dengan teman-teman pelajar di kepanitiaan yang meski deadline tugas banyak sekali, tapi selalu bersemangat kenalkan Indonesia ke masyarakat di sini,” kata Danang.

Acara usai pada pukul 19.00 waktu setempat. Hadirin kemudian diarahkan ke bazar makanan tradisional Indonesia. Dengan harga yang terjangkau, PPI Wellington menyediakan berbagai pilihan seperti nasi uduk, siomay, nasi kuning dan nasi rendang. Beberapa makanan ringan khas Indonesia juga dijual seperti risoles, martabak dan onde-onde. Karena banyaknya masyarakat yang datang, hanya dalam satu jam, lebih dari 250 porsi makanan ludes terjual.

Bazar makanan khas Indonesia, hanya dalam waktu satu jam, 250 porsi makanan habis terjual.
Bazar makanan khas Indonesia, hanya dalam waktu satu jam, 250 porsi makanan habis terjual.

Ketua PPI Wellington, Muhamad Rosyid Jazuli menyatakan bahwa balas budi ke masyarakat Wellington adalah semangat dibalik terwujudnya kegiatan ini. Para pelajar Indonesia di Wellington merasa bahwa Selandia Baru telah banyak memberikan hal-hal berharga, seperti masyarakat yang ramah, kota-kota yang bersih dan sistem pendidikan yang berkualitas.

“Karena itu, ini semangatnya adalah giving back to communities. Jadi, ikhlas membalas kebaikan Selandia Baru dengan membagi kebaikan dan nilai-nilai keindonesiaan ke masyarakat Selandia Baru khususnya di Wellington,” papar Rosyid yang saat ini sedang menempuh studi master kebijakan publik di Universitas Victoria Wellington ini.

(Red, Danang Abiyoga/Ed, F)

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: