Prestasi: Mahasiswa Indonesia Mewakili Harvard Kennedy School di World Government Summit

[Cambridge, USA, February 2017]. Belajar di Harvard University dan mewakili kampus bergengsi di ajang bertaraf dunia, World Government Summit di Dubai, menjadi pencapaian yang luar biasa bagi salah satu pelajar terbaik Indonesia, Andhyta Firselly Utami atau yang akrab disapa Afu. Mahasiswa candidate master of Public Policy ini juga berhasil menjadi juara dalam kompetisi Global Universities Challenge yang menjadi salah satu rangkaian dari acara tersebut. Pada kesempatan lalu tim PPI Dunia berhasil mengajak wawancara mahasiswa cantik berkacamata ini dengan berbagai ulasan menraik berikut hasil wawancaranya.

  1. Tolong ceritakan sedikit tentang World Government Summit 2017?

World Government Summit diadakan oleh kantor Perdana Menteri UAE. Kegiatannya selama kurang lebih 4 hari, dengan tema utama membahas tentang ‘Masa Depan Pemerintahan’ atau The Future of Government. Sepanjang acara, berbagai pemimpin kelas dunia seperti Sekretaris Jendral PBB, Presiden Bank Dunia, Sekretaris Eksekutif UNFCCC, dan beberapa Perdana Menteri seperti dari Jepang dan Bhutan hadir untuk memberikan perspektif mereka misalnya sehubungan dengan ekonomi, pendidikan, dan perubahan iklim. Saya sebagai peserta di sana untuk mendengarkan dan terlibat dalam diskusi-diskusi di dalamnya, dan yang terpenting mewakili HKS untuk mengikuti kompetisi Global Universities Challenge.

  1. Bagaimana bisa menjadi delegasi?

Saya terpilih sebagai 1 dari sekitar 20 orang mahasiswa HKS yang berangkat ke World GovernmentSummit lewat seleksi tertulis (esai), tapi untuk mengikuti kompetisi Global Universities Challenge-nya sendiri dipilih lagi 10 orang saja.

  1. Ceritakan proses kompetisinya?

HKS datang dengan ide ‘cit-coin’ atau ‘citizencoin’ yang berfungsi semacam ‘universal basicincome’, tapi didesain sedemikian rupa untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sipil. Di masa depan dengan banyak automasi, pekerjaan yang kita punya sekarang akan digantikan oleh artificial intelligence atau robot, sehingga manusia berisiko kehilangan senseofpurposedan senseofbelongingterhadap negara. Dengan menggunakan cit-coin, pemerintah bisa memberikan insentif bagi warga negara untuk tetap terlibat. Kami menjadi juara 1, juara 2-nya adalah Stanford University dan juara 3-nya adalah IESE.

Afu (Kanan) sedang menghadiri World Government Summit 2017 di Dubai, UAE
  1. Gimana bisa kuliah di Harvard?

Ada 4 elemen aplikasi: tes (GRE & TOEFL), resume, tiga esai, dan tiga surat rekomendasi, yang semuanya dinilai secara keseluruhan (tidak ada batas minimum yang ‘strict’). Secara umum, HKS mencari mahasiswa yang memiliki komitmen di pelayanan publik dan memiliki track record kepemimpinan. Kalau mau tahu lebih lanjut, bisa periksa website HKS. Selain itu, organisasi ‘Indonesia Club at Harvard’ juga memiliki channel YouTube yang membahas lebih lanjut tentang proses aplikasi ini.

  1. Kenapa Harvard Kennedy School?

Saya pilih HKS karena program yang ditawarkan sangat cocok untuk yang berpola pikir generalis, bukan spesialis. Di hari pertama orientasi, ini semakin diperjelas bahwa mahasiswa HKS diharapkan untuk memiliki wawasan yang luas dalam berbagai isu (bukan hanya satu), namun didasari oleh keterampilan yang kuat dalam kerangka analisis yang berbasis teori ekonomi dan statistik, kepemimpinan dan manajemen, serta komunikasi dan negosiasi.

Lokasinya di Cambridge, kota yang tidak terlalu ‘bising’ seperti New York atau kota besar lainnya hehehe.

  1. Beasiswa atau dana pribadi?

Sepenuhnya ditanggung beasiswa pendidikan LPDP. Kalau bayar sendiri, nggak mampu :))

  1. Apa prodi yang sekarang diambil relevan dengan S1 kamu?

Saya S1 Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Secara umum, jurusan saya sekarang memungkinkan untuk ‘menyelami isu kebijakan publik’ pada level yang lebih dalam, yaitu nasional atau lokal. HIUI juga memberikan saya kerangka berpikir yang analitis. Dari sisi ini, jurusan MPP dan Hubungan Internasional bisa ‘berhubungan’.

  1. Jadwal perkuliahan di sana sepadat apa?

Tiap semester mahasiswa dianjurkan untuk ambil 20 SKS, atau sama dengan sekitar 5 kelas (@4 SKS) sampai 10 modul (@2 SKS). Semester ini saya ambil 3 kelas dan 4 modul, dengan jadwal kelas Senin-Kamis dari jam 10 sampai 4 sore. Beberapa modul ada yang sampai malam hari. Tapi yang paling memakan waktu sebenarnya tugas reading—penting untuk mahasiswa sudah memiliki pemahaman sebelum berdiskusi di kelas—dan problem set untuk kelas yang lebih kuantitatif. Di luar kelas, saya juga terlibat di beberapa kegiatan mahasiswa seperti klub Energi & Lingkungan, Climate Justice, Indonesia Club at Harvard, dan mulai semester depan saya akan menjadi Managing Editor di The Citizen (koran mahasiswa HKS). Biasanya kegiatan ini berlangsung di antara atau setelah kelas.

  1. Bagaimana perasaan Afu sekarang menjadi mahasiswa Harvard?

Sebagai mahasiswa Harvard, biasa saja, tidak ada yang beda, tapi sebagai mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump, saya merasa sangat sadar dengan identitasku yang sebelum sekolah di sini tidak terlalu kuperhatikan. Baru-baru ini saya juga menulis tentang pengalamanku sebagai minoritas dan bagaimana di kelas identitasku menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam interaksi sehari-hari di kelas maupun di luar kelas.

  1. Ada berapa mahasiswa Indonesia yang tersebar di Harvard?

Kurang lebih ada 20-30 orang, tersebar di berbagai jurusan mulai dari Kebijakan Publik, Bisnis, Arsitektur/Desain, Teori Islam (!), Pendidikan, dsb.

  1. Pesan Afu untuk anak muda Indonesia yang ingin kuliah di Harvard?

Jangan pernah masuk Harvard hanya untuk namanya saja, karena kalau jurusannya tidak sesuai dengan apa yang teman-teman sebenarnya inginkan, nanti kuliahnya bisa tertekan dan dua tahun bukan waktu yang singkat. Kalau sudah cukup memiliki informasi tentang kecocokan visi hidup teman-teman dengan Harvard, mulai riset online secara mendalam, dan jangan tsayat untuk mengontak alumni atau teman yang memiliki pengalaman dengan sistem aplikasi universitas di Amerika Serikat untuk memberikan masukan. Goodluck!

(Red: Dinda/ Ed: Amir)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

mamirsyarifuddin

I am M Amir Syarifuddin (M Syarifuddin), hailing from Indonesia. I am a social innovator and a future finance analyst. My passion lies in finding ways to help others achieve their goals and innovate in their fields of expertise. Currently, I am living in Kuala Lumpur, Malaysia and studying in International Islamic University Malaysia majoring International Economics. Over the last few years, I have seen the amazing things a diverse and motivated group of students can accomplish when they put their minds to a task. I love to play Badminton, Bowling, Baseball, Watching Movies, and hanging out with friends. I am a brownies lover and an ice cream freak. My best food of all time is “Mie Ayam Bakso” ever since I was in the middle school. My main aim in life is to extend my vision of the world, discover a new culture, learn to live with differences and dealing with new people.

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: