Program Pengabdian Masyarakat dan Safari Dakwah di Raja Ampat, Papua Barat

Liputan Raja Ampat – Bertempat di Pulau Misool dan Pulau Waigeo, Kab. Raja Ampat, Prov. Papua Barat, 4 mahasiswa Indonesia di Arab Saudi, yang terdiri dari Musthofal Fitri, Abdul Hamid Raharjo, Afif Fauzi dan Fathi Robbani berkesempatan ikut serta dalam program pengabdian masyarakat dan safari dakwah pada 30 Juni-17 Juli 2017. Program ini terlaksana atas kerjasama Tim Kajian Papua PPI Dunia dengan Markaz Inayah. Keempat mahasiswa dibagi menjadi 2 tim, Mustofal Fitri dan Abdul Hamid Raharjo ditugaskan di Pulau Misool sedangkan Afif Fauzi dan Fathi Robbani ditugaskan di Pulau Waigeo. Program ini bertujuan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar dengan harapan masyarakat setempat lebih maju dari segi potensi dan SDM nya.

Diantara kegiatan yang mereka lakukan adalah mengajar anak-anak al-Qur’an dan fikih serta mengadakan perlombaan, selain itu juga bersosialisasi dengan masyarakat setempat, ikut serta dalam kerja bakti membersihkan Masjid. Keempat peserta program ini mendapatkan kesan baik yang berbeda-beda.

“Terjun langsung ke kehidupan masyarakat, ikut merasakan kehidupan mereka sehari-harinya sambil berdakwah,” ujar Fathi yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Syari’ah Universitas Islam Madinah. “Betah sekali, paling indah yang pernah saya lihat, masyarakatnya baik sekali, sempat ingin menetap disana meskipun tidak ada sinyal dan listrik,” cerita Hamid yang berasal dari Gresik, Jawa Timur.

Masyarakat setempat juga mendukung kegiatan ini, bahkan meminta agar durasinya lebih lama. “Masyarakat sangat mendukung penuh, dan berharap program ini bisa diadakan setiap tahunnya. Bahkan jika memungkinkan ada yang menerap satu tahun fokus mengajar disana. Karena memang sangat minim pelajar” tutur Afif yang saat ini menyelesaikan studi di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah. Adapun diantara kendala seperti tidak adanya listrik di siang hari dan lainnya malah menjadi pengalaman unik yang mereka rasakan. “Tentunya mengajar anak-anak dari berbeda suku dan bahasa itu sesuatu banget, kita harus memahami mereka, dan paling berkesan meskipun listrik di siang hari tidak ada, dan kalau malam pakai genset sampai jam 12 malam lebih itu sesuatu rasanya mengingatkan kita kembali tentang hidup dulu di kampung sebelum masuk listrik,” ujar Musthofal.

Para peserta berharap jika kegiatan ini diadakan lagi, maka persiapan dan mental peserta harus lebih baik. “Agar para peserta program ini lebih mempersiapkan lebih matang dari segi materi dakwah dan juga mental, juga durasi yang diperpanjang agar lebih mengena dan efektif ke masyarakat,” pesan Fathi. “Ditambah lagi anggotanya karena banyak sekali tempat-tempat yang membutuhkan Pendidikan, serta di program yang akan datang semoga ada kegiatan pembagian sembako untuk masyarakat,” pesan Afif.

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: