RRI VOI 9 OKTOBER 2017: HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA

(Senin, 09/11) Siaran Radio Republik Indonesia, Voice of Indonesia (RRI VOI) pada tanggal 9 Oktober 2017 mengangkat tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober di setiap tahunnya. Demi menyelaraskan tema WHO yaitu Mental Health in Workplace kali ini RRI mengundang sobat PPI Dunia yang memiliki latar belakang berkaitan erat dengan dunia kesehatan jiwa untuk berbagi inspirasi dalam agenda Youth Forum dan Kami Yang Muda (KAMU). Pada Youth Forum yang menjadi narasumber kita adalah Kinan Tihany T., mahasiswi S1 double degree di departemen Psikologi, Universitas Indonesia dan University of Queensland Australia. Dan di KAMU, ada Elly R. Sipayung, mahasiswi S2 di Early Childhood Education Department, National Chiayi University Taiwan.

Sejak awal, meski di waktu siaran yang berbeda, mereka sepakat dengan anggapan bahwa kepedulian masyarakat di dunia terhadap kesehatan jiwa masih sangat minim, orang-orang lebih fokus pada kesehatan raga (tubuh). Padahal keseimbangan antara kesehatan jiwa dan raga merupakan hal yang sama-sama penting. Bahkan menurut Elly, yang mengaku memiliki background sebagai guru Taman Kanak-kanak selama 3 tahun sebelum ia melanjutkan studinya ke Taiwan, “Taraf keseriusan perhatian masyarakat Indonesia terhadap kesehatan jiwa cenderung rendah. Bahkan mereka menganggap urusan kejiwaan baru dianggap penting ketika telah membutuhkan bantuan psikiater atau penanganan lebih lanjut ke Rumah Sakit Jiwa. Padahal lebih dari itu, upaya preventif terhadap kesehatan jiwa perlu dilakukan sedini mungkin, yang dapat dimulai dari diri sendiri.”

Diaminkan oleh Kinan, yang akrab disapa Ken, “Mengapa sejak dini? Karena sejatinya setiap orang berpeluang dan berpotensi untuk mengalami gangguan kesehatan jiwa, yang secara dini dapat dideteksi dari perubahan kondisi mental, seperti mood-swing yang terlalu mendadak, dan juga perubahan kebiasaan sehari-hari.”

Jika ditinjau dari pernyataan mereka, maka dapat dikerucutkan bahwa ketika pola tingkah laku kita mulai berubah (tidak seperti biasanya), ataupun terdapat rutinitas aneh yang tiba-tiba muncul dalam kurun beberapa waktu terakhir, juga mungkin gejala suasana hati yang tiba-tiba berubah drastis, saat itulah kita harus segera introspeksi diri, “ada apa dengan diri kita?”

Fenomena kurangnya kesadaran terhadap kesehatan jiwa ini berkorelasi dengan survei WHO yang menyatakan bahwa terdapat 350 juta penderita depresi setiap tahunnya di seluruh dunia. Dan menurut Elly yang juga mengutip survei lain yang dilakukan oleh WHO, bahwa sepuluh dari masalah kesehatan utama yang kita alami sehari-hari dapat menyebabkan gangguan kesehatan, bahkan lima diantaranya adalah gangguan kesehatan jiwa. Contohnya seperti depresi, gangguan bipolar (kepribadian ganda), schizophrenia, serta obsesif-kompulsif.

“Menurut prediksi WHO, pada tahun 2020 gangguan kesehatan jiwa (khususnya depresi) akan menjadi urutan kedua dalam menyebabkan gangguan kesehatan serius,” imbuh Elly.

Lalu berkaitan dengan tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang dicanangkan oleh WHO pada tahun 2017 ini yaitu Mental Health in Workplace, Ken tak ingin ketinggalan dalam menyuguhkan opini. Menurutnya, “perusahaan-perusahaan, di manapun itu, sampai saat ini masih terlalu fokus terhadap produktifitas, efektifitas kerja, dan hasil yang ingin dicapai oleh mereka. Mereka masih sering mengabaikan apa yang dialami pekerjanya, khususnya untuk urusan kondisi mental. Ditambah lagi, orang-orang (khususnya di Indonesia) masih merasa tabu/malu untuk mengakui atau melihat ke dalam dirinya sendiri bahwa setiap orang berpotensi mengalami gangguan jiwa akibat pressure yang mereka alami dari tempat kerja.”

Paparan Ken yang berfokus pada kondisi perusahaan sebagai penyedia tempat kerja, sedikit berbeda dengan Elly. Menurut Elly, “kalau urusan kenyamanan jiwa di tempat kerja itu tergantung profesi yang digeluti, dan kalau penyedia kerja masih kurang aware dengan hal-hal apa yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan jiwa saat bekerja, ya kita sendiri saja yang memanajemen internal kejiwaan kita.”

Berikut beberapa tips memanajemen kejiwaan di lingkungan kerja ala Elly. Hal pertama yang harus dilakukan adalah: jangan sungkan untuk mengekspresikan cinta terhadap orang-orang di sekitar; lalu jadilah pribadi yang lebih terorganisir sehingga pola aktivitas dapat dipetakan dengan baik; terakhir, jangan selalu mengeluhkan kondisi eksternal, karena sejatinya manusia memiliki kemampuan untuk memanajemen internal kejiwaannya. Dan lagi, sebisa mungkin hindari segala macam obat-obatan untuk mengurangi stress, karena akan menimbulkan kecanduan.

Lalu ketika ditanya tentang apa saja yang telah dilakukan dalam membumikan Mental Health Awareness ke masyarakat, Ken menanggapi dengan langkah-langkah konkret yang bisa dibilang sederhana tapi berdampak besar, seperti melakukan street campaign di car free day, mengadakan seminar-seminar dan intens melakukan edukasi di manapun kepada siapapun yang membutuhkan informasi.

Sangat menarik memang ulasan dari dua narasumber tersebut, bahkan sampai di penghujung sesi pun mereka masih menyuguhkan hal-hal yang penting untuk disimak. Salah satunya adalah tentang “saya ingin meneruskan pesan Kementerian Kesehatan RI bertajuk Empat Seruan Nasional Stop Stigma dan Diskriminasi Terhadap ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa): 1)Jangan melakukan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan; 2)Jangan pernah melakukan penolakan terhadap ODGJ; 3)Mari senantiasa memberikan akses pelayanan terbaik terhadap semua masyarakat dalam hal kesehatan; 4)Kita harus selalu aktif melakukan kampanye untuk masalah-masalah kesehatan, terutama kesehatan jiwa. Dan terakhir, jangan lupa bahagia dalam menjalani pekerjaan apapun!” imbuh Elly.

“Oh iya, upaya mengedukasi masyarakat Indonesia terhadap kesehatan jiwa, atau mental health awareness sangatlah penting, bisa juga diawali oleh kampanye kreatif pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan RI. Bisa juga melalui program canangan presiden Joko Widodo: Revolusi Mental, yang harapannya dapat dimanfaatkan sebagai tools dalam memberikan sosialisasi untuk tidak mendiskredit para ODGJ di lingkungan masyarakat,” tutup Kinan.

 

Penulis:

Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha (Ozha) – Tim Penyiaran Radio, Kantor Komunikasi PPI Dunia 2017/2018

 

Editor: Fajar Riyantika

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

editor_fajar

(qG8VIYso5kL1OY!M1e8YVb4

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: