Sang Penggembala Mimpi

“Semangat Adalah Ruhnya Perjuangan”

– Mohd Enha (Penulis Buku Jalan Damai Kita)

 

Adalah sungai Bengawan Solo, saksi bisu perjalanan masa kecil saya di sebuah kampung terpencil bernama Tejoasri. Desa kecil yang terapung seperti layaknya pulau dengan dikelilingi sungai terpanjang di Jawa. Di kampung subur makmur inilah saya dilahirkan. Saya besar di lingkungan keluarga penuh kesederhanaan. Rumah berdinding kayu dan lantai telanjang tanpa ubin atau penutup lain, cukup beralaskan tanah bukan menjadikan alasan kami untuk tidak merasa bersyukur. Di sekeliling rumah adalah alam yang sejuk. Pohon asam jawa dan mangga gadung tumbuh rindang di depan rumah, bambu-bambu menjulang tinggi mencakar langit menaungi gubuk peninggalan kakek saya ini. Alam bebas telah  mengajari saya hidup penuh tantangan dan bagaimana cara survive di dalamnya. Karena masa kecil saya berbeda dengan anak-anak seusia saya yang lain. Masa anak-anak yang seharusnya sepulang sekolah bisa bermain bersama teman sepuasnya, tapi itu tidak dengan saya.

Sampai akhirnya menginjak kelas tiga Sekolah Dasar (SD) hidup saya sesungguhnya pun dimulai. Di sinilah saya mulai diajari bekerja. Diajak orang tua berladang, ke sawah, dan belajar bercocok tanam. Saya juga dibelikan sepasang kambing jantan dan betina untuk dirawat dan diternakkan di rumah. Kambing betina dengan bulu putih halus, sedangkan kambing jantan memiliki tanda bulatan warna hitam di kedua kaki depannya selalu menemani saya sepanjang hari. Setiap sore sepulang sekolah saya harus pergi mencari rumput ke ladang. Kecuali pada hari Minggu atau libur sekolah saya cukup menggembalakan di tanah lapang atau tegalan yang banyak rumputnya. Begitu seterusnya sampai akhirnya berkembang biak, dijual buat biaya hidup sehari-hari dan sampai saya bisa membeli sepeda motor dan dua ekor sapi.

 

Sibuk bekerja membantu kedua orang tua tidak mengganggu semangat belajar saya. Di kelas target harus tetap rangking satu. Dan itu saya wujudkan. Bahkan teman-teman SD mengenal saya termasuk orang yang bisa dibilang memiliki ambisi besar. Meski saya adalah anak yang terlahir dari keluarga bertaraf ekonomi menengah ke bawah dan menjadi penggembala kambing, tetapi saya harus memiliki segudang mimpi yang patut kiranya untuk saya perjuangkan. Bapak saya adalah seorang buruh tani, kadang juga bekerja serabutan menjadi kuli bangunan -itupun jika ada tawaran-. Kesehariannya lebih banyak mewakafkan diri menjadi marbot masjid. Sedangkan ibu saya berprofesi sebagai guru mengaji di surau yang berada ± 50 meter dari tempat tinggal saya. Dengan penghasilan per bulan yang tidak seberapa, jika dipakai membiayai pendidikan sampai ke jenjang lebih tinggi hitung-hitungan matematikanya tidaklah cukup.

Namun, hal demikian tidak pernah mematahkan semangat saya dalam menuntut ilmu. Kita lahir di dunia ini sebagai manusia dianugerahi otak yang luar biasa. Asal kita mau mengoptimalkan otak kita untuk mencari cara, semua persoalan yang kita hadapi pasti ada jalan keluarnya. Dan bukankah Tuhan telah berjanji akan mempermudah setiap hamba-Nya yang berniat menuntut ilmu. Karena keyakinan itulah selepas Sekolah Menengah Atas (SMA) saya menjadi penggembala mimpi. Mimpi bisa sekolah tinggi, mimpi menjadi penulis, mimpi kuliah di luar negeri, mimpi menjadi orang sukses, pengusaha, dosen, peneliti, guru besar, mimpi mempunyai yayasan, dan mimpi-mimpi lain yang telah tercatat di buku catatan mimpi saya. Akhirnya Tuhan membukakan jalan buat meraih mimpi-mimpi saya. Saya diberi kesempatan untuk mengenyam bangku kuliah di Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Beasiswa Bidikmisi melalui seleksi jalur SNMPTN Tulis.

Rupanya takdir masih berpihak pada saya. Selepas dinyatakan lulus (yudisium) sebagai Sarjana Sains (S. Si) Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, saya direkomendasikan oleh Dekan Fakultas untuk menjadi analis Laboratorium Mikrobiologi di salah satu perusahaan farmasi Pasuruan Jawa Timur. Dunia bekerja rupanya sangat jauh berbeda dengan dunia perkuliahan. Apalagi perusahaan besar menuntut kualitas kerja tinggi dan mampu bekerja dibawah tekanan. Namun hal demikian dapat kita asah ketika masih berstatus sebagai mahasiswa.

Sebagai mahasiswa yang menyandang “mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi” amatlah malu jika tidak berprestasi. Rasa syukur teramat dalam saat itulah saya manifestasikan dengan jalan di antaranya menggali ilmu semaksimal mungkin, mengembangkan bakat yang saya miliki melalui aktif di berbagai organisasi baik yang ada di kampus maupun di luar kampus, tentu tidak lupa tetap harus selalu mengedepankan dalam hal akademik. Lantas manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dengan turut berpartisipasi dalam event skala lokal, nasional maupun internasional. Serta mendedikasikan diri -andil dalam kegiatan pengembangan dan pengabdian masyarakat-. Karena hemat saya, sebagai mahasiswa tiada artinya jika hanya berkutat dengan buku dan penelitian. Kuliah tetap serius, tetapi harus diimbangi dengan belajar menjadi pemimpin di masyarakat melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ataupun Non Government Organisation (NGO).

Pengalaman merasakan tugas kuliah menumpuk, lembur tiap malam, rapat sana-sini, disibukkan dengan penelitian, menyambi kerja part time mulai dari menjadi tentor private hingga pelayan kafe, belum lagi berangkat mengikuti pendampingan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Semua itu saya lakukan sesungguhnya demi masa depan saya juga. Sehingga demikian itu termasuk bagian dari proses meraih cita-cita dan mimpi dalam hidup saya. Prinsip organisasi oke, akademik juga oke haruslah selalu dipegang. So, sebagai mahasiswa penerima beasiswa boleh aktif organisasi di mana-mana, tetapi IPK wajib cumlaude. Caranya mudah saja, cukup belajar yang rajin, teguh pada komitmen, pintar-pintar bagi waktu, tidak boleh mengeluh, kerjakan setiap pekerjaan dengan sungguh-sungguh, dan berdoa meminta yang terbaik. Apapun itu, jika prosesnya maksimal pasti akan menuai hasil yang setara dengan perjuangannya. Karena pepatah mengatakan bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses, itu faktanya memang benar.

Kesimpulannya “jika kita ingin sukses, maka berusahalah lebih dari sekadar pada umumnya dan berdoalah lebih dari standarnya.” Begitu kiranya hukum timbal balik berlaku. Sebagai mahasiswa, jangan sekali-kali merasa minder dan percayalah bahwa setiap orang mampu melakukan suatu hal asal ada kemauan. Maka, saya tidak ingin menjadi orang biasa-biasa saja. Mari bersama-sama memberikan kontribusi pada bangsa ini sebagai balas budi.

Lalu bagaimana jika kita belum merasa layak? Tetaplah berjuang dan buat rekam jejak yang baik untuk mencapai impian setinggi-tingginya. Aktif di organisasi, berkarya, mandiri usaha dan bekerja serta mengabdi di tengah-tengah masyarakat pasti banyak ilmu yang didapatkan, minimal tentang manajemen waktu. Namun, menurut saya tidak cukup itu saja yang nantinya bisa kita berikan kepada bangsa dan negara ini. Akhirnya saya memutuskan bekerja hanya tujuh bulan lamanya. Saya mengajukan surat resign karena ingin mengikuti seleksi beasiswa S2 program Magister Nanosains di King Mongkut’s University of Technology Thonbury (KMUTT) Bangkok, Thailand.

Saya pun percaya, sebagai lulusan mahasiswa UIN Malang pasti tidak hanya mampu bersaing di kandang saja, akan tetapi di luar kandang tentu juga bisa. Di sini saya memberanikan gambling, meninggalkan jabatan pekerjaan demi ikut seleksi beasiswa S2. Semua pilihan pasti ada resikonya. Bismillah dan di-fatehahi saja. Setelah ikhtiar, serahkan segala urusan kepada Allah. Percayakan Dia pasti menolong setiap urusan hamba-Nya. Rupanya lagi-lagi Tuhan menunjukkan kebesaran Kun Fayakun-Nya. Ternyata saya dinyatakan lolos saat pengumuman seleksi administrasi dan interview via Skype.

Di sinilah saya bisa bertemu dengan orang-orang hebat, yang kini telah memberikan inspirasi dan motivasi besar pada diri saya. Begitupun juga, hal itu memberikan timbal balik positif sehingga mengentas ambisi saya untuk menjadi orang besar, dan yang paling penting adalah nantinya bisa bermanfaat bagi orang lain. Sehingga tiada kata selain ucapan rasa syukur yang tiada hentinya kepada Tuhan Sang pemilik kehidupan ini, karena telah memberikan saya kesempatan luar biasa. Yaitu lolos beasiswa di salah satu Universitas terbaik Thailand.

Hal semacam ini terkadang juga sulit untuk saya pikirkan. Meskipun saya hanyalah anak dari desa, sejak kecil hidup di bantaran sungai kini bisa melanjutkan kuliah di luar negeri dan gratis pula. Semua berkat doa dari kedua orang tua saya yang merupakan aset terbesar dalam hidup saya. Serta doa guru-guru yang pernah mengajar dan mendidik saya. Mereka-mereka jugalah yang selalu memberi semangat mengenai pentingnya belajar dan kewajiban menuntut ilmu. Sehingga hal itu bisa mengantarkan saya mengenyam pendidikan dalam kasta tertinggi.  Saya pun duduk sederajat dengan anak-anak seorang pengusaha, pejabat pemerintah, dan anak orang-orang besar dari berbagai negara. Saya berada di lingkungan intelektual, sebuah lingkungan yang saya harapkan dapat membentuk karakter dan potensi diri saya. Mampu menempa saya menjadi pemimpin masa depan bangsa. Pulang menjadi orang yang bermanfaat bagi negara.

Kisah singkat ini hanyalah sebagian contoh dari banyak contoh lain yang lebih menginspirasi tentunya. Tapi pesan saya cukup satu. Bermimpilah setinggi-tinginya dan sudah tidak ada alasan lagi untuk mengurungkan niat tidak kuliah gara-gara terkendala biaya. Jika niat dan tekad sudah bulat disertai doa dan usaha yang kuat, maka akan mampu mendorong dan mendobrak setiap rintangan yang ada. Yakinlah kalian juga pasti bisa bahkan mungkin di atas dari apa yang saya dapatkan sekarang ini. Tetaplah bersemangat, karena semangat adalah ruhnya perjuangan. This struggle is not ending yet. Khob khun na krap!

Biografi singkat penulis:

penulis

Muhammad Nur Hasan adalah mahasiswa S2 Jurusan Nanoscience & Nanotechnology King Mongkut’s Uiniversity of Technology Thonburi, Thailand. Lahir di Desa Tejoasri Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan pada tanggal 26 Desember 1992. Selama kuliah, alumni S1 Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang ini aktif berkecimpung di berbagai organisasi kampus dan luar kampus. Sekarang ia terdaftar di pengurus Persatuan Mahasiswa Indonesia di Thailand (PERMITHA) dan Moslem Student Association in KMUTT. Penulis bisa dihubungi via email: hassan.em.noer@gmail.com, +6285645959842 (WA), Facebook: Muhammad N. Hassan, Twitter: @mas_hassan, Line: @hassanemnoer, dan Instagram: @m_enha.

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

One thought on “Sang Penggembala Mimpi

Leave a Reply

%d bloggers like this: