Saya, Ayurveda Shishya di India

“Aayuhu kaamayamaanena dharmaarthasukhasaadhanam I Aayurvedopadeseshu vidhyeyaha paramaadaraha II” (Astanga Hrudaya Samhita, Sutrasthana 1:2)

Manusia yang mendambakan aayu (hidup sehat dan umur panjang) yang merupakan instrumen untuk mencapai dharma (kebaikan), artha (kesejahteraan), dan sukha (kebahagiaan) sebaiknya meletakkan kepercayaan penuhnya kepada Aayurveda dan melaksanakan ajarannya.

Di sinilah saya, di India, menempuh pendidikan ilmu kesehatan India yang bernama Aayurveda (selanjutnya akan ditulis dengan Ayurveda, untuk mempermudah penulisan)

Bachelor of Ayurvedic Medicine and Surgery, atau lebih dikenal masyarakat luas dengan nama B.A.M.S. Masih terasa asing di telinga? Yuk kita kupas lebih lanjut tentang jurusan kuliah yang menggabungkan ilmu kuno dan modern ini.

Apa Ayurveda itu? Ayurveda terdiri dari dua kata, aayu dan veda. Aayu atau hidup, dan veda yang berarti pengetahuan. Ayurveda, pengetahuan tentang hidup, merupakan sistem kesehatan suci dan tradisional yang berasal dari India yang sekarang sudah mengglobal dan dimodernisasi sesuai perkembangan zaman. Kalau membahas sejarahnya, Ayurveda dimulai dari periode Dewa Brahma sang pencipta dunia, rasanya terlalu panjang dan membingungkan untuk dipahami. Jadi sebaiknya subjeknya saja yang dibahas ya.

Kembali ke B.A.M.S, undergraduate degree yang akan didapat setelah menempuh dan lulus 5,5 tahun masa kuliah. Lama banget, cuma S1 saja lebih dari 5 tahun? Iya!

Kurikulum dan silabusnya dibuat sesuai dengan materi dasar Ayurveda dan kedokteran modern, di bawah naungan Central Council of Indian Medicine, Ministry of Ayush, Govt. of India.

Ooh jadi B.A.M.S ini kedokteran? Betul, kedokteran Ayurveda. Gelar yang didapat setelah lulus dokter kok, bukan tabib atau ahli pengobatan tradisional maupun pengobatan alternatif. Dan juga bukan dukun. Tolong dicatat itu ki sanak.

Apa bedanya dengan kedokteran umum? Banyak, kita kupas satu-satu ya dan teman-teman B.M.B.S (Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery) boleh kasih masukan soal persamaan dan perbedaannya juga loh.

Salah satu halaman yang memuat penjelasan tentang Ayurveda.
Salah satu halaman yang memuat penjelasan tentang Ayurveda.

Ayurveda punya Astanga Ayurveda, 8 cabang dari ilmu Ayurveda. Apa saja?

“ Kaayabaalagrahodhvaangashalyadamstraajaraavrushan I Astangaani tasyaahucikitsaa yeshu samsritaa II” (Astanga Hrudaya Samhita, Sutrasthana 1:5)

  1. Kaayacikitsa, pengobatan penyakit yang bersumber dari masalah pencernaan, atau Inner Medicine di modern.
  2. Baala cikitsa, Pediatrics, kesehatan anak.
  3. Graha cikitsa, pengobatan penyakit yang bersumber dari kekuatan jahat yang di luar nalar, mikro organisme dan lebih menekankan pada gangguan mental (Psychiatry)
  4. Urdvanga cikitsa, penyakit di kepala, termasuk mata (Ophtalmology), telinga (Otology), hidung (Rhinology), Throat (Larynology) dan gigi (Dentistry)
  5. Salya Cikitsa, atau Sastra cikitsa, pengobatan yang membutuhkan pisau atau alat tajam lainnya (Surgery)
  6. Damstra cikitsa, pengobatan terhadap penyakit yang disebabkan oleh racun (Toxicology)
  7. Jara cikitsa atau Rasayana cikitsa, pengobatan terhadap penyakit di usia lanjut (Geriatrics)
  8. Vrsha cikitsa, menekankan pada permasalahan seksual, bukan hanya impotensi, kemandulan tapi juga peningkatan kemampuan seksual

 

Pengajaran dalam kelas dilakukan dengan bahasa Inggris, tapi kita dituntut untuk bisa baca tulis dan paham bahasa Sansekerta, karena sebagian besar Samhita atau buku teksnya ditulis dengan huruf tersebut. Meskipun ada terjemahannya dalam bahasa Inggris, Hindi ataupun bahasa daerah di India, tapi kadang artinya bisa berbeda.

Kurikulum dan silabusnya dibagi ke dalam lima tingkatan dan durasinya berbeda-beda,

  1. 1st Year Prof. B.A.M.S selama 1 tahun
  2. 2nd Year Prof. B.A.M.S selama 1 tahun
  3. 3rd Year Prof. B.A.M.S selama 1 tahun
  4. 4th Year Prof. A.M.S selama 1, 5 tahun
  5. Internship selama 1 tahun

Yang unik di sini dan membedakan B.A.M.S dengan jurusan lainnya, meskipun sama-sama di bidang kesehatan adalah penggunaan bahasa Sansekerta di pengajarannya, juga sebagian besar pengajaran mengikuti metode guru shishya parampara. Di mana ilmu pengetahuannya diberikan dari sang guru kepada shishya muridnya, melalui hubungan yang didasarkan keikhlasan dan kesungguh-sungguhan guru juga rasa hormat, tanggung jawab, ketaatan dan kepatuhan sang murid. Loh kok tulisan gurunya dicetak miring? Kan bahasa Sansekerta, guru di sini artinya bukan hanya teacher, tapi juga pembimbing, orang yang ahli juga konselor. Mirip-mirip ya bahasa Indonesia sama Sansekerta, lumayan beberapa ada yang mirip. Jadi gampang dong belajarnya? Gak juga hehe.

Yang unik lagi dari penggunaan bahasa Sansekerta di kelas adalah shloka, in hate and love relationship deh saya sama shloka ini. Shloka apaan sih? Silahkan scroll ke atas di bagian pembukaan dan bagian Astanga Ayurveda, itulah shloka. Kalau dilihat arti katanya sih shloka artinya lagu, tapi di sini bisa diartikan sebagai syair dari kitab alias ayat. Dan inilah yang membedakan buku teks Ayurveda dengan buku teks kedokteran modern pada umumnya. Semua ayatnya ditulis dalam huruf Sansekerta, tentu saja karena zaman dahulu belum ada tulisan alphabet ya. Yaiyalah, wong Ashtanga Hrudaya Samhita aja ditulis oleh Vagbhata sekitar 7th century (AD 500).

Kenapa in hate and love relationship dengan shloka? Karena sebagai produk sekolah Indonesia dari TK sampai S1 saya susah sekali menghapal sementara di sini, semua shloka yang penting harus dihafalkan karena mempermudah pemahaman juga mendapat nilai waktu ujian. Gimana mau menghafal, kenal huruf Sansekerta saja waktu 1st Prof. membaca saja saya sulit bagaimana saya mau menghafal? Apalagi kalau shloka-nya lebih dari 10 baris? Di situ saya merasa sedih (Eh masih umum gak sih kalimat ini?)

Tapi jangan khawatir, seperti kata peribahasa “Alah bisa karena biasa” kadang saya jadi cinta sama si shloka, hehe. Lah kok kadang? Ya kalau shlokanya pendek dan nggak bikin bingung. Puitis sekali loh kata-katanya, kadang jadi inspirasi untuk nulis status di Facebook atau kirim pesan di WhatsApp. Gak percaya? Coba cek shloka berikut ini

“ Pushpam yathaa purvarupam phalamsyeha bhavisyataha I Tathaa linggamarishtaakhyam purvarupam maristhaha II” (Caraka Samhita, Indriyashthana 2:3)

Yang artinya, bagaikan kembang yang menjadi pertanda buah akan datang, begitu pula bau yang khas menjadi pertanda kematian akan tiba. Puitis ya, padahal membahas soal pertanda kematian, hehe.

Hmm, sebenarnya masih pengen nulis lebih banyak lagi soal Ayurveda, terutama kurikulum silabus dan keseruannya. Tapi sudah terlalu panjang, shloka saya juga sudah panggil-panggil. Kayanya lebih baik dibuat seri saja ya, biar saya ada alasan buat nulis lagi, kalau boleh sih. Tenang saja, serinya gak sepanjang serial Uttaran di stasiun televisi lokal Indonesia yang meskipun udah tamat tapi ternyata dibuat lagi sekuelnya.

Semoga berkenan dengan tulisan saya, terima kasih sudah mau baca, dapat salam sayang dari 11 baris shloka.

(AM/F)

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

2 thoughts on “Saya, Ayurveda Shishya di India

Leave a Reply

%d bloggers like this: